Halaman

2 Feb 2014

Terbang Lebih Tinggi

Dear Iben,

Apa kabar? Kudengar. Oops..maaf, kulihat dari profil Linkedin-mu sekarang kau tidak lagi bermukim di Indonesia. Kau baru saja dipromosikan dan kini mungkin kau sedang menikmati indahnya kota Paris. Kota yang katanya eksotis. Hei, aku belum pernah kesana, jadi mana kutahu seberapa mengagumkannya kota itu.

Suatu waktu di masa lampau, aku meminta tanda tanganmu karena kau ternyata teman main salah satu mbak kosku. Ya, entah kenapa aku terjebak menjalani ospek bodoh di tempat kosku. Tapi tak apa, disitulah aku pertama mengenalmu, yang ternyata senior satu jurusan. Cara perkenalan kita sebenarnya memalukan dan membuatku tampak bodoh, jadi mari kita lupakan saja.

Sempat aku berharap kau akan menjadi salah satu asisten dosenku. Sayang, tak pernah kesampaian. Hingga suatu ketika, tanpa sengaja, kita berdua sama-sama terlibat dalam kepanitiaan salah satu acara seni di jurusan. Lalu dimulailah keakraban itu. Kita jadi sering bertukar cerita. Koreksi. Berdebat lebih tepatnya. Sejak itu aku tahu, kau seorang yang cerdas dan visioner. Walaupun seringkali sikap temperamentalmu membuat orang takut mendekat, tapi aku yakin, kau akan menjadi pemimpin yang kuat dan penuh ide kreatif. Lihat sekarang, ramalanku tidak pernah salah.

Sesudah kau lulus, aku kehilangan jejakmu. Tapi hidup akrab dengan kebetulan. Aku sudah sepenuhnya lupa padamu ketika kita kebetulan bertemu lagi. Kembali akrab walau hanya sesaat. Kau selalu terbang lebih tinggi dengan cepat sampai langkahku tak mampu mengimbangi.

Tanpa kusadari, kau adalah panutanku. Kau yang mengajariku definisi mimpi. Kau juga yang mengajariku caranya menikmati hidup. Menikmati pertandingan basket antar jurusan, aktif di berbagai kepanitian, siaran di radio kampus hingga dini hari, hanyalah sarana yang mempertemukan kau dan aku. Tanpa kausadari, aku selalu berusaha mencari kabar keberadaanmu dan sepak terjangmu.

Kini, aku berkantor di gedung yang pernah memberikanmu beasiswa master. Nama gedung yang terkenal sekaligus tempatmu mencatatkan ide-ide kreatifmu.

Seandainya masih ada kesempatan, aku ingin sekali lagi bertemu denganmu. Dan sekali ini, aku ingin kau benar-benar menjadi mentorku. Karena aku masih ingin terbang lebih tinggi.

Seandainya..

-motskee-

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari ke-2

1 Feb 2014

Dear Angel

Dear Angel,

Ini adalah surat pertamaku untukmu. Ketika aku akhirnya memilih melayangkan surat ini, sungguh aku sedang rindu. Ada banyak momen yang telah kita lewati bersama selama hampir tiga tahun. Kata orang, seiring berjalannya waktu memori itu terkikis. Aku tidak mampu merekam semua momen kita, tetapi aku berharap memorinya tidak lekang oleh waktu.

Aku masih ingat, ketika kamu pertama kali datang. Dalam hati aku membatin, anak ini cantik dan supel, khas orang-orang yang berkecimpung di dunia Marketing Communication. Sementara aku, hanya seorang Analyst yang setiap hari disibukkan dengan ribuan data dan angka di spreadsheet. Kamu seringkali sibuk bernegosiasi dengan banyak orang, sementara aku adalah orang yang hanya berbicara seperlunya. Aku cenderung serius, kamu cenderung santai. Karakter pekerjaan yang bagai bumi dan langit membuatku skeptis bahwa kita bisa menjadi teman dekat.

