Halaman

22 Nov 2013

[Fiction] Ruined Date

 
Aku udah di lobby. Kamu bisa turun sekarang?

 

Akhirnya kabar yang gue tunggu itu datang juga tepat pukul 20.00 WIB. Sebenarnya gue sudah bisa pulang sejak satu jam yang lalu. Tapi, apa daya ternyata si pacar masih terjebak macet. Sambil merapikan meja, gue mengetik jawaban singkat via WhatsApp.

 

Yup. Give me 5 minutes.

 

Gue terpana selama lima menit melihat tampak belakang si pacar tercinta. Posturnya yang tinggi dan tegap selalu membuat dada gue berdesir. Baik dulu maupun sekarang setelah 6 tahun menjalin hubungan putus-sambung dia masih selalu membuat gue terpesona. He never failed me. Or anyone who sees him.

Hanya dari fisik saja, dia tidak bisa tidak membuat mata para kaum hawa melirik. Apalagi kalau mereka tahu bahwa pacar gue yang luar biasa ganteng ini ternyata juga jenius luar biasa. Apa namanya kalau bukan jenius, bisa lulus cumlaude dari jurusan Teknik Industri dari salah satu universitas negeri berlambang Ganesha, padahal di saat yang sama dia juga drummer andal dari grup band lokal dari Bandung yang sedang naik daun saat itu. Jadi, selain kuliah, dia juga sibuk manggung. Entah kapan dia masih punya waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas. Oh, atau dia memang tidak perlu lagi belajar karena seseorang yang memiliki extraordinary memory katanya sih bisa mengingat gambar, suara dan obyek secara akurat hanya dalam waktu singkat.

"Mara?" Suara yang alpa gue dengar selama 3 bulan terakhir ini sontak membuyarkan lamunan. Beruntungnya gue tidak lupa memberikan senyum paling manis hanya untuk dia.

"Hai, Nik! Kita langsung jalan naik mobil aku kan? Aku parkir di 3A. Yuk!" Dia hanya mengangguk kecil sambil memberi kode menyuruhku jalan lebih dulu. Khas Nikko, pelit kata-kata.

Sejam kemudian gue dan Nikko sudah duduk berhadapan di Tokyo Skipjack; salah satu warung steak di daerah Bulungan, Jakarta Selatan. Kami sengaja memilih meja agak di pojok supaya bisa mengobrol lebih leluasa tanpa harus terbatuk-batuk karena asap rokok pengunjung lainnya.

"Mara! Mara!!" suara pria yang tidak asing di telinga memanggil gue dengan nada ceria. Mendadak gue gugup, berharap semoga tidak ada kejadian tidak diinginkan malam ini.

"Mar, tumben banget nih kita ketemu disini. Gue pikir kita bakal ketemu di bar kayak minggu lalu. Kalau sekarang, lo masih sadar kan? Gak teler kayak kemarin," kata temen gue bernama Victor ini sambil cengar-cengir. Victor kalau ngomong memang tidak pernah disaring dan tidak peduli situasi. Duh, apes banget sih gue ketemu manusia ini disini. Pakai bongkar-bongkar aib kalau gue teler lagi. Gue gak berani melirik Nikko, tapi gue tahu dia menatap gue tajam dengan pandangan bertanya-tanya. Garis mukanya mengeras.

Gue tidak menanggapi pertanyaan Victor dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan, "Lo kesini sama siapa, Vic? Sering kesini juga?"

"Tuh, teman-teman gue disana. Habis ini mau lanjut kumpul-kumpul di penthouse-nya Rizal. Lo gak tertarik ikutan? By the way, Denny tanya-tanya tentang lo terus ke gue. Lo gak ada apa-apa kan sama dia waktu kemarin dia nganterin lo pulang?" Saat itu juga rasanya gue ingin menghilang ditelan bumi. Gue lihat Nikko langsung mengubah posisi dari membolak-balik buku menu menjadi bersandar di bangku dan melipat tangan di depan dada. Kenapa Victor harus mengungkit soal Denny?

"Eh, Vic, sudah kenal belum? Kenalkan ini Nikko. Nikko, ini Victor, teman kuliah aku, dulu kita sama-sama jadi penyiar di radio kampus." Lagi, aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Nikko dan Victor akhirnya saling tatap dan berjabat tangan ala kadarnya. Mungkin saat itu Victor baru sadar kalau gue sedang tidak sendiri.

            Kencan malam ini akhirnya gagal total. Nikko cuma diam seribu bahasa dan tidak bereaksi. Dia tidak bertanya kenapa gue bisa teler dan pulang bareng Denny, yang tentu saja dia tidak kenal. Nikko mendadak diam seribu bahasa. Setelah Victor meninggalkan meja, dia langsung membayar bill. Nikko memang mengantar gue sampai di rumah, tetapi tidak mampir untuk sekedar memberi salam pada orang rumah seperti biasanya. Di tengah perjalanan dia sengaja sudah menelepon taksi, jadi begitu sampai depan rumah gue dia langsung pulang naik taksi yang dipesannya.

