Halaman

2 Des 2014

Sedang Patah Hati

Dear pembaca,

Cinta adalah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Cinta adalah suatu perasaan yang positif dan diberikan pada manusia atau benda lainnya. Dalam konteks filosofi, cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.

Kira-kira begitulah definisi cinta yang tertera di wikipedia. Lalu, kenapa tiba-tiba saya membahas soal cinta, padahal saya bukan lagi anak abege yang masih galau urusan cinta.

Justru karena saya bukan lagi abege yang buta dan belum paham makna cinta, makanya saya galau. Justru karena saya paham betul definisi cinta makanya saya merasa kehilangan arah. Justru karena saya tidak lagi bisa memancarkan aura positif, yang memaksa saya untuk berhenti sejenak dan merenung.

Saya sedang patah hati. Bukan pada seseorang. Tapi pada situasi.

Tahu kan bagaimana kalau orang sedang patah hati? Mencari pelampiasan tentu saja. Berusaha menyenangkan diri, padahal dalam hati meringis.

Saya yang sedang patah hati, tidak peduli dengan hal-hal yang seharusnya saya lakukan. Saya yang sedang patah hati, mendadak tidak peduli sekitar meskipun itu berarti melanggar aturan. Saya yang patah hati adalah saya yang egois.

Jadi, maafkan saya kalau saya sedang berulah. Ijinkan saya melampiaskan patah hati saya sejenak.

Saya janji, kalau saya sudah menemukan cinta baru. Atau mungkin saya jatuh cinta lagi dengan yang lalu, saya pastikan akan menjadi saya yang jauh lebih baik.

Salam sayang,
Saya.

17 Jul 2014

Mungkin

Hari ini saya menitikkan airmata..
Entah karena apa..
Mungkin karena kesal pada diri sendiri yang tidak bisa tidak peduli pada sekitar..
Mungkin terharu karena masih ada teman-teman yang mau ikut berkorban bersama saya..
Mungkin benci pada sifat saya yang tidak bisa meninggalkan begitu saja apa yang sudah menjadi tanggung jawab saya..
Mungkin gemas karena tidak berhasil menggempur aturan yang salah..
Mungkin sedih karena harus menomorduakan keluarga demi karir yang sudah lama tidak pernah lagi menjadi penting dalam hidup saya..

Tapi saya tahu..
Allah Maha Tahu..
Dan saya yakin..
Allah akan selalu memberikan yang terbaik..
Pada waktunya.

10 Feb 2014

Thank you Vi!

Dear Vi,

Aku galau. Itu istilah yang sedang nge-tren untuk menggambarkan suasana hati yang menjadi resah gelisah karena sesuatu hal. Sekarang aku merasakan itu. Justru di saat-saat terakhir ketika harus melepasmu, aku jadi semakin galau. Tak rela.

Maafkan aku, Vi, yang sering tak peduli padamu. Meninggalkanmu berjam-jam saat aku sibuk dengan urusanku sendiri. Walau aku sering membuatmu menunggu sendirian, tapi aku sayang kamu. Entah apa jadinya aku tanpa kamu. 

Terima kasih, Vi, karena sudah bersamaku selama 4 tahun terakhir. Terima kasih sudah selalu menemaniku tanpa rewel. Terima kasih sudah menjadi pahlawan tanpa tanda jasaku. Tak percuma kutempelkan namaku pada surat identitasmu.

Kudoakan kau bahagia, Vi, dengan jodohmu yang baru.

Last kiss to my dearest car..
aku.

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta hari ke-10

7 Feb 2014

Hi IT Guy..

Dear kamu,
 
Ya, kamu yang katanya IT guy paling cool seantero perusahaan. Itu sih hanya katanya. Buatku, kamu menyebalkan. Sombong luar biasa.
 
Kenapa? Kamu mau tahu kenapa? Karena waktu aku masih jadi anak baru, kamu sama sekali tidak ramah denganku. Jangankan membalas email, kalau kutelepon pasti jawabanmu hanya sekedar 'Hmm..' atau 'Dicek dulu deh!' Bagaimana aku tidak kesal kalau jawabanmu hanya sekenanya. Tidak bisa diajak kerjasama. Kamu pikir aku sebegitu bodohnya sampai tidak pantas kau ajak bertukar pikiran? Huh!
 
