Halaman

18 Okt 2013

Personality Test

Sebenarnya ini cuma iseng, tapi ya hasilnya lumayan. Daripada hilang tertelan timeline Path, jadi saya post di blog. Lumayan sebagai pengingat untuk saya pribadi :p
 

16 Okt 2013

Your Friends

Create this post while listening to Toss The Feathers by The Corrs makes me miss my Geng Senggol.
Love the girls so much.
 
Dua hari terakhir saya sengaja menjauhkan diri tumpukan novel yang belum terbaca atau drama Asia yang belum sempat saya tonton atau bahkan twitter tempat saya menyalurkan kebawelan saya. Jadi, apa yang saya lakukan? Saya memaksa diri untuk bercermin.
 
"Finally i realized, it's not about challenging job or benefit that makes you stay longer in a company. It's all about Friends and Ambience."
 
Kira-kira begitulah hasil merenung saya. Pada satu titik, saya akhirnya sadar bahwa yang membuat hidup saya lebih berwarna setiap hari adalah sahabat-sahabat saya di kantor. Di tengah gempuran deadline pekerjaan atau problem yang muncul ketika mengerjakan project (almost) impossible, saya mampu bertahan karena ada dukungan dari mereka. Bukan berarti mereka mengerjakan tugas saya, tetapi sekedar obrolan singkat yang bukan melulu pekerjaan, lunch bareng, pelukan ketika diam-diam saya terisak atau sekedar menepuk-nepuk pundak saya ketika saya menerima omelan dari orang lain, ternyata cukup besar pengaruhnya. Menenangkan.
 
Saya bukannya hanya berteman yang 'manis' saja. Beda pendapat dan adu argumen itu biasa terjadi. Bukan hanya sesama rekan kerja, tetapi juga dengan atasan atau tim departemen lain. Bahkan tidak jarang saya mengamuk kepada tim saya kalau deadline report terlewati. Tetapi, selama tidak berlebihan, dikomunikasikan dengan cara yang baik dan tidak terbawa personal, semuanya pasti bisa dilalui dengan lancar. Terlebih bila kultur yang ada di perusahaan dan pihak manajemen memang memberikan ruang gerak yang cukup untuk berekspresi sebebasnya. Wah, itu luar biasa.
 
Jadi, ketika kamu merasa bersemangat berangkat ke kantor bukan hanya sekedar mencari nafkah, tetapi karena ingin bertemu dengan teman-temanmu, maka bersyukurlah. Teman baik atau sahabat sekantor atau office-soulmate itu ternyata tidak begitu saja tersebar di semua tempat.
 
Atau, ketika tanpa sadar kamu sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun di suatu perusahaan dan belum merasa bosan, maka nikmatilah. Itu berarti kita merasa nyaman berada disitu. Sadarilah bahwa lingkungan yang nyaman untuk bekerja itu tidak bisa ditawarkan di semua tempat kerja.
 
Menurut pengalaman saya, bekerja di lingkungan yang nyaman dan dikelilingi teman-teman yang sehati akan membuat kita merasa senang. Happy itu ternyata penting karena biasanya output-nya juga baik, kita jadi bisa memberikan the best performance. Buat saya, happy karena teman dan ambience ternyata memberikan efek lebih besar daripada sekedar challengin job atau benefit package yang menggiurkan. Bukan berarti saya tidak bisa bekerja tanpa teman dan lingkungan yang nyaman. Bisa, tetapi hasilnya tidak maksimal.
 
So, before you decide to move to another company, please look at the mirror. What is your character? What is the most important thing in your life? What are you looking for? Ask yourself and think deeply.
 

14 Okt 2013

Another Chance

 

Semesta itu memberikan banyak pilihan untuk dijalani. Ada kalanya kita bisa memutuskan akan melakukan yang mana dengan cepat dan pasti. Tanpa ragu. Tetapi, ada kalanya kita merasa bingung ketika dihadapkan pada pilihan. Tidak tahu harus memilih yang mana karena merasa takut salah. Takut kalau hasilnya tidak sesuai dengan keinginan.
 
Risiko. Kita kadang lupa bahwa pada setiap pilihan selalu ada risiko. Risiko dengan kadar probabilitas yang beragam. Bisa jadi kita memilih jalan yang sesuai dan paling cepat mewujudkan keinginan. Hingga yang terbentuk adalah rasa puas. Tetapi, apakah itu berarti, pilihan lainnya salah? Belum tentu. Bisa jadi pilihan lainnya justru memberikan hasil yang melampaui keinginan. Kita tidak tahu karena kita tidak memilihnya dan tidak menjalaninya.
 
Lalu, kalau kita merasa tidak puas, apakah itu artinya pilihan kita salah? Menurut saya, pilihan dan apa pun keputusan kita pada awalnya tidak pernah salah. Ini hanya masalah persepsi. Ketika hasilnya mulai terlihat dan kita merasa tidak puas, itu artinya kita mempersepsikan hasilnya jauh dari apa yang kita inginkan. Bukan berarti keinginan kita tidak bisa terwujud. Bisa, tetapi ternyata memerlukan waktu lebih lama. Bisa, tetapi ternyata memerlukan resources lebih banyak. Dan segudang alasan lain yang akhirnya membuat kita menarik napas panjang.
 