            Tinggallah gue yang bingung harus bersikap bagaimana. Kenapa justru disaat Nikko sudah kembali ke Jakarta, situasinya jadi runyam begini. Ini memang bukan pertama kalinya gue berselisih dengan Nikko. Tapi, kalau diingat-ingat ini adalah pertama kalinya kami berselisih selama setahun terakhir. Entah kenapa perasaan gue tidak enak. Feeling gue bilang masalah ini akan jadi panjang.
 

15 Nov 2013

[IRRC2013 #8] Book Review: Fly To The Sky

 

Sesungguhnya saya sedang tidak ada ide menulis review, apalagi buku ini sudah selesai saya baca sebulan yang lalu. Awalnya memang banyak pertanyaan yang berseliweran di otak, tetapi rutinitas tiba-tiba menguapkan ide saya. Maaf. Walaupun demikian, mari kita coba paksa membuat review dengan pancingan point of discussion yang biasa dipakai klub buku Reight. Boleh ya pinjam poin-poinnya (^^)
 
Berikut adalah point of discussion versi saya setelah membaca Fly To The Sky yang ditulis oleh penulis Gagas Duet: Nina Ardianti dan Moemoe Rizal :
 
1. First Impression
Saya suka sampulnya yang didominasi warna biru dan pink. Biru mewakili tokoh pria yang ditulis Moemoe dan pink mewakili tokoh wanita yang ditulis Nina. Sejak membaca blurb-nya saya sudah jatuh cinta dengan kisah pertemuan yang ditulis dari sudut pandang tokoh pria dan wanita ini. Terlebih karena saya lebih dahulu membaca Restart by Nina, jadi penasaran juga dengan cerita Edyta. Bonusnya, tidak banyak novel yang bisa mengangkat topik aviation. Saya yang sudah kenyang dicekoki anything about aviation with my hubby jadi amat sangat tertarik :p
 
2. How did you experience the book
I really really really enjoyed this book!! For both sides, i love it all!
 
3. Characters
EDYTA: Seperti wanita (yang mengaku) mandiri yang hidup di Jakarta pada umumnya, Edyta memang cerewet dan sloppy. Apalagi habit di keluarganya yang memang memanjakan dia. Wajar kalau Edyta jadi bawel dan cenderung emosian. Tapi, dari Fly To The Sky saya paham bahwa Edyta sebenarnya thoughtful.
 
ARDIAN: Seperti pria (yang mengaku) gentle yang memang hidup mandiri di Jakarta pada umumnya, Ardian luar biasa cool. Ya iyalah..kalau tidak bagaimana dia bisa menjadi pilot yang memang dituntut punya self-controlled tinggi terutama di keadaan mendesak. But hey..kena batunya juga kan, kalau kesempurnaan itu sudah ada di diri pasangan kita, apa asyiknya pacaran ^^v
 
4. Plot
Ehm, apa ya plotnya? Kalau tidak salah sih masuk kategori alur maju. Tidak pentinglah plotnya apa, kalau ceritanya seru ya dinikmati saja :D
 
5. POV
For both sides, pakai POV orang pertama.
 
6. Main idea/theme
Serendipity! Sinetron banget atau film banget. Sudah pernah ada yang buat survey belum sih berapa banyak pasangan yang akhirnya menjadi real couple karena kejadian tidak sengaja bertemu? Penasaran ingin tahu hasilnya kalau ada :)
 
7. Quotes
Please see picture for my favorite quote ^_^ 
 
8. Ending
Fine! I don't wanna say it was Perfect since the writers do not want to continue the stories :p
 
9. Question
- Periode ketika novel ini ditulis mungkin aplikasi BB-nya belum canggih ya? Karena pengalaman saya, walaupun fisik BB hancur, kalau sudah di-back-up by email, begitu email di-push lagi semua contact otomatis restore. Tapi, at the same time BB dua2nya rusak sih ya.. :p
- Insting saya sih bilang kalau restoran Candra Kirana ini ada wujud aslinya. Jadi, alamatnya dimana, kak? Supaya bisa saya datangi, siapa tahu ada yang kesangkut juga :D
- Kak Moemoe punya ID Indoflyer? Mau tahu dong..hahaa..
 
10. Benefits
Saya dapat banyak informasi mengenai dunia perbankan dan aviation melalui novel ini. Kalau Nina memang bekerja di bank, jadi tidak perlu heran dengan segala informasi tentang banking. Tetapi, saya harus bilang risetnya Moemoe untuk aviation keren. Hanya orang-orang yang memang hobi (selain yang memang bekerja di industri penerbangan) yang bisa paham betapa serunya nongkrongin Air Crash Investigation atau menghabiskan waktu berjam-jam menekuni forum Indoflyer. Awesome!
 
