Halaman

Tampilkan postingan dengan label Iben. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iben. Tampilkan semua postingan

3 Okt 2012

We Meet Again



Dundas Square (photo taken from google images)

Hari Jumat memang hari istimewa dibanding enam hari lainnya. Hari baik dimana para pria muslim akan berbondong-bondong melakukan sholat Jumat, termasuk mereka yang biasanya alpa sholat wajib. Hari sibuk dimana semua deadline mingguan biasanya harus selesai. Hari hura-hura karena begitu jam kerja berakhir biasanya semua orang serentak menuju pusat perbelanjaan untuk sekedar melepas jenuh yang tertumpuk.
Setelah meeting marathon sejak pukul 9 pagi sampai 5 sore, sekarang Vari bercampur dengan ratusan orang lainnya di padatnya lalu lintas Jakarta. Berlari-lari melalui koridor panjang halte Trans Jakarta dengan high heels 7cm yang tadi lupa ditukar dengan flat shoes. Berdesakan membaur dengan beragam aroma yang menguar. Berhimpitan sampai tak jarang antar kulit pun nyaris tak ada sekat.
Empat puluh lima menit kemudian, masih dengan napas yang belum sepenuhnya teratur, senyum ringan sudah tersungging di bibir Vari. Rupanya hawa sejuk pusat perbelanjaan di kawasan Senayan ini sukses memberikan sedikit ketenangan setelah merasakan pengapnya angkutan umum. Masih ada beberapa menit untuk mengatur ulang penampilan sebelum bertemu dengan teman-teman ceriwisnya.
Vari masih berkutat dengan potongan pizza di piringnya ketika dilihatnya ada seorang pria mengamati mereka dari meja seberang. Vari balas menatap. Lalu tiba-tiba pria itu berdiri dan berjalan menghampiri mejanya. Vari panik.
Tanpa disangka ternyata pria itu justru menyapa salah satu temannya. Vari menunduk, tersenyum tipis. Dia salah sangka. Ternyata sedari tadi pria itu mengamati temannya, bukan dia. Dan setelah melalui proses perkenalan singkat, pria itu menunjuk ke meja seberang yang tadi ditempatinya, menjelaskan kalau dia kemari juga bersama teman-teman kantornya. Sekali lagi, Vari ikut mengamati satu per satu wajah teman si pria di meja seberang.
Tanpa sadar, sedari tadi Vari menatap lekat seorang pria yang wajahnya tampak tak asing. Si pria tersenyum. Membius. Vari membalas senyum itu sambil terus berusaha mengingat. Itu, dia. Ya, dia yang dulu sempat membuatnya gundah. Dia yang sekarang pun tetap menariknya ke medan magnetnya. Dia si pria di bandara itu. Ah, betapa lucunya teka-teki waktu dan tempat ini tercipta.

---------------

Vari baru keluar dari kamar mandi. Berjalan sambil menunduk, membenahi bajunya yang agak terlipat. Saat dirasanya ada sebuah colekan kecil di lengan kirinya. Spontan dia menoleh.
“Hai, kita ketemu lagi,” sapanya sambil mengulurkan tangan, mengajak berjabat tangan.
“Hai,” Vari menjawab tergagap sambil membalas jabat tangannya.
“Gue Iben. May I know your name?” katanya masih dengan senyum yang tak pernah lepas sedikit pun dari mulutnya.
“Oh. Gue Vari,” jawabnya singkat. Terpana.
“Oke, Vari. Gue bisa pastikan, ini bukan terakhir kalinya kita ketemu. Can we exchange phone numbers?” tanyanya sambil mengulurkan smartphone miliknya, berharap Vari akan menuliskan nomornya sendiri.
Vari seperti terhipnotis. Tanpa pikir panjang, diketiknya nomor teleponnya pada smartphone milik Iben.
Beberapa detik kemudian, terdengar nada Sweet Escape dari No Doubt. “Sudah gue missed call. Mudah-mudahan elo bersedia menyimpan nomor gue, supaya kalau kapan-kapan gue telepon ga disangka orang iseng. Ok, selamat melanjutkan makan malam. See you soon!” Katanya ringan sambil melangkah meninggalkan Vari yang masih terdiam. Mencerna.
Masih dengan setengah sadar, Vari kembali ke meja. Mendadak tidak bisa fokus mendengarkan celoteh sahabat-sahabatnya. Masih tidak habis pikir, kenapa dia bisa sebegitu mudahnya memberikan nomor telepon pada orang yang tidak dikenal. Masih mengingat rasa hangat tangan Iben ketika berjabat tangan. Memutar ulang senyum Iben yang berhasil direkamnya dalam ingatan. Ada rasa hangat menjalari hatinya.

25 Jan 2012

Catatan Senja

Wanita muda ini cantik. Tebakanku usianya antara 26 sampai 29 tahun. Usia ranum. Hanya dengan rok hitam selutut, kemeja lengan pendek biru muda dan high heels hitam bisa membuatnya tampak elegan. Menarik. Pipi dan bibirnya sedikit merona, dihiasi kacamata berbingkai transparan. Sempurna.

Ada kerutan di dahi dan mulut yang merengut ketika dia membaca pesan dari smartphone miliknya, Blackberry tipe terbaru. Ah, semoga saja dia termasuk wanita smart yang bukan hanya sekedar terbawa arus menggunakan smartphone hanya untuk dianggap classy. Lagi, kudengar dia menggerutu setelah membaca pesan di BB-nya. Mimik yang lucu.

Tergesa dibukanya notebook yang sedari tadi hanya tergeletak di sampingnya. Jemarinya mengetik dengan terampil diatas keyboard. Sesekali bola matanya berputar seolah sedang berpikir keras. Raut wajahnya berubah serius, tidak sesantai tadi. Ah, dia sungguh terlihat pintar. Atau memang pintar? Entah.

Setengah jam kemudian kulihat raut wajahnya kembali santai. Cerah. Sinar matanya tetap tajam tetapi memancarkan keramahan. Nyaman. Dia mulai membereskan kembali notebook ke tas semula. Sudah selesai rupanya, hal apa pun yang tadi sempat mengganggu waktu bersantainya.

Aku terbius. Seperti kutub utara yang tidak kuasa tertarik ke kutub selatan. Ingin mendekat.

Akhirnya, aku hanya tersenyum tipis. Ini pertemuan pertama. Kalau sekali lagi kita bertemu tanpa sengaja, baru aku akan menyapanya. Jadi, semoga kita bertemu lagi. Saat itu, aku pastikan mendekatimu.

- Catatan Senja by Iben -