Persis seperti yang saya alami sekarang. Pada dasarnya saya bukan risk taker. Itu sebabnya saya perlu waktu lama untuk berpikir sebelum akhirnya memutuskan. Inginnya hasilnya bisa memuaskan. Tetapi, siapa yang menyangka bahwa beberapa bulan kemudian setelah menjalani, hasilnya ternyata tidak memuaskan. Saya merasa salah.
 
Tetapi, saya tidak mau menyesal. Selama saya menjalani, saya belajar mengenal diri saya lebih baik lagi. Saya tetap menjalani hasil keputusan awal saya dengan segala daya yang saya miliki. Saya masih belum mau berhenti mencapai mimpi saya sambil terus berpikir positif.
 
Sampai akhirnya kesempatan lain datang. Ya, sekali lagi saya diberi kesempatan untuk memilih. Dan sekali lagi, saya ingin mencoba menjadi risk taker. Tentu dengan pengenalan diri yang lebih baik dan proses berpikir yang lebih matang, saya juga menjadi lebih kuat.
 
Jadi, izinkan saya sekali lagi memilih. Doakan saya semoga kali ini pilihan saya memberikan hasil yang memuaskan.
 
Semoga. Bismillah..

6 Okt 2013

[IRRC2013 #6] Book Review: Runaway Ran


RUNAWAY RAN yang ditulis Mia Arsjad adalah novel digital pertama yang saya beli melalui gramediana. Dulu sekali saya sudah pernah membaca novel Mia yang lain: DILEMA. Tetapi, hanya itu saja yang saya baca karena buku lainnya kebanyakan bergenre teenlit yang sudah tidak cocok untuk saya.

Biasanya saya selalu jatuh cinta dengan tokoh pria di novel yang digambarkan kaya, ganteng dan baik hati. Khusus di novel ini, saya justru jatuh cinta dengan karakter KATRINA. She's just so women! :p Karakternya menggambarkan sebagian besar wanita metropolitan yang jarang (bahkan hampir tidak pernah) merasakan susah, cenderung manja, hobi belanja, ke salon dan nongkrong di kafe. Walaupun bisa dibilang gaul, tetapi Katrina tidak kebablasan, dia masih memegang teguh prinsip-prinsip ketimuran. Dia juga baik hati, bijaksana dan loyal kepada sahabat. Oke, rasanya semua pujian buat Katrin sudah saya sebutkan.

Bagaimana dengan tokoh prianya? J.F. RAN digambarkan sebagai pria yang ganteng, kaya dan populer. Ya, Ran memang termasuk public figure, tetapi tidak charming. Ran pada dasarnya orang baik, dengan caranya sendiri. Buat orang yang tidak terlalu dekat dengan Ran, dia akan bersikap sinis dan tertutup. Walaupun sebenarnya ada alasan kenapa dia bersikap dingin pada hampir semua orang.

Selain kedua tokoh diatas, ada banyak tokoh lain yang muncul. Yang paling menonjol adalah VIANA, sang public enemy. Lalu ada dua sahabat dekat Katrin, yaitu Alya dan Ina. Mereka bertiga ini kalau sudah kumpul ramainya luar biasa. Jangan salah, yang bisa bergosip bukan hanya wanita. Ran ternyata juga punya tiga orang teman dekat yang semuanya unik, yaitu Gatot, Herman dan Iman. Tetapi, semua keseruan di buku ini rasanya belum cukup kalau tidak ada tokoh Adit.

Walaupun karakter dan interaksi antartokoh seru dan ramai, sebenarnya saya sempat merasa bosan juga. Sampai setengah buku bagian pertama, belum ada konflik yang muncul. Hanya cerita narasi dan teka-teki di sana-sini. Konfliknya terasa kurang menggigit. Akibatnya, penyelesaian konfliknya terasa terburu-buru, terutama kisah hubungan Katrina dan Ran. Ending-nya sih tidak masalah, tetapi proses menuju ending itu yang kurang smooth.

Beberapa bagian juga terasa aneh. Misalnya, sebelumnya diceritakan kalau Ran punya abang, tetapi sampai akhir bahkan di saat-saat kritis sang ibu, tokoh abang ini justru tidak muncul, padahal kerabat lainnya lengkap. Saya juga masih menemukan beberapa typo, walaupun tidak sampai mengganggu.

Overall, saya tetap suka novel ini. Dialognya lucu dan membuat saya jadi senyum-senyum sendiri bacanya. Cover-nya juga unik, cocok dengan isi ceritanya. Selain itu, Mia banyak menyelipkan nasihat-nasihat hidup yang patut kita renungkan, tanpa harus merasa digurui. Runaway Ran recommended buat yang sedang butuh bacaan metropolitan khas metropop.