Saya akan dengan senang hati merekomendasikan buku ini untuk siapa saja yang sedang butuh bacaan romantis tetapi tidak menye-menye. Semua judul bab-nya dijamin menampar. You must read this book! Yes, you! (^_^)

14 Nov 2013

[Fiction] Morning SMS

Gue tahu, gue bukan satu-satunya manusia di Jakarta yang terjebak kemacetan luar biasa. Gue juga tahu, gue bukan satu-satunya yang merutuk dan memaki di saat gue merasa kondisi lalu lintas ini membunuh gue perlahan-lahan. Gue sudah mencoba semua alternatif transportasi menuju kantor, tapi ujungnya tetap sama. It sucks!
Menyetir mobil pribadi atau disopirin berarti akan terjebak kemacetan tak berujung. Naik taksi berarti ada pembengkakan biaya transportasi yang memaksa gue harus makan siang di warteg selama seminggu. Naik motor di saat cuaca lebih sering hujan begini bisa berarti tambahan biaya membeli obat flu. Naik Commuter Line berarti ada tambahan biaya untuk pijat karena penuhnya yang tidak manusiawi rentan membuat otot keseleo. Naik bus umum atau angkot berarti ujian tingkat kesabaran karena ada saja om-om atau mas-mas genit yang sok SKSD (baca: sok kenal sok dekat). Jadi, apalagi pilihannya?
Gue masih akan mengeluh lebih panjang lagi kalau tidak terdistraksi. Dan akhirnya yang berhasil menghentikan semua keluh kesah gue hanyalah pesan singkat yang tiba-tiba masuk di ponsel.

Aku balik nanti sore. Mau dinner bareng? Hari ini ke kantor naik apa?

Seketika dunia gue menjadi indah dan berseri. Peduli setan sama kondisi jalanan yang bikin sakit jiwa. My lover is back! Gak ada hal lain yang lebih penting daripada ketemu pacar setelah tiga bulan gak ketemu. Kalau jaraknya cuma Jakarta – Bandung seperti zaman kuliah sih tidak masalah. Tetapi, ketika jaraknya menjadi Jakarta – Dubai, mencari waktu yang tepat hanya untuk bertatap lewat skype pun menjadi tantangan tersendiri.

Mau! Tapi hari ini aku bawa mobil. How?

Secepat kilat gue mengetik balasan SMS mengingat sebentar lagi dia pasti sudah boarding. Hebatnya kemacetan Jakarta ini adalah gue bisa multitasking. Sambil menyetir bisa sambil sarapan atau main Candy Crush atau ya sekedar mengetik SMS. Tidak sampai tiga menit, SMS balasan diterima.

I'll come to your office. Just wait. I'm boarding. See you.

Lalu berakhirlah acara berkirim pesan yang super singkat itu. Tidak pernah ada kata-kata romantis seperti I Love You atau I Miss You. Setiap kali gue tanya kenapa, dia cuma berkata bahwa sebuah hubungan serius itu lebih dari sekedar kata-kata. NATO (baca: No Action Talk Only) tidak pernah ada dalam kamusnya. Walaupun pada awalnya gue protes, tetapi tidak ada yang bisa gue lakukan selain pasrah. Gue ikhlas kok menerima asal dia serius sayang sama gue. Oke, mulai berlebihan, sebentar lagi mungkin gue akan menerima lemparan duit dari wanita-wanita se-Indonesia. Jadi, daripada gue mulai mengoceh tak tentu arah, mari kita nikmati sajalah sepanjang hari ini sambil menunggu jadwal kencan nanti malam.

- to be continue -

Note : (catatan motskee supaya tidak lupa :p)
1.     DXB (04.40) – CGK (15.45) à Emirates
2.     CGK (00.15) – DXB (05.35) à Emirates
3.   Selisih waktu Jakarta – Dubai = 3 jam. 4am Dubai = 7am Jkt. 8am Jkt = 5am Dubai.

29 Okt 2013

[IRRC2013 #7] Book Review: Mahogany Hills

Mahogany Hills membawa saya kembali bernostalgia ke masa saya KKN (baca: Kuliah Kerja Nyata :p) di Desa Puraseda, Leuwiliang, Bogor. Saya jadi mengingat kembali bagaimana segarnya udara di pegunungan, menikmati berjalan-jalan di pematang sawah, hidup bersahaja tanpa hiruk-pikuk social media (ya iya karena memang tidak ada sinyal ponsel yang tertangkap :D) dan menghabiskan sisa malam hari hanya dengan mengaji (karena memang hanya itu yang bisa saya lakukan :p).
 
Sebenarnya sudah lama saya mengincar novel yang menjuarai Lomba Penulisan Novel Amore 2012 yang diadakan Gramedia Pustaka Utama ini. Jadi, saya senang ketika buku ini masuk dalam paket Blended LitBox ke-2 yang saya pesan. Mahogany Hills karya Tia Widiana menjadi novel Amore pertama yang saya baca. Tetapi, sampai selesai membaca saya masih belum begitu jelas, lini Amore ini sebenarnya mengkhususkan genre apa? Buat saya, Amore tidak ada bedanya seperti novel romance biasa walaupun jelas bukan kategori Metropop.
 
