Halaman

4 Jul 2013

Kemegahan Ariah

Foto #ARIAH diambil dari sini
#ARIAH is awesome! Fantastic lighting and stage, amazing choreography and great music. The best colosal open stage performance.

Kira-kira begitulah tweet pujian saya untuk tim produser Matah Ati yang (menurut saya) sekali lagi sukses membawa seni pertunjukan dengan konsep baru di Indonesia. Saya masih ingat, tahun lalu ketika (akhirnya) saya berkesempatan menyaksikan Matah Ati di Teater Jakarta, saya dibuat terpukau dengan konsep panggung "miring" dan seni tari berbalut cerita Jawa yang tersaji apik. Jadi, ketika saya tahu tentang ARIAH, detik itu juga saya tahu bahwa saya pasti akan menyesal kalau sampai melewatkannya.

Berpikir untuk datang dan menghabiskan malam minggu di Monas, jelas bukan pilihan untuk saya yang sebenarnya tidak terlalu suka keramaian. Hal pertama yang terlintas di benak saya ketika tahu lokasinya di Monas, "Waduh, pasti macet nih parkirnya." Tetapi beruntunglah saya menemukan solusi lain yang patut saya syukuri. Alih-alih parkir di IRTI, seperti yang disarankan pemilik acara, saya memilih parkir di Wisma Antara. Dan benar saja, ketika saya jalan menuju dan pulang dari lokasi pertunjukan, macetnya bukan kepalang.

Dari sisi penceritaan, saya setuju dengan beberapa opini yang bertebaran di twitter. Ceritanya klise dan kurang menggigit. Kalau mau dibandingkan dengan Matah Ati, cerita Ariah seperti kurang riset dan hanya dibuat apa adanya. Tetapi, saya pun maklum, dengan durasi hanya 90 menit dan mengingat ini pertunjukan kolosal, tentu sulit untuk merangkai cerita yang 'padat berisi' sekaligus harus mudah dipahami oleh orang dari berbagai kalangan dengan beragam latar belakang suku, usia, pekerjaan dan pendidikan. Apalagi dari booklet yang saya baca, Ibu Atilah mempersiapkan pertunjukan ini hanya dalam waktu 5 bulan. Jadi, jangan bandingkan dengan Matah Ati yang dipersiapkan selama 2,5 tahun.

Terlepas dari cerita yang 'apa adanya', saya sebenarnya menyayangkan kenapa MC pembuka acara tidak memberikan perkenalan yang cukup. Maksud saya, biasanya hampir di seluruh pertunjukan drama tari musikal yang saya tonton, ada introduction atau garis besar cerita yang akan dipentaskan. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan ya supaya penonton paling tidak paham mengenai alur cerita. Kenapa? Karena tidak semua orang mau atau sempat membaca booklet yang dibagikan. Kalaupun berniat membaca, beberapa orang asing (seperti mas bule fotografer di sebelah saya) tidak paham bahasa Indonesia, yang kebetulan di booklet juga tidak ada versi bahasa Inggrisnya. Well, kalau event ini akan menjadi rutin dan bisa 'dijual' jadi obyek wisata baru, they must improve this :)
 
Catatan lainnya, ketika penampilan Tari Topeng oleh Ariah dan kawan-kawan yang seyogyanya mempertontonkan betapa memesonanya Ariah terasa kurang maksimal. Bahkan dari tempat saya duduk di kelas 1, yang katanya berjarak 50-60 meter dari panggung, formasi antarpenari masih terlalu dekat. Kurang renggang. Dan itu membuat gerakan Tari Topeng jadi kurang terekspos dengan baik. Bahkan suami saya yang (biasanya) tidak mengerti menonton tarian juga berkomentar hal yang sama. Sayang, padahal durasinya cukup lama.
 