4 Okt 2013

[IRRC2013 #5] Book Review: Paris - Aline

 
 
 
Note: Gambar diambil dari SINI
 
Ini pertama kalinya saya membaca karya Prisca Primasari. Dan ini juga seri pertama STPC yang saya baca. Kenapa saya memilih Paris? Karena saya amat suka dengan sampul bukunya yang bergaya vintage. Elegan. Cocok untuk menggambarkan kota Paris yang terkenal romantis. Selain itu, Paris sepertinya salah satu seri STPC dengan jumlah halaman paling sedikit. Jadi, mengingat rutinitas saya (ehem!), saya memilih buku yang paling tipis.
 
Sayangnya, nuansa romantis dari sampul bukunya justru bertolak belakang dengan isi cerita. Paris versi Prisca jauh dari kata romantis. Walaupun pada bukunya diselipkan kartu pos bergambar Menara Eiffel yang cantik, tidak ada adegan yang berhubungan dengan gambar itu di buku. Saya jadi sedikit kecewa, karena menurut saya, biasanya sampul buku itu mencerminkan cerita yang ingin disampaikan. Paris versi yang saya tangkap dari isi cerita bergenre teenlit fantasy; lebih mirip dongeng.
 
ALINE OFELI sedang menyelesaikan S2-nya di Paris ketika bertemu dengan AEOLUS SENA. Keduanya bertemu dengan cara yang unik; janji bertemu di bangunan bekas penjara pukul 12 malam. Aline berniat mengembalikan porselen Sena yang tidak sengaja ditemukannya. Selanjutnya, hubungan mereka berlanjut lantaran Sena berjanji untuk mengabulkan 3 permintaan Aline sebagai balas jasa menemukan porselennya.
 
Kenapa saya bilang teenlit? Karena saya tidak merasakan chemistry hubungan dewasa antara Aline dan Sena. Entah mengapa saya merasa plot dan cara berpikir baik Aline maupun Sena masih seperti ABG yang sedang pacaran, malu-malu tapi mau. Aline dan Sena memang saling suka tapi tidak sampai ada bonding yang kuat antara keduanya. Makanya saya bertanya-tanya *SPOILER ALERT* bagaimana Aline bisa menunggu Sena selama 2 tahun yang sama sekali tidak ada kabar beritanya, padahal pada saat itu keduanya masih sama-sama di Paris.
 
Kenapa saya bilang fantasy? Karena yang ada di benak saya ketika membayangkan kediaman Poussin adalah sebuah kastil tua yang megah dan berpagar tinggi, mirip kastil di film-film. Terasa agak dongeng juga ketika saya membaca bagaimana latar belakang keluarga Poussin dan bagaimana mereka berinteraksi. *SPOILER ALERT* Saya juga merasa aneh bagaimana mungkin Sena dan Aline yang disekap di rumah keluarga Poussin bisa meloloskan diri dengan alasan yang sangat mudah. Entah mengapa saya merasa Prisca tampak terburu-buru menyelesaikan konflik.
 
Terlepas dari cerita yang tampak aneh, sebetulnya saya masih bisa menikmati Paris. Saya juga baru tahu dan mulai belajar mengenai tulisan Vignette. Gaya Aline yang membagi ceritanya melalui diari kepada Sevigne juga menarik. Oh ya, saya juga suka dengan ilustrasi yang ada di bukunya.

1 Sep 2013

INFINITE - One Great Step Jakarta 2013

photo by @motskee
Saya masih belum bisa move on dari konser semalam. Hingga saya memutuskan untuk membuat posting khusus tentang konser INFINITE ini. Menuliskan sebelum terlupakan, sekaligus kenangan sepanjang masa yang bisa saya baca ulang ketika saya kangen mereka :p

INFINITE pertama kali datang ke Jakarta, Indonesia, pada waktu Music Bank di Senayan tanggal 9 Maret 2013 lalu. Sejak saat itu memang sudah terdengar kabar bahwa INFINITE akan mengadakan solo concert di Jakarta. Dan terwujudlah harapan semua Inspirit INA dengan konser semalam bertajuk 2013 INFINITE 1st World Tour One Great Step in Jakarta.

Ini bukan konser kpop pertama yang saya datangi. Sebelumnya saya pernah menonton Big Bang Alive Tour 2012 di tempat yang sama, Mata Elang Indoor Stadium (MEIS), Ancol. Jadi, tanpa sadar saya membandingkan dengan pengalaman sebelumnya. Konser INFINITE yang dipromotori Synergism Entertainment (@synergism_Ent) terbilang rapi. Jumlah petugas/security cukup untuk menangani jumlah Inspirit yang datang. Walaupun, tentu saja kita tidak bisa membandingkan jumlah VIP dengan jumlah Inspirit (berdoa, semoga jumlah Inspirit INA semakin banyak supaya INFINITE lebih sering datang ke Jakarta :p) Kemudian, kondisi MEIS bagian dalam juga sudah rapi (bukan konstruksi bangunan belum jadi) dengan penerangan cukup (dulu gelap), jadi bisa difungsikan untuk mengantri menuju pintu masuk (tidak perlu mengantri diluar tangga batu terlalu lama). Tapi, satu yang paling luar biasa, karakter Inspirit yang tertib. Semuanya patuh mengantri dan tidak pakai dorong-dorong. Membuat saya bangga menjadi salah satu keluarga Inspirit. Salute!