Kalau beda karakter pekerjaan belum cukup, aku masih punya segudang perbedaan antara kita. Kita mulai dari perbedaan etnis. Kalau kamu merayakan Imlek, aku dibesarkan dengan budaya Jawa yang amat kental. Di saat aku merayakan Lebaran, kamu merayakan Natal. Kita tidak pernah punya almamater yang sama. Tidak juga berasal dari jurusan pendidikan yang sama. Aku hobi membaca novel, sementara kamu jarang sekali menyentuh buku. Di saat aku bersemangat mengotak-atik gadget, kamu hanya menganggapnya sebagai sekedar barang untuk digunakan. Bahkan, setelah aku ingat-ingat, kita pun lahir di tahun yang berbeda, usiamu lebih muda daripada aku.

Tapi kenyataan kadang berbeda dengan logika. Kamu yang kupikir tidak mungkin menjadi teman dekat, ternyata menjadi sahabatku di kantor. Tetangga kubikel yang lebih dari sekedar menyenangkan. Orang yang membuatku bersemangat pergi ke kantor setiap pagi. Tempatku berbagi cerita tanpa batas. Mungkin tidak semua ceritaku bisa kau mengerti, tapi tetap saja aku membaginya denganmu. Kamu juga orang pertama yang akan memelukku dengan tulus ketika aku bersedih dan menangis. Saling menyemangati saat beban pekerjaan membuat kita jenuh.

Sayang, jalan yang kita pilih tidak bisa selalu sama. Sekarang, kita sudah berpisah. Aku tidak lagi ada di sisimu secara fisik. Tapi, aku janji, kamu selalu punya tempat istimewa di hatiku. Walau aku tidak selalu menyapamu di social media atau menanyakan kabarmu melalui telepon pintar, aku selalu mengingatmu. Seperti hari ini. Melalui surat ini. I LOVE YOU.

With Love,
motskee

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari ke-1


14 Jan 2014

Indonesian Romance Reading Challenge 2014


 Indonesian Romance Reading Challenge (IRRC) adalah tantangan bagi para pembaca untuk membaca dan menulis review buku bergenre roman karya asli penulis Indonesia. Ya, harus karya asli penulis Indonesia dan bukan terjemahan. Tujuannya supaya kita para pembaca bisa saling berbagi untuk meningkatkan minat baca buku-buku karya penulis Indonesia. Harapan lainnya ya agar para penulis juga bisa lebih semangat dan terus memperbaiki diri ketika karyanya diapresiasi.

Tenang, jumlah buku roman karya penulis Indonesia sekarang jumlahnya amat sangat banyak di toko buku. Bisa dilihat juga dari makin beragamnya kategori buku roman yang dibuat oleh penerbit. Misalnya Gramedia Pustaka Utama punya lini Metropop dan Amore. Lalu, Gagas Media juga di tahun 2013 lalu mengeluarkan seri STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) yang hampir semuanya kental dengan nuansa roman. Buku-buku roman dari penerbit Plot Point atau Bentang Pustaka atau Penerbit Haru atau yang lainnya juga banyak menawarkan cerita roman yang lebih berwarna.

Tahun 2013 lalu IRRC dimoderatori oleh Mbak Yuska (@yuska77). Tetapi, tahun ini berpindah ke Peri Hutan (@peri_hutan) karena satu dan lain hal. Saya? Tetap mendaftar sebagai peserta sih, walaupun biasanya saya baru mengebut menyetor hasil review menjelang akhir tahun ^_^

Masih seperti tahun lalu, ada beberapa level challenge di IRRC 2014 yaitu:
Fling: membaca 1-5 buku
First Date: membaca 6-10 buku
Going Steady: membaca 11-20 buku
Engaged: membaca 21-30 buku
Married: membaca 31+ buku
Mengingat kemampuan membaca saya yang sedang lambat dan target baca Goodreads yang gagal total, kali ini saya memilih level First Date saja. Jadi, hampir tidak ada peningkatan dari tahun lalu :p

Buat kamu yang berminat ikut, masih belum terlambat, karena pendaftarannya dibuka sepanjang tahun. Informasi lebih rinci mengenai IRRC 2014 bisa dilihat DISINI.