Namun, saya harus memberikan apresiasi tertinggi kepada penata artistik pertunjukan ini, Jay Subiakto. Berkat kepiawaiannya panggung sebesar 70 x 48 m dengan tiga level ketinggian yaitu 3, 7 dan 10 meter benar-benar tampak megah di kaki Tugu Monas. Tidak cukup dengan komposisi panggung miring yang ribet, permainan lighting dan video mapping benar-benar membuat saya bangga bahwa Indonesia ternyata bisa membuat pertunjukan sehebat ini. Sempat juga sih terpikir, kira-kira berapa ribu watt listrik yang dikonsumsi untuk menghidupkan lampu sorot yang jumlahnya (tebakan saya sih) >10 buah? :p

Saya mungkin tidak bisa berkomentar terlalu banyak mengenai musik. Buat saya, 120 orang musisi bermain live adalah sesuatu yang luar biasa. Aransemen musiknya terdengar cukup pas di telinga saya walupun pada beberapa adegan sedih, nadanya terasa kurang improvisasi. Jadi, yang terdengar musik yang itu lagi dan lagi. But still, two thumbs up for Erwin Gutawa as an arranger.

Koreografi yang ditampilkan juga membuat saya kagum. Posisi mendek (lutut ditekuk, jadi setengah berdiri setengah jongkok) di panggung datar saja sudah cukup membuat capek, apalagi di panggung miring. Salut dengan stamina para penari, yang katanya jumlahnya mencapai 200 orang, karena menari di panggung miring sambil harus berlarian dari sisi panggung yang satu sampai ujung sisi yang lain pasti menghabiskan banyak energi.

Kalau ditanya desain pakaian para pemain, saya agak susah menjawab. Posisi penonton yang jauh dari panggung tidak memungkinkan memerhatikan detail pakaian, kecuali pakaian si saudagar kaya yang agak terlalu berlebihan. Menurut saya, daripada menggambarkan sosok saudagar yang kaya raya, jubah yang dipakai lebih mirip tokoh panglima perang dari Cina/Mongolia (lupa namanya jenderal siapa :p). My bad, please forgive my opinion :D

Sampai di bagian akhir pertunjukan. Jujur, ending adalah bagian yang paling mengecewakan. Buat saya, ending-nya antiklimaks atau tidak jelas bagaimana akhirnya sampai saya membaca sinopsis di booklet. Ditambah lagi (dan lagi), ketika para penari dan pemain muncul kembali satu per satu di panggung dengan maksud berpamitan, tidak ada MC yang menyebutkan nama-nama mereka. Penonton pun kebingungan dan bertanya-tanya, "Oh, show-nya sudah selesai ya?" Akibatnya, penonton bertepuk tangan setengah hati dan setelah saya tengok kanan-kiri hanya ada beberapa orang yang standing dengan maksud memberikan apreasiasi terbaik. Oh, tapi tenang, saya termasuk salah satu yang berdiri (awalnya hanya satu-satunya di deretan saya) dan akhirnya aksi saya diikuti beberapa penonton yang lain.

Overall, i enjoyed the show. Walaupun saya mengkritik disini dan disana, tetapi saya tetap terhibur. Terima kasih untuk produser Matah Ati yang sudah membuat pertunjukan yang lain daripada yang lain. Dan (dengan agak terpaksa karena saya tidak suka memihak) saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Jokowi yang sudah memungkinkan digelarnya pertunjukan ini. Love it! ^_^

3 Jul 2013

Saya, Kamu, dan Dia

Saya senang dengan segala sesuatu yang serba rapi dan teratur. Itu sebabnya saya selalu menyusun pakaian sesuai dengan warna dan jenisnya. Supaya enak dilihat dan mudah diambil.

Saya tidak suka ribut-ribut. Saya hanya ingin hidup tenang. Dan itu tercermin dari warna kesukaan saya. Beige. Warna yang melambangkan keteduhan.

Sejak saya menjadi mahasiswa perantauan di Singapura, roti berlapis selai srikaya yang tebal adalah sarapan wajib bagi saya. Manisnya selai srikaya seolah-olah menjadi pemberi energi yang luar biasa hebat buat saya.

Sebelumnya, saya tidak pernah punya film favorit. Tetapi, menonton DVD Serendipity bersama kamu, walau diawali ketidaksengajaan, adalah hal yang tidak mungkin saya lupakan. Lalu, jadilah Serendipity menjadi film favorit kita sepanjang masa.