Saya harus memuji Synergism yang membuat saya terkesan dengan pengaturan layout hall yang rapi. Sound system yang prima. Ditambah lighting yang maksimal, dipadu dengan video mapping (eh, ini bukan sih istilahnya?) sebagai background panggung. Excellent!

Saya baru tahu konsep fast track disini, dimana pemegang fast track diprioritaskan untuk masuk lebih dulu ke dalam hall. Dengan tambahan biaya, tiket fast track bisa dibeli oleh pemegang tiket seluruh section, kecuali VVIP karena sudah dapat seat number, jadi tidak perlu berebut. Pemegang tiket fast track diperbolehkan masuk hall sejak pukul 17.00 WIB. Kata teman saya (@Hamster_Kim) hampir semua yang masuk ke Festival Dalam section menggunakan fast track. Dari tempat saya memang terlihat kalau Festival Dalam lebih penuh daripada Festival Luar.

Pukul 19.00 WIB saya sudah duduk manis di tempat saya, VVIP row D sambil menikmati MV INFINITE yang diputar. Ini MV biasa yang sering saya lihat di Youtube. Tapi, diputar dan dilihat bersama-sama rasanya luar biasa, ditambah teriakan Inspirit yang cetar membahana :D Pukul 19.50 WIB lampu hall sudah dipadamkan membuat teriakan Inspirit makin kencang. MV terakhir yang diputar adalah Destiny. Kata @Hamster_Kim itu adalah MV Destiny versi A yang ditunda launching-nya karena ada scene pesawat jatuh. Tahu kan kalau versi itu ditunda karena bersamaan dengan insiden kecelakaan pesawat Asiana Airlines? Jadi, sebagai bentuk kepedulian yang di-launched versi B, tanpa scene pesawat jatuh. Sedihnya, saya tidak memperhatikan karena saya pikir itu MV biasa (hiks..). Berapa banyak Inspirit yang sadar bahwa itu adalah Destiny versi A?

Oh ya, konser INFINITE ini diiringi oleh live band jadi hampir semua lagu punya aransemen yang berbeda dengan lagu aslinya. Nice! Set list yang dimainkan di Jakarta, agak sedikit berbeda daripada di Seoul atau Hongkong. Saya akan coba menuliskan set list sesuai ingatan saya. Maaf, kalau ada yang terbalik-balik, kadang-kadang saya jadi amnesia karena terlalu terhipnotis :p
  • Intro : VCR + members action behind the jails. Inspirit mulai histeris disini :p
  • [song-1] Destiny
  • [song-2] Tic Toc
  • [song-3] Paradise : I love their shadow dance as an opening. Dan kaos kutang hitamnya bikin Inspirit jerit-jerit nih disini :D
  • Greeting to fans. Perkenalan masing-masing member pakai Bahasa harus di-appreciate nih :p
  • [song-4] Wings : I love the song & choreography so much :p
  • [song-5] Inception
  • Talking time. I should say Sung Gyu's pronounciation is good. Love it when they're trying to talk in English even though i know that they're reading a cheat sheet :p
  • [song-6] Can You Smile
  • [song-7] I'm Going To You
  • VCR lanjutan film yang menghibur.
  • [song-8] One Third : DJ Sung Yeol dan keyboardist Sung Jong
  • [song-9] Special Girl : INFINITE - H keren banget!
  • Inconvenient Truth MV : super lucu tapi mungkin tidak akan dirilis worldwide karena ya..gitu sih :D
  • [song-10] In The Summer
  • [song-11] I Like You : INFINITE keliling sambil lempar-lempar souvenir bikin jejeritan :p
  • [song-12] Love You Like You : L sukses bikin hati meleleh waktu dia cium2 boneka teddy bear :p
  • [song-13] Beautiful : penasaran siapa ya yang dapat bunga + cincin dari Woohyun di Festival Luar? Coba cek TL-nya @Yemimaa_  :p
  • [song-14] 60 sec : aransemennya lebih slow tapi leader Gyu tetap membius kok.
  • Another talking and chatting time. 
  • [song-15] Pelangi : INFINITE mengajak Inspirit untuk sama-sama menyanyikan lagu Pelangi-pelangi. Mereka lucu tanpa harus dibuat-buat, apalagi Woohyun yang cheerful. Huwaa..gak salah deh pilih dia jadi bias saya :p
  • [song-16] Mom : ada slideshow foto mereka kecil beserta ibu mereka. Ekspresinya Woohyun dan Sung Gyu waktu menyanyi lagu ini total. Jadi ikut terharu.
  • [song-17] Still I Miss You : i love their stage composition here plus fanchant kita juga terdengar jelas di lagu ini.
  • Another VCR dengan fokus L
  • [song-18] Nothing's Over
  • [song-19] Entrust : they're very energetic with endless jumping here and there.
  • [song-20] Cover Girl
  • [song-21] Be Mine
  • [song-22] Before The Dawn (BTD) : dance-nya benar-benar akurat. Love them!
  • [song-23] Man In Love : semoga handbanner-nya terbaca ya..
  • [song-24] The Chaser
  • INFINITE masuk tetapi Inspirit masih teriak We Want More terus Encore terus Dorawa. Semualah diteriakin :p
  • [song-25] Come Back Again
  • [song-26] Hysterie
  • Closing chat. Mukanya sih pada sedih tetapi tidak ada yang benar-benar menangis sampai video Inspirit diputar sepertinya :p
  • Celebrate SungYeol and SungJong birthday. SungYeol itu usil, tega-teganya mukanya SungJong dilumuri coklat. Tapi nanti di-lap sama Woohyun kok. So sweet..
  • [song-27] With : bertaburan confetti plus semuanya serentak naikin handbanner putih. Yakin terbaca sih sama mereka karena kita kompak. Terharu banget sama momen ini.
Konser selesai tepat pukul 23.00 WIB. Puas tetapi juga belum rela. Sayang, lagu favorit saya She's Back dan Real Story tidak dimainkan. Yang pasti makin cinta sama INFINITE karena mereka semua baik, ramah dan murah senyum. Tidak sia-sia mereka datang dari hari Kamis malam karena staminanya luar biasa oke. Cukup waktu untuk persiapan tampil dan istirahat. Mulai awal sampai akhir gak keliatan capeknya. Semoga INFINITE tetap mau kerja keras dan makin tenar, tapi juga tidak sombong dan tidak kena gosip macam-macam (penting banget nih! :p). Inspirit Indonesia love you so much!!

