Halaman

4 Jun 2015

Dara: Checkin' Off The List



Aku berjengit ketika jendela kaca mobilku diketuk. Mama sudah berdiri di samping pintu mobil dengan wajah khawatir. Aku tersenyum tipis dan segera membuka pintu.
“Kamu sakit, Nak? Kenapa sedari tadi kamu tidak juga masuk? Kamu sudah sepuluh menit lho diam begitu di mobil.” Mama bertanya sambil memegang dahiku. “Kamu lemas ya? Darah rendahmu kumat?” Aku masih diam tak menjawab ketika mama menggamit lenganku, berniat memapahku masuk rumah.
“Nggak, Ma. Dara baik-baik saja. Tadi cuma sekedar melepas penat saja. Jangan khawatir begitu dong. Yuk, kita masuk.” Aku merangkul sayang bahu mama sambil tersenyum. Usia mama memang sudah tidak muda lagi, tapi pesona kecantikannya tidak pernah pudar. Aku sayang sekali padanya. Walaupun beliau juga sering membuatku kesal karena desakannya supaya segera menikah, dia tetap orang yang paling kusegani. Tempatku mengadu ketika aku terjatuh dan merasa tak punya daya untuk bangun.
Aku memerhatikan tangannya yang dengan telaten menyiapkan teh manis hangat untukku. Tidak pernah kuminta, tetapi selalu beliau siapkan setiap aku berangkat dan pulang kerja. “Kamu harus banyak minum manis, Dara. Kamu ingat kan kalau punya darah rendah? Jangan sampai kamu pingsan saat sedang beraktivitas dan membuat panik orang di sekitarmu.”
“Iya, Ma. Dara tidak sedang lemas kok. Tadi hanya kebetulan saja sedang tanggung mendengarkan lagu yang diputar di mobil. Jadi ya diam dulu sampai lagunya habis.” Aku berusaha mencari alasan agar tidak membuatnya khawatir lagi.
Mama melirikku gelisah. Aku menangkap sinyal itu. Beliau pasti ingin menanyakan kabar pertemuanku dengan Harsa siang tadi. Aku sengaja diam saja, pura-pura tidak tahu sambil terus menikmati tehku.
“Mbak, tadi bagaimana?” Akhirnya mama bertanya juga.
“Bagaimana apanya?” Aku menahan senyumku dan masih berlagak tak mengerti.
“Tadi siang jadi ketemu dengan anaknya Bu Tris kan?” tanyanya penasaran.
“Jadi,” jawabku singkat sambil terus mengulum senyum yang dibalas dengan cibiran kesal mama.
“Cerita dong, gimana tadi? Anaknya Bu Tris ganteng ya, Mbak? Mama sudah pernah ketemu sekali waktu anaknya itu sedang menjemput Bu Tris di acara pengajian dua minggu lalu. Sopan dan ramah sekali. Mama mau deh punya mantu kayak gitu,” kata mama sambil menerawang yang justru membuatku terbelalak.
“Duh, Mama mimpinya tinggi amat. Belum tentu Dara cocok sama dia. Belum tentu juga dianya mau sama Dara.” Aku berusaha menurunkan harapan mama. Bukannya apa-apa, kalau yang ini sampai gagal juga, pasti beliau sedih sekali.
“Makanya kamu jadi orang yang lebih sabar dong. Tidak baik kalau wanita itu terlalu ambisius dan keras kepala seperti kamu. Apalagi kalau sedang marah, kamu bisa teriak-teriak histeris begitu. Bikin takut yang mau dekat sama kamu. Wanita itu sudah kodratnya lebih sabar dan lemah lembut. Harus tetap pintar dan mandiri, tetapi halus sikap dan tutur bahasanya.”
“Iya, Ma. Dara janji mau belajar lebih sabar dan gak judes lagi.”
“Benar ya, Nak. Kata-kata mama didengarkan, jangan cuma masuk kuping kanan terus keluar kiri. Umurmu sudah tidak muda. Sudah seharusnya menjadi lebih sabar dan anggun.” Mata mama menatapku tajam. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
“Iya, Mama sayang. Sudah ya. Dara ke kamar dulu. Terima kasih tehnya, Mama sayang.” Aku beranjak dari kursi sambil mencium pipi mama lembut.
Baru setengah jalan menuju kamar, kudengar mama berteriak memanggilku. “Lho, Dara, kok kabur sih? Itu tadi belum jadi cerita gimana ketemuannya?.” Aku tersenyum dan menyahut cepat, “Besok aja ya, Ma, ceritanya, Dara capek banget tadi habis meeting.” Tidak kudengar lagi sahutan mama. Aku yakin beliau masih menggerutu tetapi tidak berusaha menahanku lebih lama.
Mataku masih menatap nyalang ke langit-langit kamar. Resah berguling ke kanan dan kiri demi memikirkan tawaran Harsa. Tidak tampak seperti tawaran karena dia sepertinya tidak peduli dengan pendapatku dan malah memaksaku mengikuti maunya. Sebenarnya aku takut. Bagaimana kalau proses pendekatan ini tidak berhasil?
Pendekatan dalam waktu 30 hari itu terbilang singkat mengingat biasanya aku hanya bisa pacaran dengan orang yang sudah lama kenal denganku. Orang baru biasanya akan langsung menyingkir, tidak tahan dengan sikapku yang galak. Hanya orang yang sudah kenal dekat denganku saja yang paham bahwa aku tidak sekeras apa yang kutampilkan. Itu hanya samaran supaya aku tidak dianggap lemah. Aku hanya tidak ingin Harsa kaget. Aku sebenarnya ingin memulainya pelan-pelan. Pikirku masih melanglang ketika sebuah pesan singkat melalui WhatsApp mengusikku.
Sebagai langkah awal proses pendekatan, sebaiknya kita berusaha saling bertemu setiap hari. Dan itu dimulai dengan lunch bareng besok siang. Kebetulan besok aku ada meeting di dekat kantormu. Kita cari makan di SCBD saja. How? –Harsa-
Aku tidak segera membalas pesan itu. Berbagai pertanyaan berputar di kepalaku, memangnya dia tahu kantorku? Seingatku tadi kami bahkan belum sempat bercerita tentang pekerjaan masing-masing, apalagi sampai tahu alamat kantor.
Aku bergegas keluar kamar. Beruntung mama belum tidur dan masih menonton di ruang keluarga bersama papa. Aku langsung menghempaskan diri di sofa. “Ma, Mama cerita apa saja sama Bu Tris?”
Mama mengernyit mendengar pertanyaanku, “Cerita yang biasa saja, bilang kalau mama punya putri yang belum menikah. Kebetulan Bu Tris juga sedang mencari calon untuk anaknya, jadi ya kami coba tawarkan ke kalian apa mau kenalan? Sudah. Begitu saja.”
“Mama bilang pekerjaan dan kantorku ada dimana?” tanyaku.
“Tidak secara spesifik sih. Hanya bilang kalau kamu sudah kerja dan berkantor di Sudirman. Kenapa sayang?”
“Mama yakin Cuma bilang begitu saja?” kejarku masih belum puas.
“Iya, begitu saja. Memang kamu maunya Mama bilang apa? Bukannya kamu tidak suka kalau Mama cerita terlalu banyak tentang kamu?” jelasnya.
“Iya, sih. Ya sudah. Selamat istirahat, Ma, Pa. Dara balik ke kamar ya,” kataku singkat.
Di kamar aku masih termenung sampai sebuah pesan masuk lagi ke ponselku.
‘Kamu sudah baca pesanku tapi tidak dijawab? Please kabari aku secepatnya, supaya aku bisa atur jadwal besok siang. Have a nice dream, Dara.’
===============