Jadi, selamat membaca dan menanti review dari saya ^_^


22 Nov 2013

[Fiction] Ruined Date

 
Aku udah di lobby. Kamu bisa turun sekarang?

 

Akhirnya kabar yang gue tunggu itu datang juga tepat pukul 20.00 WIB. Sebenarnya gue sudah bisa pulang sejak satu jam yang lalu. Tapi, apa daya ternyata si pacar masih terjebak macet. Sambil merapikan meja, gue mengetik jawaban singkat via WhatsApp.

 

Yup. Give me 5 minutes.

 

Gue terpana selama lima menit melihat tampak belakang si pacar tercinta. Posturnya yang tinggi dan tegap selalu membuat dada gue berdesir. Baik dulu maupun sekarang setelah 6 tahun menjalin hubungan putus-sambung dia masih selalu membuat gue terpesona. He never failed me. Or anyone who sees him.

Hanya dari fisik saja, dia tidak bisa tidak membuat mata para kaum hawa melirik. Apalagi kalau mereka tahu bahwa pacar gue yang luar biasa ganteng ini ternyata juga jenius luar biasa. Apa namanya kalau bukan jenius, bisa lulus cumlaude dari jurusan Teknik Industri dari salah satu universitas negeri berlambang Ganesha, padahal di saat yang sama dia juga drummer andal dari grup band lokal dari Bandung yang sedang naik daun saat itu. Jadi, selain kuliah, dia juga sibuk manggung. Entah kapan dia masih punya waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas. Oh, atau dia memang tidak perlu lagi belajar karena seseorang yang memiliki extraordinary memory katanya sih bisa mengingat gambar, suara dan obyek secara akurat hanya dalam waktu singkat.

"Mara?" Suara yang alpa gue dengar selama 3 bulan terakhir ini sontak membuyarkan lamunan. Beruntungnya gue tidak lupa memberikan senyum paling manis hanya untuk dia.

"Hai, Nik! Kita langsung jalan naik mobil aku kan? Aku parkir di 3A. Yuk!" Dia hanya mengangguk kecil sambil memberi kode menyuruhku jalan lebih dulu. Khas Nikko, pelit kata-kata.

Sejam kemudian gue dan Nikko sudah duduk berhadapan di Tokyo Skipjack; salah satu warung steak di daerah Bulungan, Jakarta Selatan. Kami sengaja memilih meja agak di pojok supaya bisa mengobrol lebih leluasa tanpa harus terbatuk-batuk karena asap rokok pengunjung lainnya.

"Mara! Mara!!" suara pria yang tidak asing di telinga memanggil gue dengan nada ceria. Mendadak gue gugup, berharap semoga tidak ada kejadian tidak diinginkan malam ini.

"Mar, tumben banget nih kita ketemu disini. Gue pikir kita bakal ketemu di bar kayak minggu lalu. Kalau sekarang, lo masih sadar kan? Gak teler kayak kemarin," kata temen gue bernama Victor ini sambil cengar-cengir. Victor kalau ngomong memang tidak pernah disaring dan tidak peduli situasi. Duh, apes banget sih gue ketemu manusia ini disini. Pakai bongkar-bongkar aib kalau gue teler lagi. Gue gak berani melirik Nikko, tapi gue tahu dia menatap gue tajam dengan pandangan bertanya-tanya. Garis mukanya mengeras.

Gue tidak menanggapi pertanyaan Victor dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan, "Lo kesini sama siapa, Vic? Sering kesini juga?"

