Laman

21 Feb 2016

Maafkan

Ya Allah Yang Maha Baik,

Maafkanlah hamba. Maafkanlah hamba yang pernah menyakiti hambaMu yang lain. Maafkan hamba yang telah menyakiti dia yang pernah sangat baik. Maafkan hamba yang pernah marah pada dia yang kau kirimkan pada hamba.

Hamba hanyalah manusia tak sempurna yang egois. Sarat dengan nafsu akibat bisikan setan. Yang mudah marah tanpa mampu berpikir panjang. Ampuni hamba Ya Allah Ya Rabb..

Di masa lalu, pernah hamba memenangkan rasa emosional dan meluapkan amarah pada dia. Dia yang juga pernah khilaf dan melakukan perbuatan yang kau laknat. Dia yang ternyata memiliki anak dari wanita lain tanpa ada ikatan, bahkan sampai kini.

Kumohon Ya Allah, ampuni hamba dan dia yang pernah melakukan kesalahan. Engkau Maha Pengampun Ya Allah..beri kami kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri. Berikanlah hamba kelapangan hati untuk menerima segala kesalahannya di masa lalu. Berikanlah hamba kesempatan sekali lagi untuk menjadi lebih baik.

Ya Allah, mudahkanlah jalan hamba. Hamba percaya bahwa segala cobaan yang hamba hadapi semata-mata agar hamba selalu dekat denganMu. Bimbing hamba ya Allah..

Hamba yang selalu merindu(Mu)..

-Lana-

17 Feb 2016

Kehilangan



Hai D,

Langit cerah sekali sore ini. Aku sungguh beruntung masih bisa menikmati semburat jingga Sang Surya yang bersiap sembunyi ke peraduannya. Mataku lekat mengamati sekitar. Melenakan diri sebelum kutinggalkan. Derap kehidupan yang seringkali terabaikan, seolah tak ada, padahal nyata ada di sekeliling kita.

Aku tersenyum pada pak satpam yang menyapaku dengan raut keheranan. Mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku bisa pulang sesore ini. Sampai di gerbang kantor, kulihat banyak orang berkerumun, mengantri membeli jajanan di sore hari, mulai dari tukang bakpau, nasi goreng, bakso, siomay sampai kue cubit. Kuputuskan ikut mengantri siomay, mana tahu nanti aku lupa rasanya.

Perjalananku belum berhenti. Naik ke jembatan penyeberangan Transjakarta, lebih banyak lagi penjaja kaki lima yang mencari nafkah. Ada pengamen yang vibrato suaranya menggelegar macam penyanyi seriosa, tukang jual tanaman, tukang jual gelang sampai bapak penjual harum manis. Aku berhenti lagi, D. Kali ini aku tertarik membeli gelang seharga lima ribuan. Bayangkan, D, sebuah gelang seharga lima ribuan mungkin tidak berarti untukku, tapi buat penjualnya, itulah harga sesuap nasinya.

Sesuatu itu baru terasa berharga setelah kita kehilangannya.

Aku trenyuh. Aku baru sadar sekarang, D. Ada banyak orang dan momen dalam hidup yang kita abaikan dan lewatkan begitu saja hanya karena kita merasa keberadaannya kurang memberi arti signifikan. Sama seperti kamu, D. Aku baru paham sekarang betapa berartinya kamu buatku. Dulu, kamu selalu ada di sampingku, tapi sering tidak kuacuhkan. Lalu begitu kamu tak ada lagi di sampingku, barulah aku merasa ada yang ganjil.

Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh. (Leila S. Chudori, Pulang)

Mungkin ini petunjuk untukku, D. Petunjuk supaya aku tak menyesal lagi untuk kesekian kalinya. Aku belajar lebih memaknai keberadaan orang dan momen yang ada di sekelilingku. Sore ini, aku belajar menghargai dan mensyukuri setiap waktu dan memori dari pemandangan pulang kantor di kawasan bergensi Sudirman. Agar disaat aku harus pergi menujumu, tak ada sesal yang tertinggal.

Kumohon padamu, D. Beri aku waktu sedikit lagi untuk mempersiapkan diri menujumu. Jangan buat aku menyesal sampai akhir hayat, D.

Aku masih selalu merindumu.

-Lana-

15 Feb 2016

Rasa



Dear D,

Sudah lebih dari seminggu aku tidak menulis surat padamu. Apakah ada rindu yang terselip disana? Apakah ada tanya di benakmu mengapa aku tak menulis lagi untukmu? Kalau kau pikir aku lelah dan menyerah, kau salah. Cintaku masih sekuat benteng yang terbuat dari batu cryptonite milik Superman.

