Halaman

Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label trip. Tampilkan semua postingan

7 Okt 2012

Antologi Rasa Trip - preparation


Photo taken from ikanatassa.tumblr.com
Seharusnya saya bukan tipe orang spontan. Tetapi entah kenapa, beberapa bulan lalu ketika Ika Natassa mengumumkan lewat akun twitternya @ikanatassa bahwa dia akan menggelar Antologi Rasa Trip, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar. Bahkan suami saya pun tercengang karena dianggapnya saya hanya bercanda. Maklumlah..walaupun saya termasuk senang jalan-jalan (ups..trip ke Lombok pun belum pernah diposting disini, hiks..), saya tidak pernah pergi sendiri. Saya selalu pergi dengan suami, bahkan dengan teman pun jarang :p

Sejujurnya, ketika awal mendaftar pun, saya sudah ikhlas seandainya uang saya hilang, seandainya pada hari-H saya mendadak tidak bisa pergi. Menurut pengalaman sebelumnya juga, saya tidak pernah merancang bepergian >5 bulan sebelumnya. Alasannya karena saya tidak bisa menebak jadwal saya (dan biasanya jadwal suami yang sibuk itu). Itu juga alasannya kenapa saya tidak pernah berhasil ikut sale tiket Air Asia dan memilih menjadi flashpacker.

Tetapi, saya memang super niat. Saya bahkan rela merogoh kocek demi membeli used camera SLR. Useless, kalau kata suami saya (lagi) mengingat saya hanya senang suatu barang di awal saja, lalu ditinggalkan begitu saja. Haha..dan sepertinya memang benar, camera-nya jadi agak kurang bermanfaat di tangan saya. Saya amatir yang memulai belajar pun malas sangat :p Kalau harus memilih, diving atau fotografi, pasti saya pilih diving walaupun belum punya sertifikat resmi :D

Dua bulan menjelang hari-H, saya sempat bertanya ke suami saya, "Imigrasi di Soekarno-Hatta itu bagaimana caranya?" Ini bukan pertama kalinya saya pergi ke luar negeri, tetapi saya memang super-duper-cuek, follower yang tidak pernah memperhatikan sekeliling kalau memang saya anggap tidak penting :p Saat itu juga, suami saya memutuskan untuk ikut terbang dengan flight number yang sama dengan saya, walaupun harganya sudah selangit :p Karena saya bilang ikut grup dan seharusnya sudah punya roommate, jadilah dia memutuskan mencari budget hotel lain yang harganya masih reasonable. Maklum, F1 itu peak season di Singapore.

Jadi, akhirnya saya tidak jadi pergi sendiri, tapi tetap pergi ditemani suami. And i thank God..saya jadi bisa agak jalan-jalan ketika free time tanpa takut harus tersasar ^_^ So, kalau mau tahu disana saya kemana saja, akan saya buat postingan berbeda.

22 Nov 2011

Outing ke Pulau Umang

Ini kedua kalinya saya pergi bersama teman-teman kantor. Judulnya sih boleh outing, kenyataannya adalah ajang bermain-main bersama :p Tujuan outing masih di seputar daerah Banten, lebih tepatnya di Desa Sumur, Pandeglang, yaitu Pulau Umang (sebelumnya pernah ke Tanjung Lesung). Setelah menempuh perjalanan selama +/- 7 jam dari Jakarta sampailah kami di pulau yang masih alami ini. Kebetulan pada saat kami datang ternyata banyak juga rombongan dari grup lain, katanya 40 dari 60 kamar yang tersedia semua terisi.


Snorkeling adalah salah satu yang paling berkesan buat saya. Memang, untuk snorkeling kita akan dibawa ke pulau kecil di seberangnya, namanya Pulau Oar. Tetapi pemandangan dalam lautnya memang luar biasa indah. Terumbu karangnya masih bagus, beraneka rupa dan berwarna-warni, jenis ikannya juga banyak. Memang sih awal mulai snorkeling saya sempat merasa gatal-gatal karena ada ubur-ubur kecil (kata teman saya) atau plankton (kata guide-nya). Entah yang mana yang benar, tetapi tidak lama rasanya sudah biasa saja. Selain itu, arus airnya juga unik. Normalnya airnya akan terasa hangat, tetapi tiba-tiba akan terasa ada arus air yang terasa dingin. Katanya sih memang disitu daerah pertemuan antara arus panas dan arus dingin, makanya makhluk hidup bawah lautnya terpelihara dengan baik.