"Tuh, teman-teman gue disana. Habis ini mau lanjut kumpul-kumpul di penthouse-nya Rizal. Lo gak tertarik ikutan? By the way, Denny tanya-tanya tentang lo terus ke gue. Lo gak ada apa-apa kan sama dia waktu kemarin dia nganterin lo pulang?" Saat itu juga rasanya gue ingin menghilang ditelan bumi. Gue lihat Nikko langsung mengubah posisi dari membolak-balik buku menu menjadi bersandar di bangku dan melipat tangan di depan dada. Kenapa Victor harus mengungkit soal Denny?

"Eh, Vic, sudah kenal belum? Kenalkan ini Nikko. Nikko, ini Victor, teman kuliah aku, dulu kita sama-sama jadi penyiar di radio kampus." Lagi, aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Nikko dan Victor akhirnya saling tatap dan berjabat tangan ala kadarnya. Mungkin saat itu Victor baru sadar kalau gue sedang tidak sendiri.

            Kencan malam ini akhirnya gagal total. Nikko cuma diam seribu bahasa dan tidak bereaksi. Dia tidak bertanya kenapa gue bisa teler dan pulang bareng Denny, yang tentu saja dia tidak kenal. Nikko mendadak diam seribu bahasa. Setelah Victor meninggalkan meja, dia langsung membayar bill. Nikko memang mengantar gue sampai di rumah, tetapi tidak mampir untuk sekedar memberi salam pada orang rumah seperti biasanya. Di tengah perjalanan dia sengaja sudah menelepon taksi, jadi begitu sampai depan rumah gue dia langsung pulang naik taksi yang dipesannya.

            Tinggallah gue yang bingung harus bersikap bagaimana. Kenapa justru disaat Nikko sudah kembali ke Jakarta, situasinya jadi runyam begini. Ini memang bukan pertama kalinya gue berselisih dengan Nikko. Tapi, kalau diingat-ingat ini adalah pertama kalinya kami berselisih selama setahun terakhir. Entah kenapa perasaan gue tidak enak. Feeling gue bilang masalah ini akan jadi panjang.
 

15 Nov 2013

[IRRC2013 #8] Book Review: Fly To The Sky

 

Sesungguhnya saya sedang tidak ada ide menulis review, apalagi buku ini sudah selesai saya baca sebulan yang lalu. Awalnya memang banyak pertanyaan yang berseliweran di otak, tetapi rutinitas tiba-tiba menguapkan ide saya. Maaf. Walaupun demikian, mari kita coba paksa membuat review dengan pancingan point of discussion yang biasa dipakai klub buku Reight. Boleh ya pinjam poin-poinnya (^^)
 
Berikut adalah point of discussion versi saya setelah membaca Fly To The Sky yang ditulis oleh penulis Gagas Duet: Nina Ardianti dan Moemoe Rizal :
 
1. First Impression
Saya suka sampulnya yang didominasi warna biru dan pink. Biru mewakili tokoh pria yang ditulis Moemoe dan pink mewakili tokoh wanita yang ditulis Nina. Sejak membaca blurb-nya saya sudah jatuh cinta dengan kisah pertemuan yang ditulis dari sudut pandang tokoh pria dan wanita ini. Terlebih karena saya lebih dahulu membaca Restart by Nina, jadi penasaran juga dengan cerita Edyta. Bonusnya, tidak banyak novel yang bisa mengangkat topik aviation. Saya yang sudah kenyang dicekoki anything about aviation with my hubby jadi amat sangat tertarik :p
 
2. How did you experience the book
I really really really enjoyed this book!! For both sides, i love it all!
 
3. Characters
EDYTA: Seperti wanita (yang mengaku) mandiri yang hidup di Jakarta pada umumnya, Edyta memang cerewet dan sloppy. Apalagi habit di keluarganya yang memang memanjakan dia. Wajar kalau Edyta jadi bawel dan cenderung emosian. Tapi, dari Fly To The Sky saya paham bahwa Edyta sebenarnya thoughtful.
 