Aku keluar kota kemarin. Aku perlu menenangkan diri sejenak dan jadilah aku menyingkir ke daerah yang sepi. Entahlah itu namanya sepi atau belum maju, karena resort yang kupilih hanya bisa diakses naik perahu. Itu pun setelah 3 jam perjalanan dari bandara. Belum ada listrik, jadi harus pakai generator untuk membuat penerangan sederhana. Kalau listrik saja belum ada, tidak heran juga kalau disana tidak ada sinyal bukan?

Tapi dengan begitu, aku jadi punya waktu untuk berkaca. Memutar balik semua hal yang pernah terjadi di hidupku, serta merangkai rencana apa yang akan kulakukan besok. Lalu aku sampai pada ujungnya, bahwa aku akan mencoba sekali lagi memperjuangkanmu. Semoga aku tidak terlambat, D. Aku mendadak ketakutan, D. Aku tahu pasti, rasa hati bisa berubah seiring waktu. Jadi, kumohon, D, jagalah rasamu sampai aku menujumu.

Tuhan Maha Baik. Dia langsung mendengar doaku. Tebak aku bertemu siapa? Aku ketemu sepupumu, Matthew, di Changi. Kami sama-sama sedang menunggu connecting flight. Kami bercerita banyak sampai akhirnya topik tentangmu muncul juga. Niat baik biasanya selalu direstui Tuhan, D. Matthew memberiku hint di belahan dunia mana kamu tinggal. Jangan marahi dia ya, D. Itu semua karena aku memaksanya dan dia tidak tega.

Jadi, tunggu aku, D.

Aku masih merindumu.

-Lana-

5 Feb 2016

Mimpi

Dear D,

Hari ini satu lagi mimpiku terwujud. Ya, mimpiku untuk bisa bekerja di gedung paling bergengsi di kawasan bisnis Sudirman, The Clover. Kantor pusatku pindah kemari.

"Apakah kamu percaya mimpi akan menjadi kenyataan?"

Kujawab, "Ya!"

"Kenapa? Bukankah mimpi hanya bunga tidur?" tanyamu lagi.

Aku tersenyum, lalu menjawab lugas, "Kalau mimpi pada saat tidur, aku tidak pernah ingat apa-apa. Tapi mimpi pada saat aku melamun, tentu saja kuingat jelas. Mimpi saat aku melamun sebenarnya berisi angan-angan. Kamu mau tahu, dulu aku pernah bermimpi kalau setelah lulus kuliah, aku akan jadi eksekutif muda yang bekerja di gedung bertingkat dan setiap hari menyetir mobil sendiri. Mimpiku jadi kenyataan. Jadi, ya, aku percaya mimpi. Karena buatku, mimpi adalah harapan. Selama aku masih mampu, tanpa sadar aku pasti akan berusaha meraih mimpi itu." Reaksimu hanya mengangguk-angguk. Tidak setuju, tapi juga tidak mendebat. Tidak seperti kamu yang biasa.

Apa kamu mau tahu, D? Kini, hampir semua mimpiku itu jadi kenyataan. Waktunya memang tidak bisa kuhitung. Ada yang cepat terwujud, ada yang perlu waktu bertahun-tahun.

Hanya ada satu mimpiku yang belum terwujud, D. Hanya satu. Aku selalu bermimpi kita bisa hidup bersama sampai Tuhan memutus napas hidup kita di bumi ini. Mimpiku itu hampir terwujud, D, ketika kita tunangan dua tahun lalu. Kini..entahlah.

Aku tidak mau berhenti bermimpi, D. Aku tidak akan berhenti bermimpi tentang kita. Tidak peduli perlu waktu berapa lama, aku akan tetap berusaha mewujudkannya. Dimulai dari mulai mencari tahu keberadaanmu. Aku akan mulai mencarimu, karena..

Aku masih merindumu.

-Lana-

4 Feb 2016

Gincu



Hai D,

I’m using red lipstick today. Seperti yang kubilang dahulu, pakai gincu warna merah itu membawa keberuntungan buatku. Buktinya project-ku terpilih sebagai yang terbaik di Asia dan bagian project management-nya akan dijadikan percontohan di seluruh cabang.

Put on some red lipstick and live a little.

Itu mottoku yang selalu kau komentari dengan penjelasan ilmiah ala D. Kamu bilang warna merah itu artinya berani, jadi secara tidak langsung memberikan semangat lebih, makanya aku jadi lebih percaya diri dan akhirnya sukses. Terserahmu saja, D. Buatku, gincu merah berarti aku menjadi center of attention, dan aku suka itu.

Lalu semua perdebatan panjang kita kuputar ulang dari tempat penyimpanan bernama memori. Kamu tidak pernah suka aku pakai gincu berwarna mencolok, apalagi dipadukan dengan rok ketat selutut dan kemeja warna pastel. Katamu dandananku itu akan membuatku menjadi pusat perhatian. Kamu tidak suka. Tapi aku suka.