Saya juga amat sangat menikmati bermain-main di pantai. Foto ramai-ramai sambil bermain lari-larian di pasir putih, jelas pengalaman yang menyenangkan. Maklum, sehari-hari di Jakarta ketemunya macet dan layar laptop terus :p Jadi, bermain bersama alam selalu menyenangkan buat saya.

Oh ya, karena ini outing kantor, tentu saja ada Fun Games yang kita pesan khusus. Bukan outbound (disini juga ada fasilitasnya), tetapi lebih ke permainan sederhana. Permainan pertama dan heboh, alias grup saya kalah telak adalah balap karung beregu. Jadi, 5 orang dalam 1 tim masuk ke dalam 1 karung besar dan harus lompat bersama-sama untuk bisa maju. Ya sudahlah, kelompok saya menyerah kalah saja, mau lompat berkali-kali sampai jatuh, karungnya tetap tidak maju-maju :p Permainan kedua adalah lomba bakiak beregu, yang untungnya kali ini kelompok saya menang. Nah, yang ketiga adalah tarik tambang 4 pria vs. 12 wanita. Haha..sudah tahu dong siapa yang pasti menang? :D

Sejujurnya, selain pemandangan pantai dan dunia bawah laut a.k.a snorkeling, hampir tidak ada yang istimewa di Pulau Umang ini. Kamarnya cukup bersih, tetapi beberapa lampu bohlamnya mati dan tidak diganti, jadi suasana jadi agak remang-remang. Beberapa keset di depan kamar mandi juga agak kurang layak. Dan yang paling tidak saya rekomendasikan adalah menu makanan dan rasanya yang amat sangat biasa saja. Untuk resort semahal dan (terkesan) mewah, sebenarnya saya mengharapkan makanannya enak. Tapi, saya maafkan (ya iyalah udah dibayar bo'), mungkin itu kompensasi dari suasana makan malam di pinggir pantai (persis seperti di Jimbaran, Bali).

Yah, jadi demikianlah kisah outing ke Pulau Umang ini. Kalau butuh informasi bisa coba cek websitenya kesini.







18 Mei 2011

Trip to Yogya

Ini bukan pertama kalinya saya ke Yogyakarta. Tapi, kunjungan inilah yang paling berkesan karena saya sendiri yang menentukan mau jalan kemana saja. Saya akan berusaha menuliskan pengalaman yang membuat saya terkesan plus biayanya, tetapi mohon maaf saya tidak berencana berlibur hemat ^_^


Di bandara Adisutjipto, Yogyakarta saya disambut oleh para pemain gamelan dan sinden yang sepertinya sengaja disediakan untuk menyambut pendatang. Selain itu, dipamerkan pula beragam jenis pewarna alami untuk batik.

Oh ya, bandara Yogya juga langsung terhubung dengan stasiun kereta yang bisa membawa kita ke Klaten-Solo. Jalurnya kereta Prambanan Ekspress (Prameks). Atau kalau teman-teman sudah berniat jalan-jalan tetapi belum punya informasi apa pun, jangan kuatir, di bandara ada pusat informasi untuk wisatawan.

Obyek Wisata

Perjalanan pertama saya adalah ke Kraton - Istana Raja Yogyakarta. Disana saya mendengar sejarah Yogyakarta dari Pak Wagiman (abdi dalem merangkap pemandu wisata), mulai dari Sultan Hamengkubuwono I - X. Jujur, tidak semua informasi mampu saya serap karena ternyata segala sudut Kraton amat kaya dengan filosofi. Mulai dari jumlah tiang atau jumlah pohon beringin yang mengelilingi kraton harus 63 buah. Lalu motif lantai dan langit-langit yang berbentuk bintang bersudut 8, menandakan renovasi Kraton tersebut dilakukan oleh Sultan HB VIII. Bahkan, saya baru tahu bahwa Sultan HB IV adalah adik dari Pangeran Diponegoro (pahlawan nasional), tetapi beliau tidak bisa bertahta karena bukan lahir dari rahim permaisuri. Saya juga sempat ditunjukkan foto-foto Sultan HB IV - X, tetapi tidak ada foto Sultan HB I - III karena mereka memang tidak mau difoto. Mereka percaya bahwa foto bisa memendekkan usia.