Tapi, katanya lagi, benci itu kan tanda cinta, ya?
 
Sungguh aku tidak ingin termakan kata-kata basi macam itu. Sayang, sepertinya aku kena karma.
 
Seiring berjalannya waktu, kita mulai mengenal satu sama lain. Mulai dari training bersama, sampai akhirnya menjadi satu tim 'impossible project'. Jadi, mau atau tidak, kita jadi dekat. Kompak! Kita jadi sering berdiskusi dan saling melengkapi satu sama lain.
 
Tahukah kamu?
 
Aku jadi cinta kamu. Kamu adalah IT guy pujaan hati yang bisa membuat segala sesuatu yang impossible menjadi possible.
 
I adore you so much, hey, my IT guy  ^^
 
Regards,
aku.
 
#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari Ke-7
 
 
 

4 Feb 2014

Kepada @mbakdos

Dear @mbakdos,
 
Saya sudah lama mengikuti kicauanmu di twitter. Sejak kapan tepatnya, entah, saya lupa. 
 
Saya menikmati semua kicauanmu. Mulai dari yang serius sampai lucu-lucuan yang membuat saya tersenyum-senyum seperti 'balada ibu'. Saya juga suka ikut-ikutan mengisi survey yang walaupun saya tidak tahu hasil akhirnya, tetap saja saya ikuti :p
 
Darimana saya tahu mbakdos? Hahaa..lucunya saya juga lupa darimana. Yang pasti saya lebih dahulu mengagumi tulisan-tulisan di blognya. Gaya penulisannya mengalir dan mudah dimengerti, tetapi membuat siapa pun pembacanya ikut berpikir mengenai makna dibalik tulisannya. Sempat juga saya membaca artikel tentang mbakdos di salah satu majalah. Lalu berandai-andai bagaimana rasanya punya dosen atau pembimbing skripsi seperti mbakdos. Ah, saya jadi mirip stalker. Maafkan.
 
Melalui surat ini, saya ingin memberikan apresiasi kepada mbakdos. Semoga mbakdos tidak pernah bosan sharing apa pun di blog maupun akun twitternya. Walaupun saya tergolong follower pasif, tetapi saya tidak pernah alpa mengikuti.
 
Salam dari followermu ^^
@motskee

3 Feb 2014

Termakan Cuaca

Dear Pink Shoes,

Kamu akhirnya menyerah.
Lapuk di tengah hantaman cuaca ekstrim.
Diterpa panas terik.
Lalu sebentar kemudian hujan badai.
Memudarkan warna cerahmu.
Melemahkan kekuatan solmu.

Aku sudah mengusahakan sebisaku.
Menjahitmu. Merekatkanmu.
Tapi kamu berkeras tak mau bertahan.
Hanya 200 hari kamu menemaniku.
Mengantarku ke setiap aktivitas.

Wahai pink shoes..
Aku patah hati.

-motskee-

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari ke-3

sent from @motskee BlackBerry®

2 Feb 2014

Terbang Lebih Tinggi

Dear Iben,

Apa kabar? Kudengar. Oops..maaf, kulihat dari profil Linkedin-mu sekarang kau tidak lagi bermukim di Indonesia. Kau baru saja dipromosikan dan kini mungkin kau sedang menikmati indahnya kota Paris. Kota yang katanya eksotis. Hei, aku belum pernah kesana, jadi mana kutahu seberapa mengagumkannya kota itu.

Suatu waktu di masa lampau, aku meminta tanda tanganmu karena kau ternyata teman main salah satu mbak kosku. Ya, entah kenapa aku terjebak menjalani ospek bodoh di tempat kosku. Tapi tak apa, disitulah aku pertama mengenalmu, yang ternyata senior satu jurusan. Cara perkenalan kita sebenarnya memalukan dan membuatku tampak bodoh, jadi mari kita lupakan saja.

