Laman

26 Agt 2010

saya sedang tidak fokus

Siapa pun boleh memarahi saya. Pada saat laporan saya semakin mendekati tenggat waktu ternyata otak saya malah lari-lari. Ya, daripada fokus pada laporan yang harus saya selesaikan, otak saya dengan seenaknya berpikir tentang hal yang lain-lain. Salah satunya adalah tulisan saya yang tiba-tiba muncul di blog ini :p

Saya sudah berusaha untuk konsentrasi, tetapi tetap tidak bisa. Entah karena faktor situasi sekitar tempat saya bekerja yang kadang membuyarkan konsentrasi atau energi saya yang berkurang karena puasa atau memang saya saja yang terlalu manja mengikuti alur pikiran saya ke hal lain-lain. Saya tidak disiplin? Saya akui, ya, tapi saya juga menolak memaksakan mengerjakan sesuatu ketika saya memang tidak bisa berkonsentrasi penuh. Apalagi pekerjaan saya berhubungan dengan pengolahan data yang jumlahnya ratusan ribu baris.

Dahulu kala (kira-kira 3 tahun yang lalu sih :p), rekan kerja saya senang sekali pulang malam. Paling cepat dia baru pulang dari kantor pukul 8 malam. Wow, apakah pekerjaannya memang sebanyak itu? Pekerjaannya memang banyak dan membutuhkan konsentrasi tinggi, sehingga daripada mengerjakan sepanjang waktu kerja normal, biasanya dia baru mulai serius bekerja pukul 4 sore. Teman saya ini akan bekerja dengan kecepatan penuh dan fokus, sehingga pekerjaannya memang bisa diselesaikan pukul 8 malam. Bayangkan, sebenarnya dia hanya membutuhkan total waktu 4 jam untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Jadi, seandainya dia mengerjakan semua pekerjaannya di waktu kerja normal (8 to 5), bisa dipastikan tengah hari dia sudah akan pulang.

Tapi, mana ada perusahaan yang mau rugi dengan membayar penuh gaji 1 bulan tetapi kita hanya bekerja setengah hari? Ironis. Kadang kita dipaksa mengikuti suatu pola yang sudah tercetak, padahal sebagai individu, kita bisa saja mencetak pola lain yang tak kalah canggihnya.

Saya jelas bukan tipe si pembangkang. Daripada harus ribut, saya mengalah untuk mematuhi peraturan yang berlaku. Walaupun saya akui juga, kadang saya suka mem-bandel, mengerjakan sesuatu keluar dari pola dan lebih mengikuti pikiran saya yang kadang aneh. Hasilnya, bisa jadi lebih baik atau lebih buruk. Tapi, disana letaknya konsekwensi dan ya, saya memang risk-taker :)

Ah ya, saya juga menanggung risiko dimarahi atasan kalau ketahuan sedang jalan-jalan lihat blog orang atau membaca novel pada waktu jam kerja. Tapi, bagaimana lagi? Itu salah satu cara saya untuk bisa tetap mencari pola-pola cetakan lain, memperluas wawasan saya, meresapi kesuksesan banyak orang-orang pintar dari Indonesia dan menularkan semangatnya pada diri saya. Saya tidak efektif bekerja? Tergantung dari sisi mana kita melihat, karena setiap aspek kehidupan selalu punya dua sisi yang berseberangan.