ARDIAN: Seperti pria (yang mengaku) gentle yang memang hidup mandiri di Jakarta pada umumnya, Ardian luar biasa cool. Ya iyalah..kalau tidak bagaimana dia bisa menjadi pilot yang memang dituntut punya self-controlled tinggi terutama di keadaan mendesak. But hey..kena batunya juga kan, kalau kesempurnaan itu sudah ada di diri pasangan kita, apa asyiknya pacaran ^^v
 
4. Plot
Ehm, apa ya plotnya? Kalau tidak salah sih masuk kategori alur maju. Tidak pentinglah plotnya apa, kalau ceritanya seru ya dinikmati saja :D
 
5. POV
For both sides, pakai POV orang pertama.
 
6. Main idea/theme
Serendipity! Sinetron banget atau film banget. Sudah pernah ada yang buat survey belum sih berapa banyak pasangan yang akhirnya menjadi real couple karena kejadian tidak sengaja bertemu? Penasaran ingin tahu hasilnya kalau ada :)
 
7. Quotes
Please see picture for my favorite quote ^_^ 
 
8. Ending
Fine! I don't wanna say it was Perfect since the writers do not want to continue the stories :p
 
9. Question
- Periode ketika novel ini ditulis mungkin aplikasi BB-nya belum canggih ya? Karena pengalaman saya, walaupun fisik BB hancur, kalau sudah di-back-up by email, begitu email di-push lagi semua contact otomatis restore. Tapi, at the same time BB dua2nya rusak sih ya.. :p
- Insting saya sih bilang kalau restoran Candra Kirana ini ada wujud aslinya. Jadi, alamatnya dimana, kak? Supaya bisa saya datangi, siapa tahu ada yang kesangkut juga :D
- Kak Moemoe punya ID Indoflyer? Mau tahu dong..hahaa..
 
10. Benefits
Saya dapat banyak informasi mengenai dunia perbankan dan aviation melalui novel ini. Kalau Nina memang bekerja di bank, jadi tidak perlu heran dengan segala informasi tentang banking. Tetapi, saya harus bilang risetnya Moemoe untuk aviation keren. Hanya orang-orang yang memang hobi (selain yang memang bekerja di industri penerbangan) yang bisa paham betapa serunya nongkrongin Air Crash Investigation atau menghabiskan waktu berjam-jam menekuni forum Indoflyer. Awesome!
 
Saya akan dengan senang hati merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang sedang butuh bacaan romantis tetapi tidak menye-menye. Semua judul bab-nya dijamin menampar. You must read this book! Yes, you! (^_^)

14 Nov 2013

[Fiction] Morning SMS

Gue tahu, gue bukan satu-satunya manusia di Jakarta yang terjebak kemacetan luar biasa. Gue juga tahu, gue bukan satu-satunya yang merutuk dan memaki di saat gue merasa kondisi lalu lintas ini membunuh gue perlahan-lahan. Gue sudah mencoba semua alternatif transportasi menuju kantor, tapi ujungnya tetap sama. It sucks!
Menyetir mobil pribadi atau disopirin berarti akan terjebak kemacetan tak berujung. Naik taksi berarti ada pembengkakan biaya transportasi yang memaksa gue harus makan siang di warteg selama seminggu. Naik motor di saat cuaca lebih sering hujan begini bisa berarti tambahan biaya membeli obat flu. Naik Commuter Line berarti ada tambahan biaya untuk pijat karena penuhnya yang tidak manusiawi rentan membuat otot keseleo. Naik bus umum atau angkot berarti ujian tingkat kesabaran karena ada saja om-om atau mas-mas genit yang sok SKSD (baca: sok kenal sok dekat). Jadi, apalagi pilihannya?
Gue masih akan mengeluh lebih panjang lagi kalau tidak terdistraksi. Dan akhirnya yang berhasil menghentikan semua keluh kesah gue hanyalah pesan singkat yang tiba-tiba masuk di ponsel.

Aku balik nanti sore. Mau dinner bareng? Hari ini ke kantor naik apa?