Catatan hari ke-4:
Sesuai dengan topik #NulisRandom2015 maka cerita ini saya buat benar-benar tanpa kerangka atau penokohan. Ini adalah cerita fiksi dimana saya membebaskan imajinasi saya dan membiarkan alurnya mengalir tanpa pola. Proses pembuatannya pun cepat, kadang tanpa saya edit lagi. Jadi, mohon masukan dan kritiknya kalau memang ada kesalahan atau ceritanya terasa aneh. Please enjoy ^^

3 Jun 2015

#FFRabu - Belanja

 

“Minggu depan mau ada nonton bareng. Aku perlu kaos bola. Lebih bagus mana, kaos tim Belanda atau Inggris?” Dia bertanya sambil menunjukkan gambar dari salah satu toko online langganannya.
Aku meringis, “Ehm, dua-duanya oke. Terserah kamu saja mau pilih yang mana.”
“Atau aku beli saja dua-duanya?” sambungnya dengan mimik bingung.
“Lho, kenapa harus dua? Salah satu saja sepertinya cukup.” Aku langsung menyuarakan keberatanku.
“Memangnya kenapa kalau beli dua?” tanyanya dengan raut bingung.
“Ya, tidak apa. Tapi, sayang uangnya, bisa dipakai beli yang lain.”
“Beli apalagi?”
Aku tersenyum manis, “ Aku mau beli Lime Crime Velvetine Matte Lipstick.”
Lalu suasana hening.