Sempat aku berharap kau akan menjadi salah satu asisten dosenku. Sayang, tak pernah kesampaian. Hingga suatu ketika, tanpa sengaja, kita berdua sama-sama terlibat dalam kepanitiaan salah satu acara seni di jurusan. Lalu dimulailah keakraban itu. Kita jadi sering bertukar cerita. Koreksi. Berdebat lebih tepatnya. Sejak itu aku tahu, kau seorang yang cerdas dan visioner. Walaupun seringkali sikap temperamentalmu membuat orang takut mendekat, tapi aku yakin, kau akan menjadi pemimpin yang kuat dan penuh ide kreatif. Lihat sekarang, ramalanku tidak pernah salah.

Sesudah kau lulus, aku kehilangan jejakmu. Tapi hidup akrab dengan kebetulan. Aku sudah sepenuhnya lupa padamu ketika kita kebetulan bertemu lagi. Kembali akrab walau hanya sesaat. Kau selalu terbang lebih tinggi dengan cepat sampai langkahku tak mampu mengimbangi.

Tanpa kusadari, kau adalah panutanku. Kau yang mengajariku definisi mimpi. Kau juga yang mengajariku caranya menikmati hidup. Menikmati pertandingan basket antar jurusan, aktif di berbagai kepanitian, siaran di radio kampus hingga dini hari, hanyalah sarana yang mempertemukan kau dan aku. Tanpa kausadari, aku selalu berusaha mencari kabar keberadaanmu dan sepak terjangmu.

Kini, aku berkantor di gedung yang pernah memberikanmu beasiswa master. Nama gedung yang terkenal sekaligus tempatmu mencatatkan ide-ide kreatifmu.

Seandainya masih ada kesempatan, aku ingin sekali lagi bertemu denganmu. Dan sekali ini, aku ingin kau benar-benar menjadi mentorku. Karena aku masih ingin terbang lebih tinggi.

Seandainya..

-motskee-

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari ke-2

1 Feb 2014

Dear Angel

Dear Angel,

Ini adalah surat pertamaku untukmu. Ketika aku akhirnya memilih melayangkan surat ini, sungguh aku sedang rindu. Ada banyak momen yang telah kita lewati bersama selama hampir tiga tahun. Kata orang, seiring berjalannya waktu memori itu terkikis. Aku tidak mampu merekam semua momen kita, tetapi aku berharap memorinya tidak lekang oleh waktu.

Aku masih ingat, ketika kamu pertama kali datang. Dalam hati aku membatin, anak ini cantik dan supel, khas orang-orang yang berkecimpung di dunia Marketing Communication. Sementara aku, hanya seorang Analyst yang setiap hari disibukkan dengan ribuan data dan angka di spreadsheet. Kamu seringkali sibuk bernegosiasi dengan banyak orang, sementara aku adalah orang yang hanya berbicara seperlunya. Aku cenderung serius, kamu cenderung santai. Karakter pekerjaan yang bagai bumi dan langit membuatku skeptis bahwa kita bisa menjadi teman dekat.

Kalau beda karakter pekerjaan belum cukup, aku masih punya segudang perbedaan antara kita. Kita mulai dari perbedaan etnis. Kalau kamu merayakan Imlek, aku dibesarkan dengan budaya Jawa yang amat kental. Di saat aku merayakan Lebaran, kamu merayakan Natal. Kita tidak pernah punya almamater yang sama. Tidak juga berasal dari jurusan pendidikan yang sama. Aku hobi membaca novel, sementara kamu jarang sekali menyentuh buku. Di saat aku bersemangat mengotak-atik gadget, kamu hanya menganggapnya sebagai sekedar barang untuk digunakan. Bahkan, setelah aku ingat-ingat, kita pun lahir di tahun yang berbeda, usiamu lebih muda daripada aku.

Tapi kenyataan kadang berbeda dengan logika. Kamu yang kupikir tidak mungkin menjadi teman dekat, ternyata menjadi sahabatku di kantor. Tetangga kubikel yang lebih dari sekedar menyenangkan. Orang yang membuatku bersemangat pergi ke kantor setiap pagi. Tempatku berbagi cerita tanpa batas. Mungkin tidak semua ceritaku bisa kau mengerti, tapi tetap saja aku membaginya denganmu. Kamu juga orang pertama yang akan memelukku dengan tulus ketika aku bersedih dan menangis. Saling menyemangati saat beban pekerjaan membuat kita jenuh.