Mohon maaf kalau saya tidak menyertakan foto atau video di posting ini karena saya memang sama sekali tidak mengambil gambar. Saya penikmat konser sejati yang begitu konser dimulai, saya terlalu asyik mengacungkan light stick dan ikut bernyanyi sambil sesekali loncat-loncat. Tangan kiri saya memang memegang HP, tetapi hanya untuk baca contekan fanchant yang tidak sempat saya hafalkan :p Tetapi, jangan sedih, foto dan videonya bertebaran di akun @infinite7soul atau @inspiritINA atau @InfiniteUpdates atau @ifnt7ID dan banyak akun lainnya. So, please check their timeline.

Terakhir sekali, kalau saya boleh protes dan menghimbau. Saya masih melihat ada yang pindah seat number di VVIP. Saya lihat lho mbak di VVIP C71 pindah ke A66. Akhirnya, jadi diikuti oleh banyak yang lain untuk pindah-pindah. Buat saya, apa pun alasannya itu CURANG! Percuma beli tiket VVIP yang paling berkelas kalau tidak tahu bagaimana beretika. Sebenarnya ada petugas yang melihat, tetapi mungkin karena memang kosong ya dibiarkan saja. Well, menghimbau saja sih, semoga lain waktu semua fans bisa lebih tertib dan menghormati hak orang lain. Kalau hal yang sekecil itu saja tidak bisa, lalu kapan korupsi bisa diberantas dari negara ini. Please, mari jadikan Indonesia yang lebih baik :) 

Saya mohon maaf kalau tulisan ini tidak bisa memuaskan semua pihak atau ada informasi yang salah tulis. Ini dibuat semata-mata untuk memuaskan saya seorang :p

28 Agu 2013

[IRRC2013 #4] Book Review: Restart


Akhirnya saya bisa menyelesaikan Restart hanya dalam waktu 2 hari. Buat saya, itu adalah rekor tercepat mengingat saya melakukannya di weekday, bukan weekend. Jadi, praktis saya hanya skip membaca ketika tidur, mandi, kerja dan nyetir. Sisanya baca. Bahkan di dalam penuh sesaknya CommuterLine jurusan Tanah Abang - Serpong, saya masih sempat-sempatnya membaca. Tapi, saya tidak menyesal. Restart is a must read book for somebody who likes reading modern-romance story.

Buku ini adalah buku pertama Nina Ardianti (@ninaardianti) yang saya baca. Berawal dari blogwalking, sampailah saya di situs si penulis DISINI. Saya justru membaca semua cerpen di situsnya lebih dahulu -yang sepertinya semuanya tentang Ilham Fauzi. Berlanjut membaca review di Goodreads yang amazingly everybody gave high rating for this book. Maka tergeraklah saya membacanya. Restart itu tipe buku yang kalau sudah mulai, ya tidak bisa berhenti sampai halaman terakhir.

Sudah tidak terhitung banyaknya pembaca yang mengalami delusional terhadap Fedrian Arsjad. Musisi yang sedang naik daun, handsome dan well educated adalah sederet pesona yang menjadikannya the most eligible bachelor (Ini ada gak sih musisi/artis Indonesia cowok yang kayak gini? Kok saya cuma tahu Cinta Laura dan Gita Gutawa ya? :p) Tanpa sengaja dia bertemu Syiana yang sukses membuatnya diam karena kata-kata sarkastisnya. Selanjutnya adalah perjalanan kisah cinta mereka yang seperti layangan, tarik-ulur, kadang juga terlepas, untungnya masih bisa ditangkap lagi :p Sebagai pelengkap, Syiana dan Fedrian dikelilingi tokoh-tokoh lain yang IMHO semuanya sarkastis (membuat saya berpikir, apakah pergaulan saya terlalu biasa saja sampai tidak sadar bahwa Jakarta dipenuhi orang-orang penuh drama? :D).