=========

20150603 || Jumlah kata: 100 || Topik: Bola

2 Jun 2015

Harsa: To Fall In Love




Nama panggilannya Dara. Dia manis. Dia bukan model, jadi jangan bayangkan perawakan tinggi semampai dengan rambut hitam dan cantik luar biasa yang membuat kami, para Adam, akan segera menengok jika dia ada di sekitar. Dia sungguh sangat biasa. Tingginya hanya rata-rata wanita Indonesia, berat proporsional, rambut highlight dark brown dengan potongan bob sebahu, wajahnya hanya dipulas bedak dan lipstick tipis dengan penampilan casual. Sama sekali tidak mencolok.
Aku sudah mengamatinya sejak lima menit lalu. Sengaja tidak masuk ke dalam kafe tapi memandangnya dari samping jendela luar. Dia lumayan tenang, asyik sendiri dengan tablet di pangkuannya. Tidak mengetik atau bermain game, tebakanku, mungkin mengecek email saja. Dia tidak menghubungi ponselku, padahal aku sudah terlambat 15 menit. Apakah dia tipe wanita yang tidak perhatian dengan kekasihnya nanti? Aku mendengus. Itu yang harus aku cari tahu.
Baru beberapa menit dan kami sudah mulai tegang hanya karena menu pilihanku. Gosh! Masa dia tersinggung hanya karena aku memilih menu yang sama dengannya? Dan apa katanya, mengetes seleranya? Huh, dasar wanita! Buat apa aku mengetes seleranya makannya. Tidak penting.
“Kamu berapa bersaudara?” Pertanyaan bodoh macam apa itu. Otakku yang memiliki IQ diatas rata-rata ini mendadak tidak mau diajak berpikir kreatif. Aku memang ingin mengobrol dengannya, tetapi yang tercetus justru pertanyaan tidak berbobot itu.
Alisnya sedikit naik mendengar pertanyaanku, “Aku hanya berdua. Aku punya adik perempuan.” Oh, jadi dia anak sulung, pantas saja sikapnya setengah bossy. “Beda berapa tahun dengan adikmu?” Kepalang tanggung, kuteruskan saja proses perkenalan ini pelan-pelan.
“Kami beda lima tahun. Dia baru lulus, baru akan mulai bekerja minggu depan.” Intonasinya tegas saat menjawab pertanyaanku. Matanya tajam dan menatap tepat ke mataku. Menarik. Aku suka wanita yang berani macam dia. Mungkin, dia memang bisa menjadi penyeimbangku.
“Enak?” tanyanya. Aku menghabiskan kunyahan di mulutku sebelum menjawab, “Yup. Oke saja.” Dara menyipitkan matanya, “Enak karena kamu memang lapar? Atau taste-nya menurutmu enak?” Kejarnya lagi.
Aku terkekeh. “Aku sudah bilang tadi, aku bukan pemilih soal makanan. Rasanya memang enak, paling tidak cocok dengan lidahku. Tapi, ya, aku memang lapar juga. Apakah jawabanku cukup memuaskanmu, nona?” Kalau hubunganku bertahan lama dengannya, sepertinya aku harus mulai membiasakan diri dengan pertanyaan-pertanyaan Dara yang seolah tak pernah habis.
“Yah, setidaknya pilihan tempat dan menu makanku masih bisa dinikmati. Semoga kamu tidak kecewa,” katanya sambil menunduk ke piring makannya.
“Dara, sejak tadi, tidak sepatah kata pun aku menyatakan ketidaksetujuan atau kekecewaan pada pilihanmu. Kenapa kamu begitu memusingkan reaksiku?” cecarku.
Kudengar dia mendesah, “Cuma takut kamu kecewa. Ini pertemuan pertama kita.”
Aku terkikik dalam hati. Dia kuat, tapi juga rapuh. “Kamu begitu inginnya memberikan kesan yang baik padaku, ya? Kenapa? Dikejar target menikah?” Sial! Aku langsung mengutuki kebodohanku yang bertanya terlalu to the point.