Sayang, jalan yang kita pilih tidak bisa selalu sama. Sekarang, kita sudah berpisah. Aku tidak lagi ada di sisimu secara fisik. Tapi, aku janji, kamu selalu punya tempat istimewa di hatiku. Walau aku tidak selalu menyapamu di social media atau menanyakan kabarmu melalui telepon pintar, aku selalu mengingatmu. Seperti hari ini. Melalui surat ini. I LOVE YOU.

With Love,
motskee

#30HariMenulisSuratCinta by PosCinta Hari ke-1


14 Jan 2014

Indonesian Romance Reading Challenge 2014


 Indonesian Romance Reading Challenge (IRRC) adalah tantangan bagi para pembaca untuk membaca dan menulis review buku bergenre roman karya asli penulis Indonesia. Ya, harus karya asli penulis Indonesia dan bukan terjemahan. Tujuannya supaya kita para pembaca bisa saling berbagi untuk meningkatkan minat baca buku-buku karya penulis Indonesia. Harapan lainnya ya agar para penulis juga bisa lebih semangat dan terus memperbaiki diri ketika karyanya diapresiasi.

Tenang, jumlah buku roman karya penulis Indonesia sekarang jumlahnya amat sangat banyak di toko buku. Bisa dilihat juga dari makin beragamnya kategori buku roman yang dibuat oleh penerbit. Misalnya Gramedia Pustaka Utama punya lini Metropop dan Amore. Lalu, Gagas Media juga di tahun 2013 lalu mengeluarkan seri STPC (Setiap Tempat Punya Cerita) yang hampir semuanya kental dengan nuansa roman. Buku-buku roman dari penerbit Plot Point atau Bentang Pustaka atau Penerbit Haru atau yang lainnya juga banyak menawarkan cerita roman yang lebih berwarna.

Tahun 2013 lalu IRRC dimoderatori oleh Mbak Yuska (@yuska77). Tetapi, tahun ini berpindah ke Peri Hutan (@peri_hutan) karena satu dan lain hal. Saya? Tetap mendaftar sebagai peserta sih, walaupun biasanya saya baru mengebut menyetor hasil review menjelang akhir tahun ^_^

Masih seperti tahun lalu, ada beberapa level challenge di IRRC 2014 yaitu:
Fling: membaca 1-5 buku
First Date: membaca 6-10 buku
Going Steady: membaca 11-20 buku
Engaged: membaca 21-30 buku
Married: membaca 31+ buku
Mengingat kemampuan membaca saya yang sedang lambat dan target baca Goodreads yang gagal total, kali ini saya memilih level First Date saja. Jadi, hampir tidak ada peningkatan dari tahun lalu :p

Buat kamu yang berminat ikut, masih belum terlambat, karena pendaftarannya dibuka sepanjang tahun. Informasi lebih rinci mengenai IRRC 2014 bisa dilihat DISINI.

Jadi, selamat membaca dan menanti review dari saya ^_^


22 Nov 2013

[Fiction] Ruined Date

 
Aku udah di lobby. Kamu bisa turun sekarang?

 

Akhirnya kabar yang gue tunggu itu datang juga tepat pukul 20.00 WIB. Sebenarnya gue sudah bisa pulang sejak satu jam yang lalu. Tapi, apa daya ternyata si pacar masih terjebak macet. Sambil merapikan meja, gue mengetik jawaban singkat via WhatsApp.

 

Yup. Give me 5 minutes.

 

Gue terpana selama lima menit melihat tampak belakang si pacar tercinta. Posturnya yang tinggi dan tegap selalu membuat dada gue berdesir. Baik dulu maupun sekarang setelah 6 tahun menjalin hubungan putus-sambung dia masih selalu membuat gue terpesona. He never failed me. Or anyone who sees him.

Hanya dari fisik saja, dia tidak bisa tidak membuat mata para kaum hawa melirik. Apalagi kalau mereka tahu bahwa pacar gue yang luar biasa ganteng ini ternyata juga jenius luar biasa. Apa namanya kalau bukan jenius, bisa lulus cumlaude dari jurusan Teknik Industri dari salah satu universitas negeri berlambang Ganesha, padahal di saat yang sama dia juga drummer andal dari grup band lokal dari Bandung yang sedang naik daun saat itu. Jadi, selain kuliah, dia juga sibuk manggung. Entah kapan dia masih punya waktu untuk belajar dan mengerjakan tugas. Oh, atau dia memang tidak perlu lagi belajar karena seseorang yang memiliki extraordinary memory katanya sih bisa mengingat gambar, suara dan obyek secara akurat hanya dalam waktu singkat.