Seketika dunia gue menjadi indah dan berseri. Peduli setan sama kondisi jalanan yang bikin sakit jiwa. My lover is back! Gak ada hal lain yang lebih penting daripada ketemu pacar setelah tiga bulan gak ketemu. Kalau jaraknya cuma Jakarta – Bandung seperti zaman kuliah sih tidak masalah. Tetapi, ketika jaraknya menjadi Jakarta – Dubai, mencari waktu yang tepat hanya untuk bertatap lewat skype pun menjadi tantangan tersendiri.

Mau! Tapi hari ini aku bawa mobil. How?

Secepat kilat gue mengetik balasan SMS mengingat sebentar lagi dia pasti sudah boarding. Hebatnya kemacetan Jakarta ini adalah gue bisa multitasking. Sambil menyetir bisa sambil sarapan atau main Candy Crush atau ya sekedar mengetik SMS. Tidak sampai tiga menit, SMS balasan diterima.

I'll come to your office. Just wait. I'm boarding. See you.

Lalu berakhirlah acara berkirim pesan yang super singkat itu. Tidak pernah ada kata-kata romantis seperti I Love You atau I Miss You. Setiap kali gue tanya kenapa, dia cuma berkata bahwa sebuah hubungan serius itu lebih dari sekedar kata-kata. NATO (baca: No Action Talk Only) tidak pernah ada dalam kamusnya. Walaupun pada awalnya gue protes, tetapi tidak ada yang bisa gue lakukan selain pasrah. Gue ikhlas kok menerima asal dia serius sayang sama gue. Oke, mulai berlebihan, sebentar lagi mungkin gue akan menerima lemparan duit dari wanita-wanita se-Indonesia. Jadi, daripada gue mulai mengoceh tak tentu arah, mari kita nikmati sajalah sepanjang hari ini sambil menunggu jadwal kencan nanti malam.

- to be continue -

Note : (catatan motskee supaya tidak lupa :p)
1.     DXB (04.40) – CGK (15.45) à Emirates
2.     CGK (00.15) – DXB (05.35) à Emirates
3.   Selisih waktu Jakarta – Dubai = 3 jam. 4am Dubai = 7am Jkt. 8am Jkt = 5am Dubai.

29 Okt 2013

[IRRC2013 #7] Book Review: Mahogany Hills

Mahogany Hills membawa saya kembali bernostalgia ke masa saya KKN (baca: Kuliah Kerja Nyata :p) di Desa Puraseda, Leuwiliang, Bogor. Saya jadi mengingat kembali bagaimana segarnya udara di pegunungan, menikmati berjalan-jalan di pematang sawah, hidup bersahaja tanpa hiruk-pikuk social media (ya iya karena memang tidak ada sinyal ponsel yang tertangkap :D) dan menghabiskan sisa malam hari hanya dengan mengaji (karena memang hanya itu yang bisa saya lakukan :p).
 
Sebenarnya sudah lama saya mengincar novel yang menjuarai Lomba Penulisan Novel Amore 2012 yang diadakan Gramedia Pustaka Utama ini. Jadi, saya senang ketika buku ini masuk dalam paket Blended LitBox ke-2 yang saya pesan. Mahogany Hills karya Tia Widiana menjadi novel Amore pertama yang saya baca. Tetapi, sampai selesai membaca saya masih belum begitu jelas, lini Amore ini sebenarnya mengkhususkan genre apa? Buat saya, Amore tidak ada bedanya seperti novel romance biasa walaupun jelas bukan kategori Metropop.
 
Menjalani pernikahan dengan seseorang yang memang kita cintai saja, belum tentu mudah. Apalagi bagi pasangan PARAS AYUNDA BAKHTIAR dan JAGAD ARYA ARNAWARMA yang disatukan melalui perjodohan. Mengutip dari kata-kata di bukunya, "..cinta itu sederhana. Cinta adalah memberi, menerima dan memaafkan." Walaupun cinta itu sederhana, tetapi proses menemukan cinta biasanya penuh perjuangan. Proses itulah yang dialami Paras dan Jagad selama mereka tinggal bersama di Mahogany Hills.
 