Overall, I love Restart. Ceritanya mengalir. Karakter tokohnya dikembangkan dengan baik, plus banyak intermezzo tokoh-tokoh lain disana, membuatnya makin menarik. Konfliknya juga oke. Hanya masalah debat sarkastis hampir di semua tokoh yang buat saya agak berlebihan. Atau mungkin itu yang terjadi di lingkungan banker biru-kuning? Haha..kayaknya sih nggak juga ya karena beberapa teman saya disana justru kalem, feminin. Jadi, saya akan menganggapnya sebagai itulah ciri khas Nina. Lebay dan sarkastis itulah yang membedakan buku Nina dengan buku-buku Ika Natassa yang insightful atau Aliazalea yang lebih kalem.

Hal lain yang saya tangkap, this book is framing Jakarta lifestyle. Starbucks. SCBD. Senayan City. Harrier. Grand Indonesia. Oh yeah, gak yakin sih kalau pembaca di pelosok indonesia sana bisa paham apa itu Kate Spade atau Erdinger :p Bahkan, saya yang harusnya sih gak kuper-kuper banget, masih harus googling untuk tahu apa itu Diane James dan Preston Bailey :p But anyway, saya suka selera musiknya Nina. Pembatas antarbab-nya oke banget. Sukses membuat saya memainkan ulang lagu-lagunya Fastball, Melee, Gabrielle, The Script, Jason Mraz sampai One Republic. Yakin deh anak-anak generasi 2000-an belum tentu tahu Out Of My Head by Fastball itu lagunya yang mana :p

Oke, sekarang bagian protes-protesnya. Mari kita buat pointer saja :
  • Saya menghitung lho berapa kali Nina menulis, 'membetulkan bag strap yang turun' atau 'drop dead gorgeous', dan itu lebih dari 3x. Mungkin saya harusnya bisa membawa pulang payung cantik karena terlalu seringnya penggambaran itu :p
  • Terlalu banyak adegan kebetulan. Mulai dari Syiana bertemu Yudha, lalu Syiana bertemu Fedrian. That was too much in real life, isn't it? Teman saya di SCBD bertebaran, tetapi juga tidak sebegitu seringnya ketemu secara tidak sengaja di Grand Lucky atau PP.
  • Saya bertanya-tanya (atau mungkin saya yang missed, i need to check it again), ketika Syiana membuat janji temu dengan Yudha kok bisa-bisanya Fedrian muncul, sepertinya tidak ada penjelasan sebelumnya bahwa Syiana juga akan bertemu Fedrian disitu. Sekali lagi, ketika Bram makan dengan Syiana, tahu-tahu Fedrian juga bisa muncul disana. Padahal ya, katanya Jakarta macet dimana-mana, kok timing-nya bisa pas?
  • Setuju dengan review DISINI dan DISINI bahwa typo di buku ini luar biasa jumlahnya. Guess what? Saya jadi berencana untuk mengecek ke KBBI, artinya acuh apa sih? Kok kayaknya pemahaman saya jadi terbalik-balik. Lalu, artinya Terjam apa juga? Yang ini lupa sih halaman berapa dan kebetulan tidak bawa bukunya, sorry :p
Udah sih itu aja protesnya, daripada penulisnya ngambek gak mau bikin buku lagi, repot kan?! :D

Terakhir, kalau saya boleh memilih karakter mana yang saya paling ingin tahu untuk dibuatkan ceritanya. Saya request kisah cintanya Bram, kakaknya Syiana. Atau kisah cinta Kemal dan Emma. Kalau kisah cintanya Aulia dan Andari, tidak usahlah ya, ujung-ujungnya nanti kebanyakan drama lagi :D

Next, saya baru mau baca Fly To The Sky :p

22 Agu 2013

Menyikapi Pertanyaan Basa-Basi

Akhirnya saya tidak tahan juga untuk mengomentari "pertanyaan basa basi yang jadi basi" versi banyak orang. Apa sih pertanyaan basa-basi?
 
"Oh, masih ngerjain skripsi ya? Tentang apa? Kapan kira-kira selesainya?" Nah, itu deretan pertanyaan basi yang biasanya ditanyakan ke adik-adik mahasiswa tingkat akhir. Terlihatnya luntang-lantung santai berdalih mengerjakan skripsi sementara kuliah pun sudah tidak ada. Yakin deh, gak ada yang lebih membetekan selain diingatkan soal skripsi yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai.
 
Kalau kamu jomblo, bosan kan ya ditanya, "Kok belum punya pacar sih?" atau "Masak sih nggak ada yang tertarik sama kamu, kan sudah mapan?". Yah, tahulah pertanyaan apa yang biasa terlontar ketika kamu sudah dirasa cukup umur tetapi masih juga jadi single. Seringnya, si jomblo akan mengutuk habis-habisan si pemberi pertanyaan dengan alasan selalu mau ikut campur urusan orang.
 