Apa kamu tahu, D? Sekarang pun aku masih berpenampilan seperti itu. Bedanya, kadang aku merasa gerah menjadi pusat perhatian, terutama pria hidung belang. Tidak ada lagi pria ganteng berwajah setengah bule dengan postur tinggi yang akan cemberut dan cenderung menyembunyikanku di belakangnya, menggenggam tanganku erat dan menarikku berjalan lebih cepat. Kadang aku sampai tersandung karena memahai high heels.

Beauty isn’t about having a pretty face. It’s about having a pretty mind, a pretty heart and a pretty soul.

Itu mottomu, D. Kamu bilang jatuh cinta padaku bukan hanya karena wajah dan penampilan, tetapi karena pola pikirku yang sistematis dan sifatku yang suka berkompetisi. Kamu bilang aku mampu mengimbangi sifatmu yang idealis. Kamu juga bilang kalau aku sebenarnya baik hati walau punya karakter tegas. Ahh..aku kangen kamu, D.

Aku masih merindumu.

-Lana-

3 Feb 2016

Sesal



Dear D,

Hari ini aku lelah sekali
Entah kenapa semua masalah menggerogoti
Membuatku ingin lari
Dimana pun kau rasanya ingin kuikuti.

Semua orang bertanya padaku
Seolah kubisa menjawab segala galau
Apa aku sekompeten itu?
Kalau aku sehebat itu,
kenapa aku tidak bisa menahan amarah dulu?

Apa kau tahu, D?
Sesal selalu datang belakangan
Itu yang kurasa sekarang
Aku ingin kamu.

Aku masih merindumu.

-Lana-

2 Feb 2016

Memori



To: D

Sudah dua jam aku terjebak di mobil. Macetnya lalu lintas Jakarta, terutama setelah hujan, katanya memang salah satu cara tercepat membuat kita tua sia-sia. Dalam dua jam ini yang kulakukan hanya bolak-balik menatap layar ponsel sambil mengecek aplikasi Google Maps yang indikator warnanya masih saja tidak berubah. Merah pekat di sepanjang rute menuju apartemen.

Aku ingat, D. Kamu tidak pernah suka naik mobil di Jakarta. Tidak ketika kamu harus menyetir sendiri maupun ketika ada sopir. Kamu lebih memilih naik motor yang kamu bilang praktis dan membuatmu terlihat macho. Alasan yang tentu saja kucibir. Darimana datangnya macho kalau habis naik motor di tengah hari aromamu malah menjadi bau matahari? Walaupun kuakui juga sih kalau gayamu ketika naik motor itu sudah pasti membuat mata para hawa tidak berkedip.

Tanpa sadar bibirku tertarik tipis. Lihat, D, hanya mengingatmu di tengah macet saja bisa membuatku senyum-senyum sendiri. Aku menghela napas panjang sambil mengamati sekeliling, kapan sih jalanan ini mulai lancar? Aku sudah bosan. Entah sudah berapa banyak lagu dan ocehan penyiar radio yang mengalun dari tape tapi tetap tidak mampu menghiburku.

I think I like you.

Mataku tak lepas menatap jembatan penyeberangan di depan. Duh, D, kenapa justru sekarang aku harus berpapasan dengan jembatan ini? Kata-katamu jadi menari-nari lagi di ingatan. Bertahun lalu kamu sukses membuatku tercengang. Aku tertawa kencang mendengarnya. Mana ada orang yang mengaku suka di tengah jembatan penyeberangan di tengah malam sambil memegang tumblr kopi bermerek Starbucks setelah berjibaku dengan rentetan meeting panjang dengan headquarter Brazil? Dan bodohnya, setelah menertawaimu sampai puas, aku justru percaya. Aku percaya kamu suka padaku, D. Aku hanya menertawakan pilihan tempatmu yang sama sekali tidak romantis.

Kuingat-ingat, kamu memang tidak pernah romantis, D. Tidak pernah ada bunga darimu. Tidak pernah ada coklat atau hadiah-hadiah lainnya. Kamu hampir tidak pernah memberiku sesuatu. Hampir. Karena satu-satunya barang yang pernah kau beri hanya cincin yang melingkar di jari manis tangan kiriku. Cincin yang hari ini kupakai lagi.

People say that you never know the value of a moment until it becomes a memory.
(Architecture of Love – Ika Natassa)

Memori. Kini semua tentangmu memang hanya tinggal memori, D. Memori yang menolak untuk kuhapus. Memori yang masih kuputar ulang setiap saat. Karena..

Aku masih merindumu.

-Lana-