Laman

10 Feb 2014

Thank you Vi!

Dear Vi,

Aku galau. Itu istilah yang sedang nge-tren untuk menggambarkan suasana hati yang menjadi resah gelisah karena sesuatu hal. Sekarang aku merasakan itu. Justru di saat-saat terakhir ketika harus melepasmu, aku jadi semakin galau. Tak rela.

Maafkan aku, Vi, yang sering tak peduli padamu. Meninggalkanmu berjam-jam saat aku sibuk dengan urusanku sendiri. Walau aku sering membuatmu menunggu sendirian, tapi aku sayang kamu. Entah apa jadinya aku tanpa kamu. 

Terima kasih, Vi, karena sudah bersamaku selama 4 tahun terakhir. Terima kasih sudah selalu menemaniku tanpa rewel. Terima kasih sudah menjadi pahlawan tanpa tanda jasaku. Tak percuma kutempelkan namaku pada surat identitasmu.

Kudoakan kau bahagia, Vi, dengan jodohmu yang baru.

Last kiss to my dearest car..
aku.

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta hari ke-10

7 Feb 2014

Hi IT Guy..

Dear kamu,
 
Ya, kamu yang katanya IT guy paling cool seantero perusahaan. Itu sih hanya katanya. Buatku, kamu menyebalkan. Sombong luar biasa.
 
Kenapa? Kamu mau tahu kenapa? Karena waktu aku masih jadi anak baru, kamu sama sekali tidak ramah denganku. Jangankan membalas email, kalau kutelepon pasti jawabanmu hanya sekedar 'Hmm..' atau 'Dicek dulu deh!' Bagaimana aku tidak kesal kalau jawabanmu hanya sekenanya. Tidak bisa diajak kerjasama. Kamu pikir aku sebegitu bodohnya sampai tidak pantas kau ajak bertukar pikiran? Huh!
 
Tapi, katanya lagi, benci itu kan tanda cinta, ya?
 
Sungguh aku tidak ingin termakan kata-kata basi macam itu. Sayang, sepertinya aku kena karma.
 
Seiring berjalannya waktu, kita mulai mengenal satu sama lain. Mulai dari training bersama, sampai akhirnya menjadi satu tim 'impossible project'. Jadi, mau atau tidak, kita jadi dekat. Kompak! Kita jadi sering berdiskusi dan saling melengkapi satu sama lain.
 
Tahukah kamu?
 
Aku jadi cinta kamu. Kamu adalah IT guy pujaan hati yang bisa membuat segala sesuatu yang impossible menjadi possible.
 
I adore you so much, hey, my IT guy  ^^
 
Regards,
aku.
 
#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari Ke-7
 
 
 

4 Feb 2014

Kepada @mbakdos

Dear @mbakdos,
 
Saya sudah lama mengikuti kicauanmu di twitter. Sejak kapan tepatnya, entah, saya lupa. 
 
Saya menikmati semua kicauanmu. Mulai dari yang serius sampai lucu-lucuan yang membuat saya tersenyum-senyum seperti 'balada ibu'. Saya juga suka ikut-ikutan mengisi survey yang walaupun saya tidak tahu hasil akhirnya, tetap saja saya ikuti :p
 
Darimana saya tahu mbakdos? Hahaa..lucunya saya juga lupa darimana. Yang pasti saya lebih dahulu mengagumi tulisan-tulisan di blognya. Gaya penulisannya mengalir dan mudah dimengerti, tetapi membuat siapa pun pembacanya ikut berpikir mengenai makna dibalik tulisannya. Sempat juga saya membaca artikel tentang mbakdos di salah satu majalah. Lalu berandai-andai bagaimana rasanya punya dosen atau pembimbing skripsi seperti mbakdos. Ah, saya jadi mirip stalker. Maafkan.
 
Melalui surat ini, saya ingin memberikan apresiasi kepada mbakdos. Semoga mbakdos tidak pernah bosan sharing apa pun di blog maupun akun twitternya. Walaupun saya tergolong follower pasif, tetapi saya tidak pernah alpa mengikuti.
 
Salam dari followermu ^^
@motskee

3 Feb 2014

Termakan Cuaca

Dear Pink Shoes,

Kamu akhirnya menyerah.
Lapuk di tengah hantaman cuaca ekstrim.
Diterpa panas terik.
Lalu sebentar kemudian hujan badai.
Memudarkan warna cerahmu.
Melemahkan kekuatan solmu.

Aku sudah mengusahakan sebisaku.
Menjahitmu. Merekatkanmu.
Tapi kamu berkeras tak mau bertahan.
Hanya 200 hari kamu menemaniku.
Mengantarku ke setiap aktivitas.

Wahai pink shoes..
Aku patah hati.

-motskee-

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari ke-3

sent from @motskee BlackBerry®

2 Feb 2014

Terbang Lebih Tinggi

Dear Iben,

Apa kabar? Kudengar. Oops..maaf, kulihat dari profil Linkedin-mu sekarang kau tidak lagi bermukim di Indonesia. Kau baru saja dipromosikan dan kini mungkin kau sedang menikmati indahnya kota Paris. Kota yang katanya eksotis. Hei, aku belum pernah kesana, jadi mana kutahu seberapa mengagumkannya kota itu.