Menjalani pernikahan dengan seseorang yang memang kita cintai saja, belum tentu mudah. Apalagi bagi pasangan PARAS AYUNDA BAKHTIAR dan JAGAD ARYA ARNAWARMA yang disatukan melalui perjodohan. Mengutip dari kata-kata di bukunya, "..cinta itu sederhana. Cinta adalah memberi, menerima dan memaafkan." Walaupun cinta itu sederhana, tetapi proses menemukan cinta biasanya penuh perjuangan. Proses itulah yang dialami Paras dan Jagad selama mereka tinggal bersama di Mahogany Hills.
 
Saya suka karakter Paras yang smart, tenang dan tegar; selalu berusaha berpikir rasional dan memikirkan dengan baik dampak dari setiap aksinya. Saya juga suka karakter Jagad yang care, baik hati dan setia; walaupun ada saat-saat dia amat keras kepala. Tia membangun karakter tokohnya dengan baik. Tanpa sadar saya terbawa ke dalam cerita dengan alur yang mengalir. Saya diajak ikut merasakan kegetiran Paras dan kebimbangan Jagad.
 
Sudah lama saya tidak membaca buku yang ditulis dengan bahasa Indonesia baku, tetapi tidak kaku dan tetap enak dinikmati. Salut dengan bahasa santun dan pilihan diksi yang digunakan penulis. Pendeskripsian latar tempat Mahogany Hills juga baik.
 
Kalau ada yang terasa 'kurang' buat saya adalah kemunculan mantan-mantan Paras dan Jagad yang ceritanya tidak dieksplorasi, jadi konfliknya terasa kurang greget. Selain itu, peran orang tua dan mertua juga kurang ditonjolkan padahal ada kejadian yang menurut saya cukup penting. Di kehidupan nyata, orang tua dan mertua saya sudah pasti akan panik dengan kejadian yang menyebabkan nyawa saya hampir melayang.
 
Terakhir, saya merekomendasikan membaca buku ini kalau ingin mendapatkan citarasa berbeda selain romansa kehidupan metropolitan.
 

18 Okt 2013

Personality Test

Sebenarnya ini cuma iseng, tapi ya hasilnya lumayan. Daripada hilang tertelan timeline Path, jadi saya post di blog. Lumayan sebagai pengingat untuk saya pribadi :p
 

16 Okt 2013

Your Friends

Create this post while listening to Toss The Feathers by The Corrs makes me miss my Geng Senggol.
Love the girls so much.
 
Dua hari terakhir saya sengaja menjauhkan diri tumpukan novel yang belum terbaca atau drama Asia yang belum sempat saya tonton atau bahkan twitter tempat saya menyalurkan kebawelan saya. Jadi, apa yang saya lakukan? Saya memaksa diri untuk bercermin.
 
"Finally i realized, it's not about challenging job or benefit that makes you stay longer in a company. It's all about Friends and Ambience."
 
Kira-kira begitulah hasil merenung saya. Pada satu titik, saya akhirnya sadar bahwa yang membuat hidup saya lebih berwarna setiap hari adalah sahabat-sahabat saya di kantor. Di tengah gempuran deadline pekerjaan atau problem yang muncul ketika mengerjakan project (almost) impossible, saya mampu bertahan karena ada dukungan dari mereka. Bukan berarti mereka mengerjakan tugas saya, tetapi sekedar obrolan singkat yang bukan melulu pekerjaan, lunch bareng, pelukan ketika diam-diam saya terisak atau sekedar menepuk-nepuk pundak saya ketika saya menerima omelan dari orang lain, ternyata cukup besar pengaruhnya. Menenangkan.
 
Saya bukannya hanya berteman yang 'manis' saja. Beda pendapat dan adu argumen itu biasa terjadi. Bukan hanya sesama rekan kerja, tetapi juga dengan atasan atau tim departemen lain. Bahkan tidak jarang saya mengamuk kepada tim saya kalau deadline report terlewati. Tetapi, selama tidak berlebihan, dikomunikasikan dengan cara yang baik dan tidak terbawa personal, semuanya pasti bisa dilalui dengan lancar. Terlebih bila kultur yang ada di perusahaan dan pihak manajemen memang memberikan ruang gerak yang cukup untuk berekspresi sebebasnya. Wah, itu luar biasa.
 
Jadi, ketika kamu merasa bersemangat berangkat ke kantor bukan hanya sekedar mencari nafkah, tetapi karena ingin bertemu dengan teman-temanmu, maka bersyukurlah. Teman baik atau sahabat sekantor atau office-soulmate itu ternyata tidak begitu saja tersebar di semua tempat.
 
Atau, ketika tanpa sadar kamu sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun di suatu perusahaan dan belum merasa bosan, maka nikmatilah. Itu berarti kita merasa nyaman berada disitu. Sadarilah bahwa lingkungan yang nyaman untuk bekerja itu tidak bisa ditawarkan di semua tempat kerja.
 
Menurut pengalaman saya, bekerja di lingkungan yang nyaman dan dikelilingi teman-teman yang sehati akan membuat kita merasa senang. Happy itu ternyata penting karena biasanya output-nya juga baik, kita jadi bisa memberikan the best performance. Buat saya, happy karena teman dan ambience ternyata memberikan efek lebih besar daripada sekedar challengin job atau benefit package yang menggiurkan. Bukan berarti saya tidak bisa bekerja tanpa teman dan lingkungan yang nyaman. Bisa, tetapi hasilnya tidak maksimal.
 