Merokok dan menghabiskan dua cangkir espresso adalah pelampiasan saya untuk melepaskan penat di tengah jadwal kuliah yang padat. Lalu kamu yang mengaku tak bisa jauh dari saya, jadi mengikuti kebiasaan saya.

Sherlock Holmes adalah tokoh favorit saya. Di waktu senggang, saya akan menyeret kamu ke Brasbasah Road untuk mencari semua buku tentang Sherlock. Kamu tidak suka membaca buku, apalagi cerita detektif. Terlalu berat, katamu. Tapi, demi saya, kamu selalu ikut membelinya, dengan janji akan mencoba membaca supaya bisa berdiskusi bersama.

Besok kamu pulang.

Seharusnya, setelah beberapa minggu tidak bertemu, saya rindu kamu. Seharusnya, kita bisa saling bertukar cerita. Seharusnya, kita bisa pergi ke bioskop bersama atau sekedar menghabiskan waktu di kafe. Seharusnya..

Tetapi, saya tidak lagi rindu kamu. Kamu tidak pernah ada di samping saya ketika saya harus presentasi materi pemasaran regional ke kantor pusat di Hongkong. Kamu tidak pernah tahu ketika saya depresi karena ketatnya kompetisi di kantor. Kamu tidak pernah bisa saya ajak berdiskusi untuk menentukan esktrakurikuler apa yang cocok buat anak semata wayang kita. Dan kamu tidak pernah ada ketika lelah melanda dan saya butuh dimanja.

Beruntungnya, ada yang lain yang selalu menemani saya sekarang. Hingga kealpaanmu terlupakan.

Saya merindukan sosok yang lain.

Dan saya tahu, kamu juga punya sosok yang lain.


Note:
1. Mohon maaf karena postingan ini sempat terhapus, jadi komentarnya juga ikut terhapus.
2. Cerita ini sebenarnya sebenarnya adalah cerita balasan dari sayembara Be My Duet Partner yang digagas Lala Purwono. Saya sarankan kamu membaca cerpen pertamanya 'Kamu. Kebiasaanmu' supaya bisa mendapatkan gambaran cerita yang lebih utuh.
3. Saya tidak menang menjadi partner nulisnya Mbak Lala, tetapi saya senang karena setidaknya saya bisa tetap menulis menambah postingan di blog ini. Jadi, jangan kapok mampir ya :p

28 Jun 2013

Yovie & His Friends Presale

I wish i could finish work ontime, so i can go to buy the presale ticket. Oh, it's 50% discount for presale ticket though :p Let's pray for today :)

19 Jun 2013

Swan Lake Bolshoi Ballet

Are you a fan of ballet? Do you like classical ballet? If you are, then you can not miss this show. Let's make November escape to Esplanade :p

12 Apr 2013

The gifts

The gifts :

1. Digital frame from Business Support family
2. Testimonial book from Business Support family + Eat + neng Vitya
3. Bag from Genk Senggol (Nopul, Hani, Ncuzz)
4. Handmade wall hanging + monkey hand sanitizer from my great boss Mas Santo
5. Body Shop pack from my lovely mommy Bu Ernita
6. Genk Senggol pics on frame + night perfume from my best friend Nopul
7. INFINITE New Challenge album from my dear sister Ncuzz

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. I received lots of love.
Thank you ya Allah, i was once part of Business Support family.
I LOVE YOU.

21 Feb 2013

Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Allah Maha Baik.
I'm really happy and can't say a word to others.
Semoga jalanku selalu dilancarkan.
...
...
...
Alhamdulillah.

5 Jan 2013

2013 Indonesian Romance Reading Challenge

Ikutan!

Yup. Seperti biasa, setiap tahun ada saja challenge yang saya ikuti. Terserah nanti hasilnya bagaimana, pokoknya ikut saja dulu. Dulu sih pernah ikut #365shots yang akhirnya melahirkan blog posterous saya, dimana setiap hari kita harus take a shot tentang apa saja dan menggunakan alat apa saja (boleh camera phone atau pocket camera atau SLR). Tapi tak lama, akhirnya saya bosan dan terhentilah kegiatan itu. 