Lain lagi ceritanya kalau sudah menikah. Pertanyaan basinya adalah, "Mana nih kok belum ada momongan? Sengaja menunda ya?" Itu berlaku kalau biasanya baru menikah 1-2 tahun. Kalau sudah >3 tahun belum punya baby juga, pertanyaan usilnya adalah, "Lho, belum ada momongan juga? Kurang usaha kali ya? Kamu kecapekan kerja kali, makanya resign aja." Lebih teganya lagi, kadang ada yang terang-terangan ngomong, "Kalau habis begituan, pantatnya terus diganjal bantal, biar gak keluar lagi."
 
Saya yang mengalami contoh kasus ketiga sering dibuat terperangah dengan komentar orang-orang ini. Saya sendiri sudah melewati 5 kali Lebaran dan melalui pertanyaan yang seringnya bikin bete itu dengan tegarnya. Plus, senyum tidak pernah lepas dari bibir saya. Jadi, walaupun dalam hati pahit, getir, malas menjawab pertanyaan yang itu-itu lagi, dari luar saya tetap happy.
 
Walaupun saya sudah melewati deretan pertanyaan mulai dari contoh kasus satu sampai tiga, saya tidak lantas membenci penanya-penanya itu. Saya mencoba memahami si pemberi pertanyaan dengan selalu berpikir bahwa mereka bertanya karena memang peduli. Mereka ingin tahu kabar saya. Walaupun, somebody said that peduli dengan kepo a.k.a selalu mau tahu urusan orang itu bedanya tipis.
 
Tetapi, lagi-lagi, saya mencoba berpikir positif. Sama seperti kita sebagai korban yang mengharapkan banyak orang care pada kondisi kita dengan tidak menanyakan pertanyaan usil. Kenapa kita tidak membaliknya menjadi seseorang yang memahami bahwa pertanyaan itu memang murni karena mereka peduli, sesuai dengan asas masyarakat Indonesia yang katanya suka menolong tanpa pamrih (katanya pelajaran SD dulu begitu ya :p). Yup, karena ujungnya biasanya mereka akan mengoceh dengan memberikan saran ini-itu, yang kalau mau jujur, sebenarnya sudah pernah kita lakukan, tetapi sayangnya masih gagal juga.
 
Contohnya gampangnya ya saya lagi. Kerabat saya akan menyarankan supaya saya ikut program dokter, itu sudah sering saya lakukan demi dapat momongan. Tante A bilang jangan terlalu capek. Oke, saya pindah kerja yang lebih santai sampai saya berpikir untuk membakar ijazah S2 saya karena pekerjaan saya sekarang bahkan hanya perlu 50% dari kapabilitas yang saya yakin saya miliki. Makan kurma muda, banyak makan sayur, minum kapsul entah apalah, itu juga sudah sering. Cuma bayi tabung saja yang belum dicoba karena saya dan suami masih belum mau menyerah.
 
Intinya, saya cuma ingin mengingatkan baik kepada si penanya-penanya usil maupun kepada si korban penjawab pertanyaan. Saya tahu niat kalian bertanya itu baik, peduli pada kami, tetapi tidak perlu juga kan ditanyakan berulang-ulang. Dan kepada kita yang menjadi korban harus menjawab pertanyaan, ya hormati juga mereka yang bertanya. Tidak perlu kesal dan mengucapkan sumpah serapah, cukup menjawab dengan sopan disertai senyum, kalau perlu minta doa sekalian. Saya yakin dunia lebih indah kalau kita tahu etika bertenggang rasa. Salam damai! ^_^
 

16 Agu 2013

Book Review: Stasiun

Diantara sekian banyak buku yang terpajang di toko buku, judul Stasiun sangat menarik buat saya. Kenapa? Karena stasiun dekat dengan rutinitas saya sehari-hari sebagai pengguna CommuterLine. Ketika membaca sinopsis di sampul belakang pun saya dibuat semakin jatuh hati karena pengalaman Adinda dan Ryan tampak manusiawi bagi kami; Anak Kereta -- AnKer.

Tetapi, jangan terlalu berharap bahwa kisah Adinda dan Ryan akan dirangkai romantis di buku ini. Walaupun dimasukkan dalam kategori novel, tetapi menurut saya belum bisa digolongkan sebagai novel bergenre romance. Sepemahaman saya novel bergenre romance biasanya akan berfokus pada tokoh pria dan wanita, kemudian menceritakan bagaimana perjalanan kisah cinta mereka secara rinci, misalnya mulai dari bertemu, berkonflik sampai akhir dari hubungan itu sendiri. Hal yang semacam itu tidak ada di novel ini.
 