So, before you decide to move to another company, please look at the mirror. What is your character? What is the most important thing in your life? What are you looking for? Ask yourself and think deeply.
 

14 Okt 2013

Another Chance

 

Semesta itu memberikan banyak pilihan untuk dijalani. Ada kalanya kita bisa memutuskan akan melakukan yang mana dengan cepat dan pasti. Tanpa ragu. Tetapi, ada kalanya kita merasa bingung ketika dihadapkan pada pilihan. Tidak tahu harus memilih yang mana karena merasa takut salah. Takut kalau hasilnya tidak sesuai dengan keinginan.
 
Risiko. Kita kadang lupa bahwa pada setiap pilihan selalu ada risiko. Risiko dengan kadar probabilitas yang beragam. Bisa jadi kita memilih jalan yang sesuai dan paling cepat mewujudkan keinginan. Hingga yang terbentuk adalah rasa puas. Tetapi, apakah itu berarti, pilihan lainnya salah? Belum tentu. Bisa jadi pilihan lainnya justru memberikan hasil yang melampaui keinginan. Kita tidak tahu karena kita tidak memilihnya dan tidak menjalaninya.
 
Lalu, kalau kita merasa tidak puas, apakah itu artinya pilihan kita salah? Menurut saya, pilihan dan apa pun keputusan kita pada awalnya tidak pernah salah. Ini hanya masalah persepsi. Ketika hasilnya mulai terlihat dan kita merasa tidak puas, itu artinya kita mempersepsikan hasilnya jauh dari apa yang kita inginkan. Bukan berarti keinginan kita tidak bisa terwujud. Bisa, tetapi ternyata memerlukan waktu lebih lama. Bisa, tetapi ternyata memerlukan resources lebih banyak. Dan segudang alasan lain yang akhirnya membuat kita menarik napas panjang.
 
Persis seperti yang saya alami sekarang. Pada dasarnya saya bukan risk taker. Itu sebabnya saya perlu waktu lama untuk berpikir sebelum akhirnya memutuskan. Inginnya hasilnya bisa memuaskan. Tetapi, siapa yang menyangka bahwa beberapa bulan kemudian setelah menjalani, hasilnya ternyata tidak memuaskan. Saya merasa salah.
 
Tetapi, saya tidak mau menyesal. Selama saya menjalani, saya belajar mengenal diri saya lebih baik lagi. Saya tetap menjalani hasil keputusan awal saya dengan segala daya yang saya miliki. Saya masih belum mau berhenti mencapai mimpi saya sambil terus berpikir positif.
 
Sampai akhirnya kesempatan lain datang. Ya, sekali lagi saya diberi kesempatan untuk memilih. Dan sekali lagi, saya ingin mencoba menjadi risk taker. Tentu dengan pengenalan diri yang lebih baik dan proses berpikir yang lebih matang, saya juga menjadi lebih kuat.
 
Jadi, izinkan saya sekali lagi memilih. Doakan saya semoga kali ini pilihan saya memberikan hasil yang memuaskan.
 
Semoga. Bismillah..

6 Okt 2013

[IRRC2013 #6] Book Review: Runaway Ran


RUNAWAY RAN yang ditulis Mia Arsjad adalah novel digital pertama yang saya beli melalui gramediana. Dulu sekali saya sudah pernah membaca novel Mia yang lain: DILEMA. Tetapi, hanya itu saja yang saya baca karena buku lainnya kebanyakan bergenre teenlit yang sudah tidak cocok untuk saya.

Biasanya saya selalu jatuh cinta dengan tokoh pria di novel yang digambarkan kaya, ganteng dan baik hati. Khusus di novel ini, saya justru jatuh cinta dengan karakter KATRINA. She's just so women! :p Karakternya menggambarkan sebagian besar wanita metropolitan yang jarang (bahkan hampir tidak pernah) merasakan susah, cenderung manja, hobi belanja, ke salon dan nongkrong di kafe. Walaupun bisa dibilang gaul, tetapi Katrina tidak kebablasan, dia masih memegang teguh prinsip-prinsip ketimuran. Dia juga baik hati, bijaksana dan loyal kepada sahabat. Oke, rasanya semua pujian buat Katrin sudah saya sebutkan.

Bagaimana dengan tokoh prianya? J.F. RAN digambarkan sebagai pria yang ganteng, kaya dan populer. Ya, Ran memang termasuk public figure, tetapi tidak charming. Ran pada dasarnya orang baik, dengan caranya sendiri. Buat orang yang tidak terlalu dekat dengan Ran, dia akan bersikap sinis dan tertutup. Walaupun sebenarnya ada alasan kenapa dia bersikap dingin pada hampir semua orang.