Lalu, pernah juga ikut project kecil-kecil G30HM. Di project ini setiap hari kita ditantang untuk menulis sesuatu, biasanya ada temanya. Sebenarnya relatif mudah karena tulisannya boleh posting di microsite (baca: twitter) atau blog, tetapi saya memang banyak alasan, tentu saja tidak pernah selesai sesuai dengan target. ^_^

Nah, sudah sejak beberapa minggu yang lalu sebenarnya saya membaca tentang 2013 Indonesian Romance Reading Challenge yang digagas Mbak Yuska Vonita. Tetapi, karena masih ragu-ragu antara mau ikut atau tidak, jadilah baru hari ini saya memantapkan diri. Doakan kali ini saya bisa menyelesaikan tantangannya :p

Ini challenge apa sih?

Singkatnya, selama satu tahun mulai 1 Januari - 31 December 2013 kita diminta membaca novel bergenre roman karya penulis Indonesia dan ditulis dalam Bahasa Indonesia dari penerbit apa pun. Setelah selesai membaca, kita diminta untuk menulis review (atau opini atau pendapat) mengenai buku tersebut di blog atau Goodreads atau hanya me-reply posting di blog Mbak Yuska

Supaya lebih seru, challenge ini ada level-levelnya juga, yaitu :

Fling: membaca 1-3 buku 
First Date: membaca 4-7 buku 
Going Steady: membaca 8-11 buku 
Engaged: membaca 12-14 buku 
Married: membaca 15-100 buku

Untuk pertama, saya pilih First Date saja dulu :)

Jadi, mari kita sama-sama berdoa dan berusaha semoga saya bisa konsisten menjalankan challenge ini. Yuk!

Catatan Film Indonesia 2012

Jujur, saya tidak terlalu banyak menonton film Indonesia. Bukannya tidak mau mendukung perfilman nasional, tetapi film yang (menurut saya) layak tonton, itu hanya sedikit jumlahnya. Dalam posting ini saya mencoba mencatatkan beberapa film tidak ingin saya lupakan begitu saja. Saya hanya akan memberikan komentar pendek (versi saya), jadi silakan saja kalau ingin berpendapat berbeda. Sekedar informasi, kalau perlu membaca sinopsis masing-masing film bisa coba intip di filmindonesia.or.id

"I have watched it.."


Perahu Kertas bagian 1 dan 2

Saya sudah menjadi pembaca setia karya-karya Dewi Lestari sejak dia menerbitkan 'Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh (KPBJ)' pertama kali. Jadi, saya pun sudah membaca novel Perahu Kertas terlebih dahulu sebelum menonton filmnya. Buat saya, Perahu Kertas sebagai film dan sebagai novel memiliki karakternya sendiri. Saya bisa menikmati keduanya. Meskipun awalnya saya memiliki imajinasi sendiri saat membaca novelnya, tetap tidak mengurangi kepuasan saya menikmati filmnya. Mungkin karena alur cerita film yang hampir persis sama dengan bukunya.

Film Perahu Kertas ini unik. Terdiri dari dua bagian, tetapi bukan sebagai sekuel, melainkan ceritanya yang memang panjang dan rasanya tidak mungkin kalau harus dipadatkan. Waktu rilis antara bagian pertama dan kedua pun hanya terpaut beberapa bulan saja.

Kisah Kugy dan Keenan, menurut saya, sebetulnya sudah biasa, tetapi penyampaian khas Dee yang dibalut dengan kiasan yang sarat makna memang menarik. Buktinya, entah sudah berapa orang yang mengaku sebagai 'Agen Neptunus' ^_^

Hello Goodbye

Tidak semua film bergenre roman harus disajikan dengan adegan romantis yang berlebihan. Hello Goodbye adalah salah satu film bergenre roman yang (menurut saya) disajikan dengan tone datar. Flat. Kisah roman yang dituturkan dengan cara dewasa karena jauh dari kesan menye-menye. Saya langsung jatuh cinta dengan pasangan Rio Dewanto dan Atiqah Hasiholan. Semoga mereka bisa mengeksplorasi kemampuan berakting dengan lebih baik lagi, plus tetap awet sebagai real couple.