Kulihat Dara tergagap. Wajahnya tegang dengan percik marah di matanya. Salah omong bisa menyebabkan ketidakjelasan pada masa depanmu. Itu tagline yang cocok untukku sekarang. Sok sekali aku menghakiminya seperti itu. Bahkan sebelum kisah kami dimulai.
Sorry! That’s rude. Aku gak maksud menyinggung,” kataku merasa bersalah.
Dia masih diam. Bahasa tubuhnya mencerminkan kalau Dara berusaha keras menahan diri. Ada senyum tipis yang dipaksakan ketika dia menjawab lugas, “Kalau ya, memangnya kenapa? Bukannya kamu juga sama? Itu sebabnya kamu ada disini bukan?”
“Ya. Kita sama, dikejar target menikah oleh orang tua. Kupikir kita harus berdiskusi soal itu sekarang,” kataku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, selagi gayung bersambut.
“Apa yang harus didiskusikan? Bukannya kita sekedar berkenalan saja sekarang, menuruti titah para ibu suri.” Dahinya mengernyit lagi. Lama-lama aku suka melihat ekspresinya yang serba serius begitu.
“Aku sudah capek dikejar pertanyaan ‘kapan nikah’ oleh banyak orang. Aku sudah mulai malas dengan usaha perjodohan yang dilakukan ibuku. Well, jadi, sekali ini aku ingin berniat serius. Kita buat perjanjian.”
“Perjanjian apa?” tanya Dara dengan muka bingung.
“Kita tetapkan batas waktu untuk usaha pendekatan. Pernah menonton film ’30 Hari Mencari Cinta’? Nah, kita buat saja ’30 Hari Pendekatan’ versi kita.” Dia masih tidak bereaksi sementara aku menanti was-was.
Lalu terdengarlah rentetan kata-katanya, “Kamu pikir kita sedang main-main? Harsa, dengar ya, aku sama kesalnya denganmu ketika semua orang merecokiku pasal menikah. Tapi, aku tidak pernah bermain-main urusan hati. Meskipun dengan berat hati, aku tetap datang ke sini demi menghormati mamaku dan ibumu. Dan sekarang kamu menawarkan perjanjian seperti main-main?”
Dalam hati aku menertawakan situasi ini. Seorang Harsa yang disegani di kantor karena kepintaran dan posisinya, kini dimarahi oleh seorang wanita yang bahkan baru dikenalnya beberapa menit. Aku mengatur napas. Sementara otakku bekerja keras merangkai kata dalam bahasa paling halus untuk menenangkan si putri marah. Ah, belum-belum aku sudah memberikannya julukan.
“Dara, calm down.” Aku mengelus lembut punggung tangannya yang langsung ditariknya. Dia mendadak bisu. Gelisah. Tapi tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari tempat duduknya. Thank God! Berarti dia masih bersedia mendengarkan alasanku.
“Kita berdua sama-sama dikejar keluarga untuk segera menikah. Kita berdua sama-sama menghormati titah ibu suri, katamu, makanya kita bersedia untuk ke sini dan berkenalan. Aku ingin serius, kuharap kamu juga. Kalau dari pertemuan pertama saja kita sudah langsung say ‘No’, mungkin sampai balik ke zaman Flinstones kita masih belum menikah juga. Makanya, mari kita sama-sama berusaha selama 30 hari untuk PDKT. Apa pun yang terjadi setelah itu, kita putuskan nanti, yang penting kita sama-sama berusaha, dengan sungguh-sungguh, saling mengenal.” Aku terengah-engah setelah berbicara panjang lebar. Ini ternyata lebih melelahkan daripada menjadi pembicara seminar sehari.
Makhluk manis di depanku tampak sedang berpikir serius. Alis mengkerut dengan bibir yang mengerucut membuatnya tampak menggemaskan. Auranya kuat sekali. Kutub magnetku seperti ditarik paksa mendekat padanya. Please say ‘Yes’ untuk tawaranku, dan kupastikan kamu jatuh cinta padaku. Tekadku.
=================