Selain kedua tokoh diatas, ada banyak tokoh lain yang muncul. Yang paling menonjol adalah VIANA, sang public enemy. Lalu ada dua sahabat dekat Katrin, yaitu Alya dan Ina. Mereka bertiga ini kalau sudah kumpul ramainya luar biasa. Jangan salah, yang bisa bergosip bukan hanya wanita. Ran ternyata juga punya tiga orang teman dekat yang semuanya unik, yaitu Gatot, Herman dan Iman. Tetapi, semua keseruan di buku ini rasanya belum cukup kalau tidak ada tokoh Adit.

Walaupun karakter dan interaksi antartokoh seru dan ramai, sebenarnya saya sempat merasa bosan juga. Sampai setengah buku bagian pertama, belum ada konflik yang muncul. Hanya cerita narasi dan teka-teki di sana-sini. Konfliknya terasa kurang menggigit. Akibatnya, penyelesaian konfliknya terasa terburu-buru, terutama kisah hubungan Katrina dan Ran. Ending-nya sih tidak masalah, tetapi proses menuju ending itu yang kurang smooth.

Beberapa bagian juga terasa aneh. Misalnya, sebelumnya diceritakan kalau Ran punya abang, tetapi sampai akhir bahkan di saat-saat kritis sang ibu, tokoh abang ini justru tidak muncul, padahal kerabat lainnya lengkap. Saya juga masih menemukan beberapa typo, walaupun tidak sampai mengganggu.

Overall, saya tetap suka novel ini. Dialognya lucu dan membuat saya jadi senyum-senyum sendiri bacanya. Cover-nya juga unik, cocok dengan isi ceritanya. Selain itu, Mia banyak menyelipkan nasihat-nasihat hidup yang patut kita renungkan, tanpa harus merasa digurui. Runaway Ran recommended buat yang sedang butuh bacaan metropolitan khas metropop.

4 Okt 2013

[IRRC2013 #5] Book Review: Paris - Aline

 
 
 
Note: Gambar diambil dari SINI
 
Ini pertama kalinya saya membaca karya Prisca Primasari. Dan ini juga seri pertama STPC yang saya baca. Kenapa saya memilih Paris? Karena saya amat suka dengan sampul bukunya yang bergaya vintage. Elegan. Cocok untuk menggambarkan kota Paris yang terkenal romantis. Selain itu, Paris sepertinya salah satu seri STPC dengan jumlah halaman paling sedikit. Jadi, mengingat rutinitas saya (ehem!), saya memilih buku yang paling tipis.
 
Sayangnya, nuansa romantis dari sampul bukunya justru bertolak belakang dengan isi cerita. Paris versi Prisca jauh dari kata romantis. Walaupun pada bukunya diselipkan kartu pos bergambar Menara Eiffel yang cantik, tidak ada adegan yang berhubungan dengan gambar itu di buku. Saya jadi sedikit kecewa, karena menurut saya, biasanya sampul buku itu mencerminkan cerita yang ingin disampaikan. Paris versi yang saya tangkap dari isi cerita bergenre teenlit fantasy; lebih mirip dongeng.
 
ALINE OFELI sedang menyelesaikan S2-nya di Paris ketika bertemu dengan AEOLUS SENA. Keduanya bertemu dengan cara yang unik; janji bertemu di bangunan bekas penjara pukul 12 malam. Aline berniat mengembalikan porselen Sena yang tidak sengaja ditemukannya. Selanjutnya, hubungan mereka berlanjut lantaran Sena berjanji untuk mengabulkan 3 permintaan Aline sebagai balas jasa menemukan porselennya.
 
Kenapa saya bilang teenlit? Karena saya tidak merasakan chemistry hubungan dewasa antara Aline dan Sena. Entah mengapa saya merasa plot dan cara berpikir baik Aline maupun Sena masih seperti ABG yang sedang pacaran, malu-malu tapi mau. Aline dan Sena memang saling suka tapi tidak sampai ada bonding yang kuat antara keduanya. Makanya saya bertanya-tanya *SPOILER ALERT* bagaimana Aline bisa menunggu Sena selama 2 tahun yang sama sekali tidak ada kabar beritanya, padahal pada saat itu keduanya masih sama-sama di Paris.
 
Kenapa saya bilang fantasy? Karena yang ada di benak saya ketika membayangkan kediaman Poussin adalah sebuah kastil tua yang megah dan berpagar tinggi, mirip kastil di film-film. Terasa agak dongeng juga ketika saya membaca bagaimana latar belakang keluarga Poussin dan bagaimana mereka berinteraksi. *SPOILER ALERT* Saya juga merasa aneh bagaimana mungkin Sena dan Aline yang disekap di rumah keluarga Poussin bisa meloloskan diri dengan alasan yang sangat mudah. Entah mengapa saya merasa Prisca tampak terburu-buru menyelesaikan konflik.
 
Terlepas dari cerita yang tampak aneh, sebetulnya saya masih bisa menikmati Paris. Saya juga baru tahu dan mulai belajar mengenai tulisan Vignette. Gaya Aline yang membagi ceritanya melalui diari kepada Sevigne juga menarik. Oh ya, saya juga suka dengan ilustrasi yang ada di bukunya.