Setelah berputar-putar di sekitar Kraton dan Alun-Alun, saya melanjutkan perjalanan ke Taman Sari. Kalau Kraton tadi adalah tempat tinggal Raja, katanya Taman Sari adalah tempat Raja dan keluarganya bersenang-senang. Saya sempat diajak berputar-putar menelusuri lorong bawah tanah yang sambung-menyambung. Dalam bayangan saya, Taman Sari ini jauh lebih megah daripada Kraton, tetapi sudah banyak lahan yang berubah fungsi menjadi rumah penduduk sehingga wajah aslinya sudah tak tampak lagi. Beberapa bagian Taman Sari juga masih dalam proses diremajakan kembali karena sudah banyak yang rusak. Oh ya, kalau berminat membeli lukisan batik karya abdi dalem, saya sarankan beli disini saja karena harganya relatif lebih murah daripada di Kraton. Ini pengalaman saya yang merasa salah beli :p


Malam hari, saya sengaja meluangkan waktu untuk menonton Sendratari Ramayana Ballet di Prambanan. Sekedar informasi, selama bulan Mei - Oktober, pertunjukannya diadakan di ruang terbuka (open air theatre) dengan latar Candi Prambanan. Tata cahaya yang apik jelas menambah hidup suasana. Untuk saya yang cukup familiar dengan cerita wayang Rama - Shinta sempat juga merasa lost di tengah-tengah cerita. Saya baru bisa mengerti setelah membaca ringkasan cerita yang disediakan. Seandainya dibuat penanda pergantian tiap babak/adegan, tentu akan akan lebih mudah dimengerti, terutama bagi wisawatan asing yang dari bisik-bisik sih sering bingung. Namun, secara keseluruhan saya puas. Exotic! ^_^

Kuliner & Oleh-Oleh

Jalan-jalan ke Yogya pasti belum lengkap kalau belum makan gudeg. Salah satu pusat gudeg yang terkenal adalah Gudeg Wijilan di Jl. Wijilan. Disana berderet warung-warung gudeg, tetapi yang (katanya) banyak diminati namanya Gudeg Kendil Wijilan Bu Widodo.

Tanpa sengaja, saya sempat diajak menikmati Nasi Soto Daging di Warung Soto Sapi Monjali. Rupanya warung ini adalah favorit penduduk sekitar untuk sarapan pagi, terbukti dengan ramainya warung ini pada jam 9 pagi. Yang pasti membuat saya terkesan adalah harga untuk satu mangkok nasi soto sapi campur hanya IDR 4.500. Untuk rasa dan porsi yang cukup memuaskan, harga tersebut sangat murah, dibandingkan dengan harga bubur ayam di Jakarta :p Jadi, kalau berminat, silakan dicoba :)

Kalau Anda tertarik membeli batik, maka salah satu tempat yang harus dituju adalah Mirota Batik. Disana kita bisa memilih beragam jenis batik mulai dari yang murah sampai mahal (baca: batik tulis sutra). Selain batik, Mirota juga menjual pernik-pernik kerajinan khas Yogya yang lain. Lokasinya pun cukup mudah dijangkau, sejurus dengan Malioboro atau di depan Pasar Beringharjo. Nah, kalau mau pilihan batik atau makanan atau pernik-pernik lucu yang lebih murah lagi, ya tinggal masuk saja ke Pasar Beringharjo :p

Satu lagi oleh-oleh yang wajib dibeli adalah bakpia. Menurut saya, rasa bakpia di Yogya rata-rata sih enak. Tetapi, yang lebih dikenal memang hanya ada beberapa seperti Bakpia Pathuk 25, 75 atau 77. Paling ramai sih yang 25, tetapi yang 75 atau 77 juga tidak kalah kok, tergantung selera saja.

Supaya lengkap, berikut adalah itinerary yang sempat saya buat. Ada jeda waktu antara hari ke-2 dan ke-3 yang saya isi dengan perjalanan ke Dieng, yang akan saya buat menjadi postingan terpisah. Selain itu, penginapan di Yogya juga tidak saya cantumkan karena kebetulan saya menginap di rumah kerabat :)