Saya suka karakter Paras yang smart, tenang dan tegar; selalu berusaha berpikir rasional dan memikirkan dengan baik dampak dari setiap aksinya. Saya juga suka karakter Jagad yang care, baik hati dan setia; walaupun ada saat-saat dia amat keras kepala. Tia membangun karakter tokohnya dengan baik. Tanpa sadar saya terbawa ke dalam cerita dengan alur yang mengalir. Saya diajak ikut merasakan kegetiran Paras dan kebimbangan Jagad.
 
Sudah lama saya tidak membaca buku yang ditulis dengan bahasa Indonesia baku, tetapi tidak kaku dan tetap enak dinikmati. Salut dengan bahasa santun dan pilihan diksi yang digunakan penulis. Pendeskripsian latar tempat Mahogany Hills juga baik.
 
Kalau ada yang terasa 'kurang' buat saya adalah kemunculan mantan-mantan Paras dan Jagad yang ceritanya tidak dieksplorasi, jadi konfliknya terasa kurang greget. Selain itu, peran orang tua dan mertua juga kurang ditonjolkan padahal ada kejadian yang menurut saya cukup penting. Di kehidupan nyata, orang tua dan mertua saya sudah pasti akan panik dengan kejadian yang menyebabkan nyawa saya hampir melayang.
 
Terakhir, saya merekomendasikan membaca buku ini kalau ingin mendapatkan citarasa berbeda selain romansa kehidupan metropolitan.
 

18 Okt 2013

Personality Test

Sebenarnya ini cuma iseng, tapi ya hasilnya lumayan. Daripada hilang tertelan timeline Path, jadi saya post di blog. Lumayan sebagai pengingat untuk saya pribadi :p
 

16 Okt 2013

Your Friends

Create this post while listening to Toss The Feathers by The Corrs makes me miss my Geng Senggol.
Love the girls so much.
 
Dua hari terakhir saya sengaja menjauhkan diri tumpukan novel yang belum terbaca atau drama Asia yang belum sempat saya tonton atau bahkan twitter tempat saya menyalurkan kebawelan saya. Jadi, apa yang saya lakukan? Saya memaksa diri untuk bercermin.
 
"Finally i realized, it's not about challenging job or benefit that makes you stay longer in a company. It's all about Friends and Ambience."
 
Kira-kira begitulah hasil merenung saya. Pada satu titik, saya akhirnya sadar bahwa yang membuat hidup saya lebih berwarna setiap hari adalah sahabat-sahabat saya di kantor. Di tengah gempuran deadline pekerjaan atau problem yang muncul ketika mengerjakan project (almost) impossible, saya mampu bertahan karena ada dukungan dari mereka. Bukan berarti mereka mengerjakan tugas saya, tetapi sekedar obrolan singkat yang bukan melulu pekerjaan, lunch bareng, pelukan ketika diam-diam saya terisak atau sekedar menepuk-nepuk pundak saya ketika saya menerima omelan dari orang lain, ternyata cukup besar pengaruhnya. Menenangkan.
 
Saya bukannya hanya berteman yang 'manis' saja. Beda pendapat dan adu argumen itu biasa terjadi. Bukan hanya sesama rekan kerja, tetapi juga dengan atasan atau tim departemen lain. Bahkan tidak jarang saya mengamuk kepada tim saya kalau deadline report terlewati. Tetapi, selama tidak berlebihan, dikomunikasikan dengan cara yang baik dan tidak terbawa personal, semuanya pasti bisa dilalui dengan lancar. Terlebih bila kultur yang ada di perusahaan dan pihak manajemen memang memberikan ruang gerak yang cukup untuk berekspresi sebebasnya. Wah, itu luar biasa.
 
Jadi, ketika kamu merasa bersemangat berangkat ke kantor bukan hanya sekedar mencari nafkah, tetapi karena ingin bertemu dengan teman-temanmu, maka bersyukurlah. Teman baik atau sahabat sekantor atau office-soulmate itu ternyata tidak begitu saja tersebar di semua tempat.
 