Suatu waktu di masa lampau, aku meminta tanda tanganmu karena kau ternyata teman main salah satu mbak kosku. Ya, entah kenapa aku terjebak menjalani ospek bodoh di tempat kosku. Tapi tak apa, disitulah aku pertama mengenalmu, yang ternyata senior satu jurusan. Cara perkenalan kita sebenarnya memalukan dan membuatku tampak bodoh, jadi mari kita lupakan saja.

Sempat aku berharap kau akan menjadi salah satu asisten dosenku. Sayang, tak pernah kesampaian. Hingga suatu ketika, tanpa sengaja, kita berdua sama-sama terlibat dalam kepanitiaan salah satu acara seni di jurusan. Lalu dimulailah keakraban itu. Kita jadi sering bertukar cerita. Koreksi. Berdebat lebih tepatnya. Sejak itu aku tahu, kau seorang yang cerdas dan visioner. Walaupun seringkali sikap temperamentalmu membuat orang takut mendekat, tapi aku yakin, kau akan menjadi pemimpin yang kuat dan penuh ide kreatif. Lihat sekarang, ramalanku tidak pernah salah.

Sesudah kau lulus, aku kehilangan jejakmu. Tapi hidup akrab dengan kebetulan. Aku sudah sepenuhnya lupa padamu ketika kita kebetulan bertemu lagi. Kembali akrab walau hanya sesaat. Kau selalu terbang lebih tinggi dengan cepat sampai langkahku tak mampu mengimbangi.

Tanpa kusadari, kau adalah panutanku. Kau yang mengajariku definisi mimpi. Kau juga yang mengajariku caranya menikmati hidup. Menikmati pertandingan basket antar jurusan, aktif di berbagai kepanitian, siaran di radio kampus hingga dini hari, hanyalah sarana yang mempertemukan kau dan aku. Tanpa kausadari, aku selalu berusaha mencari kabar keberadaanmu dan sepak terjangmu.

Kini, aku berkantor di gedung yang pernah memberikanmu beasiswa master. Nama gedung yang terkenal sekaligus tempatmu mencatatkan ide-ide kreatifmu.

Seandainya masih ada kesempatan, aku ingin sekali lagi bertemu denganmu. Dan sekali ini, aku ingin kau benar-benar menjadi mentorku. Karena aku masih ingin terbang lebih tinggi.

Seandainya..

-motskee-

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari ke-2

1 Feb 2014

Dear Angel

Dear Angel,

Ini adalah surat pertamaku untukmu. Ketika aku akhirnya memilih melayangkan surat ini, sungguh aku sedang rindu. Ada banyak momen yang telah kita lewati bersama selama hampir tiga tahun. Kata orang, seiring berjalannya waktu memori itu terkikis. Aku tidak mampu merekam semua momen kita, tetapi aku berharap memorinya tidak lekang oleh waktu.

Aku masih ingat, ketika kamu pertama kali datang. Dalam hati aku membatin, anak ini cantik dan supel, khas orang-orang yang berkecimpung di dunia Marketing Communication. Sementara aku, hanya seorang Analyst yang setiap hari disibukkan dengan ribuan data dan angka di spreadsheet. Kamu seringkali sibuk bernegosiasi dengan banyak orang, sementara aku adalah orang yang hanya berbicara seperlunya. Aku cenderung serius, kamu cenderung santai. Karakter pekerjaan yang bagai bumi dan langit membuatku skeptis bahwa kita bisa menjadi teman dekat.

Kalau beda karakter pekerjaan belum cukup, aku masih punya segudang perbedaan antara kita. Kita mulai dari perbedaan etnis. Kalau kamu merayakan Imlek, aku dibesarkan dengan budaya Jawa yang amat kental. Di saat aku merayakan Lebaran, kamu merayakan Natal. Kita tidak pernah punya almamater yang sama. Tidak juga berasal dari jurusan pendidikan yang sama. Aku hobi membaca novel, sementara kamu jarang sekali menyentuh buku. Di saat aku bersemangat mengotak-atik gadget, kamu hanya menganggapnya sebagai sekedar barang untuk digunakan. Bahkan, setelah aku ingat-ingat, kita pun lahir di tahun yang berbeda, usiamu lebih muda daripada aku.

Tapi kenyataan kadang berbeda dengan logika. Kamu yang kupikir tidak mungkin menjadi teman dekat, ternyata menjadi sahabatku di kantor. Tetangga kubikel yang lebih dari sekedar menyenangkan. Orang yang membuatku bersemangat pergi ke kantor setiap pagi. Tempatku berbagi cerita tanpa batas. Mungkin tidak semua ceritaku bisa kau mengerti, tapi tetap saja aku membaginya denganmu. Kamu juga orang pertama yang akan memelukku dengan tulus ketika aku bersedih dan menangis. Saling menyemangati saat beban pekerjaan membuat kita jenuh.

Sayang, jalan yang kita pilih tidak bisa selalu sama. Sekarang, kita sudah berpisah. Aku tidak lagi ada di sisimu secara fisik. Tapi, aku janji, kamu selalu punya tempat istimewa di hatiku. Walau aku tidak selalu menyapamu di social media atau menanyakan kabarmu melalui telepon pintar, aku selalu mengingatmu. Seperti hari ini. Melalui surat ini. I LOVE YOU.

With Love,
motskee

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari ke-1