Buat sebagian orang yang sedang terkena Korean wave, mungkin bisa coba menonton film ini. Walaupun produksi film nasional, tetapi latar tempatnya ada di Busan, Korea Selatan. Jadi, ada nuansa kota yang agak berbeda dengan kota di Indonesia. Walau terkesan lebih 'dingin'.

Habibie dan Ainun

Film ini diadaptasi dari kisah nyata Pak Habibie. Justru karena diadaptasi dari kisah nyata dan menceritakan orang yang pernah disegani hampir seluruh orang Indonesia, saya jadi lebih mudah bersimpati. Terharu. Menonton film ini memberikan banyak pelajaran kepada saya. Seorang Habibie muda yang luar biasa jenius dan pantang menyerah mewujudkan cita-citanya. Seorang Ainun yang cerdas dan selalu mendukung pasangannya. Nilai-nilai kejujuran yang tak tergoyahkan, yang jujur sangat sulit diterapkan di masa kini.

Akting Reza Rahadian sebagai tokoh Habibie cukup mencuri perhatian. Fisiknya memang berbeda jauh dengan Pak Habibie, tetapi gesture-nya ditampilkan dengan sangat rinci. Salute! Chemistry dengan BCL pun terjalin baik. Selama ini saya selalu mengidentikkan akting BCL dengan aktingnya pada drama FTV yang average. Tetapi, di film ini rasanya semuanya pas.

5cm

Ini mungkin menjadi film nasional terakhir yang saya tonton di 2012. Bercerita tentang indahnya persahabatan. Berusaha mewujudkan mimpi, cita-cita dan cinta, apa pun halangannya. Penuh rahasia hati. Bahwa apa yang tampak nyata terlihat dari luar, bisa jadi berbeda dengan isi hati.

Untuk latar, film 5cm juaranya. Mata penonton dimanjakan dengan keindahan pemandangan alam Indonesia. Buat orang-orang yang memang suka jalan-jalan, selesai menonton pasti akan langsung rindu melakukan perjalanan, termasuk saya. So, what is your next destination? ^_^
 
"I will watch it.."


The Raid

Film yang disutradarai Joko Anwar ini pertama kali dirilis justru bukan di Indonesia (CMIIW). Tapi begitu diputar di bioskop Indonesia, tanggapannya luar biasa. Katanya action scenes di film ini amat sangat bagus dan banyak menuai pujian dari dunia internasional. Saya sendiri memang sengaja melewatkan menonton di bioskop karena saya penakut, tidak kuat kalau harus melihat darah berceceran.

Test Pack: You Are My Baby 

Satu lagi film yang diadaptasi dari novel. Ya, Test Pack diadaptasi dari novel lama karya Ninit Yunita yang tahun 2012 lalu dirilis ulang dengan cover baru. Sebetulnya saya penasaran dengan akting Acha Septriasa yang dipasangkan dengan Reze Rahadian (oh yes, mungkin ini memang tahunnya untuk aktor ini). Sayang, ketika film ini diputar di bioskop, saya sedang sibuk sehingga terlewatkan. Bocoran dari beberapa penonton, film yang bercerita mengenai problematika rumah tangga ini termasuk layak tonton. I'll definitely watch it when they release the DVD.

Last but not least, semoga film Indonesia bisa lebih sukses dan beragam di tahun 2013 ini.

25 Okt 2012

Perih

Pendar lampu kota berkilauan. Berebut menerangi sekitar, melawan pekatnya malam. Berusaha menerangi jiwa yang mungkin kelam.

Sekali ini kamu memberikan perih. Hingga aku diam-diam merintih. Membuat sukmaku seperti ingin terbang. Melanglang.

Tahukah kamu? Aku merana. Ribuan detik telah berlalu. Tapi perihnya tetap tak mau pergi. Entah bagaimana lagi agar aku bisa bertahan.

Aku masih tak mampu berkata. Merasakan pedih. Menyerap lara. Menghisap marah. Mengawangkan sikap. Memimpikan langkah.

Tahukah kamu? Aku tidak membencimu yang telah memberikan pedih di hati. Aku juga tidak memendam dendam. Tapi aku tak bisa bilang, aku sudah memaafkan.

sent from @motskee BlackBerry®