Atau, ketika tanpa sadar kamu sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun di suatu perusahaan dan belum merasa bosan, maka nikmatilah. Itu berarti kita merasa nyaman berada disitu. Sadarilah bahwa lingkungan yang nyaman untuk bekerja itu tidak bisa ditawarkan di semua tempat kerja.
 
Menurut pengalaman saya, bekerja di lingkungan yang nyaman dan dikelilingi teman-teman yang sehati akan membuat kita merasa senang. Happy itu ternyata penting karena biasanya output-nya juga baik, kita jadi bisa memberikan the best performance. Buat saya, happy karena teman dan ambience ternyata memberikan efek lebih besar daripada sekedar challengin job atau benefit package yang menggiurkan. Bukan berarti saya tidak bisa bekerja tanpa teman dan lingkungan yang nyaman. Bisa, tetapi hasilnya tidak maksimal.
 
So, before you decide to move to another company, please look at the mirror. What is your character? What is the most important thing in your life? What are you looking for? Ask yourself and think deeply.
 

14 Okt 2013

Another Chance

 

Semesta itu memberikan banyak pilihan untuk dijalani. Ada kalanya kita bisa memutuskan akan melakukan yang mana dengan cepat dan pasti. Tanpa ragu. Tetapi, ada kalanya kita merasa bingung ketika dihadapkan pada pilihan. Tidak tahu harus memilih yang mana karena merasa takut salah. Takut kalau hasilnya tidak sesuai dengan keinginan.
 
Risiko. Kita kadang lupa bahwa pada setiap pilihan selalu ada risiko. Risiko dengan kadar probabilitas yang beragam. Bisa jadi kita memilih jalan yang sesuai dan paling cepat mewujudkan keinginan. Hingga yang terbentuk adalah rasa puas. Tetapi, apakah itu berarti, pilihan lainnya salah? Belum tentu. Bisa jadi pilihan lainnya justru memberikan hasil yang melampaui keinginan. Kita tidak tahu karena kita tidak memilihnya dan tidak menjalaninya.
 
Lalu, kalau kita merasa tidak puas, apakah itu artinya pilihan kita salah? Menurut saya, pilihan dan apa pun keputusan kita pada awalnya tidak pernah salah. Ini hanya masalah persepsi. Ketika hasilnya mulai terlihat dan kita merasa tidak puas, itu artinya kita mempersepsikan hasilnya jauh dari apa yang kita inginkan. Bukan berarti keinginan kita tidak bisa terwujud. Bisa, tetapi ternyata memerlukan waktu lebih lama. Bisa, tetapi ternyata memerlukan resources lebih banyak. Dan segudang alasan lain yang akhirnya membuat kita menarik napas panjang.
 
Persis seperti yang saya alami sekarang. Pada dasarnya saya bukan risk taker. Itu sebabnya saya perlu waktu lama untuk berpikir sebelum akhirnya memutuskan. Inginnya hasilnya bisa memuaskan. Tetapi, siapa yang menyangka bahwa beberapa bulan kemudian setelah menjalani, hasilnya ternyata tidak memuaskan. Saya merasa salah.
 
Tetapi, saya tidak mau menyesal. Selama saya menjalani, saya belajar mengenal diri saya lebih baik lagi. Saya tetap menjalani hasil keputusan awal saya dengan segala daya yang saya miliki. Saya masih belum mau berhenti mencapai mimpi saya sambil terus berpikir positif.
 
Sampai akhirnya kesempatan lain datang. Ya, sekali lagi saya diberi kesempatan untuk memilih. Dan sekali lagi, saya ingin mencoba menjadi risk taker. Tentu dengan pengenalan diri yang lebih baik dan proses berpikir yang lebih matang, saya juga menjadi lebih kuat.
 
Jadi, izinkan saya sekali lagi memilih. Doakan saya semoga kali ini pilihan saya memberikan hasil yang memuaskan.
 
Semoga. Bismillah..