"Mara?" Suara yang alpa gue dengar selama 3 bulan terakhir ini sontak membuyarkan lamunan. Beruntungnya gue tidak lupa memberikan senyum paling manis hanya untuk dia.

"Hai, Nik! Kita langsung jalan naik mobil aku kan? Aku parkir di 3A. Yuk!" Dia hanya mengangguk kecil sambil memberi kode menyuruhku jalan lebih dulu. Khas Nikko, pelit kata-kata.

Sejam kemudian gue dan Nikko sudah duduk berhadapan di Tokyo Skipjack; salah satu warung steak di daerah Bulungan, Jakarta Selatan. Kami sengaja memilih meja agak di pojok supaya bisa mengobrol lebih leluasa tanpa harus terbatuk-batuk karena asap rokok pengunjung lainnya.

"Mara! Mara!!" suara pria yang tidak asing di telinga memanggil gue dengan nada ceria. Mendadak gue gugup, berharap semoga tidak ada kejadian tidak diinginkan malam ini.

"Mar, tumben banget nih kita ketemu disini. Gue pikir kita bakal ketemu di bar kayak minggu lalu. Kalau sekarang, lo masih sadar kan? Gak teler kayak kemarin," kata temen gue bernama Victor ini sambil cengar-cengir. Victor kalau ngomong memang tidak pernah disaring dan tidak peduli situasi. Duh, apes banget sih gue ketemu manusia ini disini. Pakai bongkar-bongkar aib kalau gue teler lagi. Gue gak berani melirik Nikko, tapi gue tahu dia menatap gue tajam dengan pandangan bertanya-tanya. Garis mukanya mengeras.

Gue tidak menanggapi pertanyaan Victor dan berusaha mengalihkan topik pembicaraan, "Lo kesini sama siapa, Vic? Sering kesini juga?"

"Tuh, teman-teman gue disana. Habis ini mau lanjut kumpul-kumpul di penthouse-nya Rizal. Lo gak tertarik ikutan? By the way, Denny tanya-tanya tentang lo terus ke gue. Lo gak ada apa-apa kan sama dia waktu kemarin dia nganterin lo pulang?" Saat itu juga rasanya gue ingin menghilang ditelan bumi. Gue lihat Nikko langsung mengubah posisi dari membolak-balik buku menu menjadi bersandar di bangku dan melipat tangan di depan dada. Kenapa Victor harus mengungkit soal Denny?

"Eh, Vic, sudah kenal belum? Kenalkan ini Nikko. Nikko, ini Victor, teman kuliah aku, dulu kita sama-sama jadi penyiar di radio kampus." Lagi, aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Nikko dan Victor akhirnya saling tatap dan berjabat tangan ala kadarnya. Mungkin saat itu Victor baru sadar kalau gue sedang tidak sendiri.

            Kencan malam ini akhirnya gagal total. Nikko cuma diam seribu bahasa dan tidak bereaksi. Dia tidak bertanya kenapa gue bisa teler dan pulang bareng Denny, yang tentu saja dia tidak kenal. Nikko mendadak diam seribu bahasa. Setelah Victor meninggalkan meja, dia langsung membayar bill. Nikko memang mengantar gue sampai di rumah, tetapi tidak mampir untuk sekedar memberi salam pada orang rumah seperti biasanya. Di tengah perjalanan dia sengaja sudah menelepon taksi, jadi begitu sampai depan rumah gue dia langsung pulang naik taksi yang dipesannya.

            Tinggallah gue yang bingung harus bersikap bagaimana. Kenapa justru disaat Nikko sudah kembali ke Jakarta, situasinya jadi runyam begini. Ini memang bukan pertama kalinya gue berselisih dengan Nikko. Tapi, kalau diingat-ingat ini adalah pertama kalinya kami berselisih selama setahun terakhir. Entah kenapa perasaan gue tidak enak. Feeling gue bilang masalah ini akan jadi panjang.