1 Sep 2013

INFINITE - One Great Step Jakarta 2013

photo by @motskee
Saya masih belum bisa move on dari konser semalam. Hingga saya memutuskan untuk membuat posting khusus tentang konser INFINITE ini. Menuliskan sebelum terlupakan, sekaligus kenangan sepanjang masa yang bisa saya baca ulang ketika saya kangen mereka :p

INFINITE pertama kali datang ke Jakarta, Indonesia, pada waktu Music Bank di Senayan tanggal 9 Maret 2013 lalu. Sejak saat itu memang sudah terdengar kabar bahwa INFINITE akan mengadakan solo concert di Jakarta. Dan terwujudlah harapan semua Inspirit INA dengan konser semalam bertajuk 2013 INFINITE 1st World Tour One Great Step in Jakarta.

Ini bukan konser kpop pertama yang saya datangi. Sebelumnya saya pernah menonton Big Bang Alive Tour 2012 di tempat yang sama, Mata Elang Indoor Stadium (MEIS), Ancol. Jadi, tanpa sadar saya membandingkan dengan pengalaman sebelumnya. Konser INFINITE yang dipromotori Synergism Entertainment (@synergism_Ent) terbilang rapi. Jumlah petugas/security cukup untuk menangani jumlah Inspirit yang datang. Walaupun, tentu saja kita tidak bisa membandingkan jumlah VIP dengan jumlah Inspirit (berdoa, semoga jumlah Inspirit INA semakin banyak supaya INFINITE lebih sering datang ke Jakarta :p) Kemudian, kondisi MEIS bagian dalam juga sudah rapi (bukan konstruksi bangunan belum jadi) dengan penerangan cukup (dulu gelap), jadi bisa difungsikan untuk mengantri menuju pintu masuk (tidak perlu mengantri diluar tangga batu terlalu lama). Tapi, satu yang paling luar biasa, karakter Inspirit yang tertib. Semuanya patuh mengantri dan tidak pakai dorong-dorong. Membuat saya bangga menjadi salah satu keluarga Inspirit. Salute!

Saya harus memuji Synergism yang membuat saya terkesan dengan pengaturan layout hall yang rapi. Sound system yang prima. Ditambah lighting yang maksimal, dipadu dengan video mapping (eh, ini bukan sih istilahnya?) sebagai background panggung. Excellent!

Saya baru tahu konsep fast track disini, dimana pemegang fast track diprioritaskan untuk masuk lebih dulu ke dalam hall. Dengan tambahan biaya, tiket fast track bisa dibeli oleh pemegang tiket seluruh section, kecuali VVIP karena sudah dapat seat number, jadi tidak perlu berebut. Pemegang tiket fast track diperbolehkan masuk hall sejak pukul 17.00 WIB. Kata teman saya (@Hamster_Kim) hampir semua yang masuk ke Festival Dalam section menggunakan fast track. Dari tempat saya memang terlihat kalau Festival Dalam lebih penuh daripada Festival Luar.

Pukul 19.00 WIB saya sudah duduk manis di tempat saya, VVIP row D sambil menikmati MV INFINITE yang diputar. Ini MV biasa yang sering saya lihat di Youtube. Tapi, diputar dan dilihat bersama-sama rasanya luar biasa, ditambah teriakan Inspirit yang cetar membahana :D Pukul 19.50 WIB lampu hall sudah dipadamkan membuat teriakan Inspirit makin kencang. MV terakhir yang diputar adalah Destiny. Kata @Hamster_Kim itu adalah MV Destiny versi A yang ditunda launching-nya karena ada scene pesawat jatuh. Tahu kan kalau versi itu ditunda karena bersamaan dengan insiden kecelakaan pesawat Asiana Airlines? Jadi, sebagai bentuk kepedulian yang di-launched versi B, tanpa scene pesawat jatuh. Sedihnya, saya tidak memperhatikan karena saya pikir itu MV biasa (hiks..). Berapa banyak Inspirit yang sadar bahwa itu adalah Destiny versi A?