Catatan hari ke-2:
Saya tidak pernah menulis dari POV laki-laki. Kenapa? Karena saya perempuan dan saya tidak paham dengan pola berpikir pria. Saya tidak berani ambil risiko salah, sampai hari ini. Saya ingin mencoba berbicara dari sudut pandang laki-laki. Kalau tidak sesuai, mohon masukannya. At least, saya mencoba keluar dari zona nyaman :p

Dara: Play It Cool



Aku hampir tersedak. Oksigen di sekitarku mendadak surut. Dia macho. Tipeku. Alamak! Kalau begini bagaimana ceritanya aku menolak? Duh, si Mama kenapa tidak bilang sih kalau anak temannya macam ini. Kupikir Mama akan mengenalkanku pada pria alim dengan celana mengatung di mata kaki. Ya maklum saja, temannya itu teman mengaji mama di majelis taklim. Tidak kusangka anaknya sekeren ini.
“Maaf, kamu Dara?” Si macho yang ternyata sudah berdiri menjulang di depanku bertanya. Kapan dia jalan ke sini ya? Aku geli sendiri. Jelas saja aku tidak sadar, sedari tadi yang kulakukan hanya terpana dan sibuk dengan pikiranku sendiri.
“Iya. Saya Dara. Kamu, Harsa?” Nice job, Dara. Aku bersorak dalam hati. Untung aku ingat nama si macho ini. Padahal biasanya segala omongan mama terkait usaha perjodohan sudah pasti berlalu secepat kereta shinkansen di Jepang.
Si macho tersenyum sambil mengulurkan tangan, “Ya, saya Harsa. Putranya Bu Tris, teman mamamu. Sorry telat beberapa menit, cari parkirnya lumayan repot.” Aku tersenyum tipis menanggapi sapaannya.
“Mau pesan apa?” kataku sambil mengangsurkan buku menu. “Kebetulan tadi aku sampai 15 menit lebih dulu dan karena aku lapar, aku sudah pesan duluan. Sorry.”
“Tidak apa,” katanya singkat sambil menelusuri daftar makanan dan minuman di buku menu. Dahinya berkerut sedikit. Pasti bukan karena bingung dengan menunya, kan? Menu di kafe ini tidak ada yang aneh. Oh, mungkin dia sedang menimbang menu apa yang akan dia pilih. Itu hanya spekulasiku tentu saja.
“Kenapa?” tanyaku memberanikan diri.
“Apa?” katanya sambil menengadah menatapku. Dahinya berkerut lagi.
“Kuperhatikan dahimu berkerut. Ada yang bisa kubantu dengan menunya?” kataku menjelaskan.
“Oh, tidak. Aku hanya sedang berpikir, menurutmu, lebih enak Fish & Chip atau Sop Buntut?” katanya balik bertanya. Aku mengerjap. Tidak sangka dia justru akan meminta pendapatku.
“Dua-duanya menu andalan di kafe ini. Aku sendiri tadi memang memesan Fish & Chip.”
“Ok, kalau begitu mari kita samakan saja,” katanya sambil memanggil pelayan untuk mencatat pesanannya. Aku mengernyit. Kenapa pilihannya sama denganku?
Setelah pelayan berlalu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya. “Kamu memang suka Fish & Chip juga? Atau sekedar ingin mengetes seperti apa seleraku?”
“Kamu yang merekomendasikan kafe ini. Jadi, daripada aku mencoba menu lain yang aku tidak tahu rasanya, lebih baik kuikuti saja pilihanmu. Aku percaya pada pilihanmu. Pada dasarnya aku suka semua jenis makanan. Apakah itu bisa disebut sebagai mengetes seleramu?”
Aku terdiam. Kenapa tadi aku bertanya begitu? Menyesal. Belum-belum aku sudah memberi kesan tidak baik padanya, seolah-olah aku mudah sekali terintimidasi, walaupun memang iya. Aku menunduk. Oh, ego, kenapa sih kamu mudah sekali terusik?
Dia mencolek tanganku, “Hei, kenapa malah diam? Aku tidak bermaksud apa-apa, Dara. Aku memilih Fish & Chip karena sepertinya menu itu terdengar menarik. Kalau pilihanku sama denganmu, tidak apa kan? Aku sama sekali tidak beranggapan apa pun, tidak juga ingin mengetes seleramu. Apa ini masalah buatmu, Dara?” Kata-katanya tegas. Sungguh, tidak ada getar ragu sama sekali. Entah kenapa itu justru membuatku semakin diam.
“Dara?” panggilnya lagi dengan nada lebih lembut.
Aku menghela napas, “Maaf. Maaf.. Egoku memang kadang mudah terusik.”
“Bisa kita lupakan saja masalah menu ini? Kisah kita bahkan belum dimulai, Dara.”
Aku menatapnya. Entah apa yang kucari di kedalaman matanya. Ekspresinya masih datar, tak tertebak. Ya, kisah kami bahkan belum dimulai. Jadi, kenapa aku harus menduga-duga dengan segala pikiran tidak pentingku.
“Ya. Lebih baik kita mulai dengan obrolan yang lain saja,” tawarku akhirnya.
Aku melihat lagi senyum yang terbit di bibirnya. Seketika, ada rasa aneh yang merayapiku. Rasa apa ini? Aku tidak pernah begini sebelumnya. Aku pernah pacaran tiga kali. Tapi, tidak sekali pun aku merasakan yang seperti ini? Mengapa? Apa yang membuat dia menjadi berbeda? Ada apa denganku? 
=============