Belakangan saya tahu bahwa penulisnya memang sengaja menulisnya dalam bentuk omnibus, dimana setiap bab dalam buku tersebut sebenarnya bisa dibaca secara terpisah. Saya bukan ahli sastra dan maaf, sudah lupa pelajaran Bahasa Indonesia, jadi saya tidak tahu persis definisi omnibus. Yang saya pahami, omnibus bisa disebut juga kumpulan cerita pendek dengan satu tema yang sama, atau satu penulis yang sama, atau satu tokoh yang sama, atau satu latar yang sama. Beberapa orang biasa menyebut omnibus dengan antologi. Kenapa tidak ada keterangan mengenai omnibus atau antologi di sampul buku, saya kurang tahu dan tidak tahu, "Apakah harus?" Setahu saya beberapa omnibook lainnya juga tidak menuliskan itu di sampul bukunya.
 
Balik ke Stasiun. Tokohnya ada dua orang: Adinda dan Ryan. Latarnya ada satu: Stasiun Bogor. Tema utamanya, menurut saya, adalah menangkap potret kehidupan di stasiun dan kereta yang seringkali terlewatkan dan tidak terpikirkan bahkan oleh saya yang pengguna kereta. Setiap bab berkesan buat saya karena mewakili apa yang saya lihat, dengar, alami dan kadang-kadang renungi ketika saya berkereta. Cynthia Febrina menuliskan dengan sangat baik bagaimana kita seharusnya berempati dengan sesama. Dia memberikan bacaan yang berbeda di tengah menjamurnya (maaf) buku bergenre romance yang ceritanya hanya itu-itu saja. Sebagai pengguna CommuterLine (atau dulu beberapa kali KRL Ekonomi) saya paham betul apa yang ingin disampaikan si penulis. Walaupun beberapa bagian akan terasa 'masa lalu' karena peraturan tarif CommuterLine sekarang sudah berubah dan KRL Ekonomi sudah dihapus.
 
Buat yang tidak tahu atau belum pernah merasakan naik kereta commuter di wilayah Jabodetabek, coba intip foto-foto yang diposting penulisnya DISINI. Itu membantu untuk membayangkan dan memahami situasi yang ingin digambarkan si penulis.
 
Saya sarankan kamu membaca buku ini kalau ingin mendapatkan bacaan dengan tema berbeda, terutama kamu yang ingin kembali mengasah empati yang sudah mulai tumpul. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini.
 
Terakhir, saya berharap Cynthia akan melanjutkan kisah Adinda dan Ryan menjadi full romance novel ^_^

12 Agu 2013

[IRRC2013 #3] Book Review: Orang Ketiga

Kesan pertama saya ketika membaca judulnya adalah saya tidak mau membaca buku ini. Saya tidak suka fokus cerita 'Orang Ketiga' karena tidak sesuai prinsip saya yang pemuja single relationship man and women sesusah apa pun hubungan itu. Tetapi, saya beruntung karena bertemu langsung dengan penulisnya -Yuditha Hardini- dalam kesempatan yang tidak terduga. Saya yang mudah penasaran ini jadi tertarik ingin membaca bukunya :p
 
Sosok Anggi -tokoh utama novel ini- digambarkan sangat mudah jatuh cinta pada lawan jenis. Dia juga plin-plan; tidak jelas mencari apa dalam sebuah hubungan, selain sekedar happy. Kalau saja saya tidak punya teman seperti Anggi, pastilah saya sudah menghujat si tokoh ini habis-habisan.
 
Beruntungnya si Anggi ini punya teman penyeimbang, sahabatnya yang bernama Kayla. Sahabat yang selalu mengingatkannya untuk memakai logika dan bersikap wajar, kalau tidak mau dibilang kecentilan. Beruntungnya lagi, si Anggi juga punya Rudi, sosok kakak yang siap sedia melindunginya. Sialnya, si Anggi juga bertemu Angga yang dicintainya setengah mati walaupun bisanya hanya mengobral janji.
 
Novel ini ditulis  dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Cara penulisan inilah yang paling tidak saya sukai dari novel ini. Saya tidak suka cara penulis membahasakan tokoh utama. Saya merasa terganggu (sekali) dengan penyebutan 'cowok ini' atau 'cewek ini' yang terkesan kasar di telinga saya (eh salah, maksudnya mata kali ya :p). Saya bukan penulis apalagi ahli sastra, tetapi kalau boleh saya menyarankan penggunaan kata yang lebih halus, cukup menggunakan kata 'dia' atau sebut saja nama si tokoh, Anggi atau Angga.
 
Menurut saya, beberapa bagian tampak terlalu dipaksakan misalnya penggunaan tes psikologi untuk memilih pasangan. Buat saya sih agak terlalu jauh dari realita, karena beberapa teman saya yang juga psikolog (ini latar belakang penulis) biasanya cukup membaca tulisan tangan atau analisis karakter dari tanda tangan saja. Tapi tak apa sih, tidak terlalu mengganggu dan saya tetap bisa menikmati.
 
Overall, dengan alur maju yang digunakan, cerita Orang Ketiga tetap bisa dinikmati. Toh, cerita semacam ini sebenarnya bertebaran dalam kehidupan nyata di sekitar kita. Jadi, kalau ingin tahu bagaimana cara berpikir tokoh Anggi yang membuat saya kesal dan gemas, silakan membaca buku ini :D