Oh ya, konser INFINITE ini diiringi oleh live band jadi hampir semua lagu punya aransemen yang berbeda dengan lagu aslinya. Nice! Set list yang dimainkan di Jakarta, agak sedikit berbeda daripada di Seoul atau Hongkong. Saya akan coba menuliskan set list sesuai ingatan saya. Maaf, kalau ada yang terbalik-balik, kadang-kadang saya jadi amnesia karena terlalu terhipnotis :p
  • Intro : VCR + members action behind the jails. Inspirit mulai histeris disini :p
  • [song-1] Destiny
  • [song-2] Tic Toc
  • [song-3] Paradise : I love their shadow dance as an opening. Dan kaos kutang hitamnya bikin Inspirit jerit-jerit nih disini :D
  • Greeting to fans. Perkenalan masing-masing member pakai Bahasa harus di-appreciate nih :p
  • [song-4] Wings : I love the song & choreography so much :p
  • [song-5] Inception
  • Talking time. I should say Sung Gyu's pronounciation is good. Love it when they're trying to talk in English even though i know that they're reading a cheat sheet :p
  • [song-6] Can You Smile
  • [song-7] I'm Going To You
  • VCR lanjutan film yang menghibur.
  • [song-8] One Third : DJ Sung Yeol dan keyboardist Sung Jong
  • [song-9] Special Girl : INFINITE - H keren banget!
  • Inconvenient Truth MV : super lucu tapi mungkin tidak akan dirilis worldwide karena ya..gitu sih :D
  • [song-10] In The Summer
  • [song-11] I Like You : INFINITE keliling sambil lempar-lempar souvenir bikin jejeritan :p
  • [song-12] Love You Like You : L sukses bikin hati meleleh waktu dia cium2 boneka teddy bear :p
  • [song-13] Beautiful : penasaran siapa ya yang dapat bunga + cincin dari Woohyun di Festival Luar? Coba cek TL-nya @Yemimaa_  :p
  • [song-14] 60 sec : aransemennya lebih slow tapi leader Gyu tetap membius kok.
  • Another talking and chatting time. 
  • [song-15] Pelangi : INFINITE mengajak Inspirit untuk sama-sama menyanyikan lagu Pelangi-pelangi. Mereka lucu tanpa harus dibuat-buat, apalagi Woohyun yang cheerful. Huwaa..gak salah deh pilih dia jadi bias saya :p
  • [song-16] Mom : ada slideshow foto mereka kecil beserta ibu mereka. Ekspresinya Woohyun dan Sung Gyu waktu menyanyi lagu ini total. Jadi ikut terharu.
  • [song-17] Still I Miss You : i love their stage composition here plus fanchant kita juga terdengar jelas di lagu ini.
  • Another VCR dengan fokus L
  • [song-18] Nothing's Over
  • [song-19] Entrust : they're very energetic with endless jumping here and there.
  • [song-20] Cover Girl
  • [song-21] Be Mine
  • [song-22] Before The Dawn (BTD) : dance-nya benar-benar akurat. Love them!
  • [song-23] Man In Love : semoga handbanner-nya terbaca ya..
  • [song-24] The Chaser
  • INFINITE masuk tetapi Inspirit masih teriak We Want More terus Encore terus Dorawa. Semualah diteriakin :p
  • [song-25] Come Back Again
  • [song-26] Hysterie
  • Closing chat. Mukanya sih pada sedih tetapi tidak ada yang benar-benar menangis sampai video Inspirit diputar sepertinya :p
  • Celebrate SungYeol and SungJong birthday. SungYeol itu usil, tega-teganya mukanya SungJong dilumuri coklat. Tapi nanti di-lap sama Woohyun kok. So sweet..
  • [song-27] With : bertaburan confetti plus semuanya serentak naikin handbanner putih. Yakin terbaca sih sama mereka karena kita kompak. Terharu banget sama momen ini.
Konser selesai tepat pukul 23.00 WIB. Puas tetapi juga belum rela. Sayang, lagu favorit saya She's Back dan Real Story tidak dimainkan. Yang pasti makin cinta sama INFINITE karena mereka semua baik, ramah dan murah senyum. Tidak sia-sia mereka datang dari hari Kamis malam karena staminanya luar biasa oke. Cukup waktu untuk persiapan tampil dan istirahat. Mulai awal sampai akhir gak keliatan capeknya. Semoga INFINITE tetap mau kerja keras dan makin tenar, tapi juga tidak sombong dan tidak kena gosip macam-macam (penting banget nih! :p). Inspirit Indonesia love you so much!!

Mohon maaf kalau saya tidak menyertakan foto atau video di posting ini karena saya memang sama sekali tidak mengambil gambar. Saya penikmat konser sejati yang begitu konser dimulai, saya terlalu asyik mengacungkan light stick dan ikut bernyanyi sambil sesekali loncat-loncat. Tangan kiri saya memang memegang HP, tetapi hanya untuk baca contekan fanchant yang tidak sempat saya hafalkan :p Tetapi, jangan sedih, foto dan videonya bertebaran di akun @infinite7soul atau @inspiritINA atau @InfiniteUpdates atau @ifnt7ID dan banyak akun lainnya. So, please check their timeline.

Terakhir sekali, kalau saya boleh protes dan menghimbau. Saya masih melihat ada yang pindah seat number di VVIP. Saya lihat lho mbak di VVIP C71 pindah ke A66. Akhirnya, jadi diikuti oleh banyak yang lain untuk pindah-pindah. Buat saya, apa pun alasannya itu CURANG! Percuma beli tiket VVIP yang paling berkelas kalau tidak tahu bagaimana beretika. Sebenarnya ada petugas yang melihat, tetapi mungkin karena memang kosong ya dibiarkan saja. Well, menghimbau saja sih, semoga lain waktu semua fans bisa lebih tertib dan menghormati hak orang lain. Kalau hal yang sekecil itu saja tidak bisa, lalu kapan korupsi bisa diberantas dari negara ini. Please, mari jadikan Indonesia yang lebih baik :) 

Saya mohon maaf kalau tulisan ini tidak bisa memuaskan semua pihak atau ada informasi yang salah tulis. Ini dibuat semata-mata untuk memuaskan saya seorang :p