Catatan hari ke-1: 
Seharusnya ini menjadi postingan pertama di #NulisRandom2015  Tapi, saya sungguh tak sempat kemarin. Jadi, hari ini saya menghukum diri sendiri dengan mengunggah dua postingn sekaligus. Saya tidak tahu, apakah saya bisa konsisten mengikuti tantangan ini. Tapi, paling tidak saya berusaha :p

20 Mei 2015

#FFRabu - Daftar


Dia mengemas tasnya dengan praktis. Ponsel, dompet, tablet, charger, air minum dan buah adalah barang-barang wajib bawaannya sejak beberapa bulan lalu. Sepuluh menit lagi mereka bersiap berangkat menuju pusat kota. Ada janji temu. Janji yang sudah sejak satu bulan lalu dibuatnya. Entah apa yang membuatnya begitu istimewa dengan daftar pasien berderet hanya untuk USG 4D. Dokter kandungan kesayangannya merujuk kesana makanya dia menurut, walaupun dia tidak menganggapnya penting.

Masih kurang sepuluh menit dari waktu yang dijanjikan ketika dia dan suaminya tiba di tempat praktik dokter tersebut. Bergegas dia menuju counter pendaftaran. Kejutan! Dia masih harus antri dua jam lagi disana. 

[20152005]

18 Mei 2015

Kado di Hari Buku Nasional

Selamat Hari Buku Nasional! Semoga generasi pembaca tidak semakin terkikis jaman ya.

Dalam rangka selebrasi #Harbuknas, komunitas @BukuBerkaki @Sajubu_ID @HibahBuku @relawan_kfp @blogfam @sagu_maluku @bukubagiNTT dan @studiokatabooks menyelenggarakan "Kado Buku di Hari Buku Nasional"

Di ajang ini, kalian bisa memuat tulisan mengenai minat baca via blog/notes fb atau kalian juga bisa mengajukan rumah baca/perpus yang berhak mendapatkan bantuan buku.

Akan ada dua pemenang yg dipilih utk lomba perorangan dan dua paket buku yang akan dikirim ke taman baca pilihanmu. Yuk ramaikan!

When a book walks, a dream works.

7 Apr 2015

BAYI


Langkah kakinya selalu terasa berat menghadiri acara arisan keluarga tiga bulanan ini. Dia jenuh dengan pertanyaan yang itu-itu lagi. Walaupun senyum yang setengah mati dipaksakan itu masih selalu tersungging dari bibirnya, tetapi sebenarnya dalam hati meringis pilu.

“Dita, apa kabar? Gimana ini sudah isi belum?” kata budhe Uci sambil mengelus perutnya.

Dita hanya tersenyum dan membalas, “Isi nasi sama siomay sih sudah barusan.”

“Duh, kamu itu lho. Masih kerja tho? Sudah resign saja, kamu itu pasti kecapekan. Apa sih yang kalian cari, suamimu saja yang kerja juga sudah cukup. Budhe dulu juga tidak kerja tapi juga gak kekurangan. Rejeki itu selalu ada saja kok.” Budhe Uci menceramahinya panjang lebar. Dita hanya bisa tersenyum kaku sambil mengangguk-angguk tanda jengah.

Dita menjawab pahit, “Iya, budhe, ini kerjanya sudah jauh dikurangi kok, sudah tidak pakai lembur.”

Yo wis, budhe doakan biar cepet dapat momongan yo, biar ndak kesalip lagi sama adik-adik sepupumu yang lain.”

“Iya, budhe, makasih,” jawab Dita pasrah.

Dita sedang menikmati es buah di sudut ruangan ketika tangannya tiba-tiba ditarik Mbak Ratna, sepupunya. Dia berbisik-bisik ke telinga Dita.

“Hei, Dit, kamu kalau gituan pakai ditahan gak sih?” Tanya Mbak Ratna tanpa berbasa-basi.

Dahi DIta berkerut-kerut, berusaha mengartikan pertanyaan Mbak Ratna. “Maksudnya apa, mbak? Dita tidak paham.”

“Duh, begini lho, kalau punya suamimu sudah keluar di dalam, kedua kakimu harus kamu angkat tinggi-tinggi di tembok, ditahan begitu. Supaya sperma yang sudah ada di dalam tidak mblebler keluar lagi,” kata Mbak Ratna dengan vulgar tanpa filter.

“Sudah, kamu coba saja. Aku juga dulu begitu, terus jadi deh tuh lima krucil,” paksa Mbak Ratna. Dita lagi-lagi hanya bisa tersenyum masam. Tidak meng-iya-kan, tetapi juga tidak menyanggah.

Dalam hati, Dita berjanji, sekali lagi ada yang menasehatinya mengenai cara membuat bayi, dia akan langsung pergi meninggalkan acara.

“Hai Mbak Dit, baru lihat nih. Oh ya, kenalin, ini calon suami aku, Fajar.” Kali ini adik sepupu jauhnya yang menyapa dengan gaya centilnya.

Setelah berkenalan dan sedikit berbasa-basi dengan Nina, adik sepupu jauhnya itu, tibalah pada obrolan yang membuat Dita rasanya benar-benar ingin teriak.

“Mbak Dit, kemarin kan aku KKN di Serang, disana ada dukun pengobatan alternatif supaya cepat dapat keturunan. Ramai mbak yang berobat kesana. Jadi, perut mbak nanti dipijat, terus disuruh minum jamu-jamu gitu biar makin subur. Mbak coba kesana aja, nanti aku kasih alamatnya,” cerocos Nina.

Dita belum sempat menyahut ketika Nina masih melanjutkan ocehannya, “Jaman sekarang mbak, harus punya anak kalau mau suaminya setia. Mbak sudah lama menikah, apa gak takut kalau nanti Mas Krishna selingkuh demi dapat keturunan?”

Tanpa pikir panjang langsung ditariknya Krishna, suaminya, memaksanya beranjak dari sana. Dita muak. Tidak ada yang bisa merasakan betapa Dita dan Krishna merindukan kehadiran bayi di tengah mereka. Berbagai usaha sudah mereka lakukan, tetapi Tuhan memang belum mengijinkan.

Bayi.

Memang itu yang diinginkannya sebagai kado anniversary ke-7-nya tahun ini. Doanya.

=======
 

30 Mar 2015

[IRRC 2015] Not A Perfect Wedding


Judul Buku : Not A Perfect Wedding
Penulis : Asri Tahir
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Halaman : 312 halaman
Harga : Rp 49.000 (gramediana)

Saya termasuk salah satu follower Mbak Asri di wattpad. Jadi, saya termasuk salah satu yang selalu menunggu update cerita ini setiap minggu. Sampai suatu hari, Mbak Asri memberi pengumuman untuk menghentikan update di wattpad karena cerita ini sedang dalam proses penerbitan.

Apakah saya kecewa? Tentu tidak. Saya senang karena dengan diterbitkan menjadi buku membuktikan bahwa cerita itu memang layak untuk dinikmati dan diapresiasi oleh lebih banyak orang. Kalaupun ada yang membuat saya kecewa, itu karena ternyata proses menunggunya lumayan lama. Padahal ceritanya sudah di ujung, membuat saya penasaran setengah mati mengenai ending-nya :p Jadi, begitu bukunya publish, saya langsung beli di gramediana.

Menilik kategori 'Le Mariage' yang disematkan pada buku ini, tentu kita sudah bisa menebak bahwa buku berceria seputar kehidupan pernikahan. Raina Winatama (Raina) menikah dengan Pramudya  Eka Rahardi (Pram). Mereka bukanlah sepasang kekasih karena kekasih Raina selama ini sebenarnya adalah Prakarsa Dwi Rahardi (Raka). Sayang, suatu kejadian menyebabkan kisah mereka jadi berputar. Selanjutnya, kita akan diajak mengikuti perjalanan Raina dan Pram dalam menjalani pernikahan. Bagaimana mereka berjuang meredam ego masing-masing, mengenali emosi yang muncul dan memastikan apa yang sebenarnya mereka inginkan, karena sesungguhnya memang tidak ada pernikahan yang mudah.

Saya salut dengan cara Asri bercerita dan membangun emosi. Saya seperti merasakan betul apa yang dirasakan Raina dan Pram. Alur ceritanya cukup mengalir. Karakter tokohnya pun tergambar dengan jelas. Kalau ada yang perlu saya kritik, sebenarnya buku ini bisa diedit agar menjadi lebih baik lagi. Menurut saya menulis di wattpad dengan menerbitkan sebuah buku tetap berbeda. Alur cerita bisa dibuat lebih halus lagi agar tidak terkesan meloncat-loncat. Beberapa cara penulisan dialog dan tanda baca juga kurang sempurna. Tidak sampai mengganggu sih tapi akan lebih baik kalau bisa diedit menjadi lebih rapi lagi.

Akhirnya, saya tetap suka dengan Not A Perfect Wedding dan merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang suka genre romance dan bertema pernikahan. Semoga Asri tetap semangat menulis, baik di wattpad maupun di buku-buku selanjutnya ^_^

[Master Post] Indonesian Romance Reading Challenge 2015

http://asysyifaahsbook.blogspot.com/2015/01/update-indonesian-romance-reading.html

Awalnya saya tidak ingin ikut IRRC 2015 ini mengingat kesibukan yang padat luar biasa (ehem..). Bahkan kalau bukan karena Syifa sendiri yang mengajak saya ikutan lagi dengan meninggalkan pesan di kolom komentar, tantangan ini bahkan terlewat oleh saya. Thank you so much buat Syifa yang sudah bersedia jadi host dan mengajak saya ikut. Walaupun saya tidak selalu membalas komentar, percayalah saya membacanya sekaligus ngepo-in blogmu :p

Tapi, hidup itu memang selalu berputar. Tiba-tiba saja ada perubahan dalam hidup saya yang akhirnya membuat saya optimis untuk bisa mengikuti challenge ini. Jadi, saya memutuskan ikut IRRC 2015 level Going Steady dengan target membaca 11-20 buku. Doakan saya semoga bisa steady juga menulis review-nya di blog :D

So, let's read, make a review and have fun! ^_^

2 Des 2014

Sedang Patah Hati

Dear pembaca,

Cinta adalah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Dalam konteks filosofi, cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.

Kira-kira begitulah definisi cinta yang tertera di wikipedia. Lalu, kenapa tiba-tiba saya membahas soal cinta, padahal saya bukan lagi anak abege yang masih galau urusan cinta.

Justru karena saya bukan lagi abege yang buta dan belum paham makna cinta, makanya saya galau. Justru karena saya paham betul definisi cinta makanya saya merasa kehilangan arah. Justru karena saya tidak lagi bisa memancarkan aura positif, yang memaksa saya untuk berhenti sejenak dan merenung.

Saya sedang patah hati. Bukan pada seseorang. Tapi pada situasi.

Tahu kan bagaimana kalau orang sedang patah hati? Mencari pelampiasan tentu saja. Berusaha menyenangkan diri, padahal dalam hati meringis.

Saya yang sedang patah hati, tidak peduli dengan hal-hal yang seharusnya saya lakukan. Saya yang sedang patah hati, mendadak tidak peduli sekitar meskipun itu berarti melanggar aturan. Saya yang patah hati adalah saya yang egois.

Jadi, maafkan saya kalau saya sedang berulah. Ijinkan saya melampiaskan patah hati saya sejenak.

Saya janji, kalau saya sudah menemukan cinta baru. Atau mungkin saya jatuh cinta lagi dengan yang lalu, saya pastikan akan menjadi saya yang jauh lebih baik.

Salam sayang,
Saya.