Laman

18 Mei 2011

Trip to Yogya

Ini bukan pertama kalinya saya ke Yogyakarta. Tapi, kunjungan inilah yang paling berkesan karena saya sendiri yang menentukan mau jalan kemana saja. Saya akan berusaha menuliskan pengalaman yang membuat saya terkesan plus biayanya, tetapi mohon maaf saya tidak berencana berlibur hemat ^_^


Di bandara Adisutjipto, Yogyakarta saya disambut oleh para pemain gamelan dan sinden yang sepertinya sengaja disediakan untuk menyambut pendatang. Selain itu, dipamerkan pula beragam jenis pewarna alami untuk batik.

Oh ya, bandara Yogya juga langsung terhubung dengan stasiun kereta yang bisa membawa kita ke Klaten-Solo. Jalurnya kereta Prambanan Ekspress (Prameks). Atau kalau teman-teman sudah berniat jalan-jalan tetapi belum punya informasi apa pun, jangan kuatir, di bandara ada pusat informasi untuk wisatawan.

Obyek Wisata

Perjalanan pertama saya adalah ke Kraton - Istana Raja Yogyakarta. Disana saya mendengar sejarah Yogyakarta dari Pak Wagiman (abdi dalem merangkap pemandu wisata), mulai dari Sultan Hamengkubuwono I - X. Jujur, tidak semua informasi mampu saya serap karena ternyata segala sudut Kraton amat kaya dengan filosofi. Mulai dari jumlah tiang atau jumlah pohon beringin yang mengelilingi kraton harus 63 buah. Lalu motif lantai dan langit-langit yang berbentuk bintang bersudut 8, menandakan renovasi Kraton tersebut dilakukan oleh Sultan HB VIII. Bahkan, saya baru tahu bahwa Sultan HB IV adalah adik dari Pangeran Diponegoro (pahlawan nasional), tetapi beliau tidak bisa bertahta karena bukan lahir dari rahim permaisuri. Saya juga sempat ditunjukkan foto-foto Sultan HB IV - X, tetapi tidak ada foto Sultan HB I - III karena mereka memang tidak mau difoto. Mereka percaya bahwa foto bisa memendekkan usia.

Setelah berputar-putar di sekitar Kraton dan Alun-Alun, saya melanjutkan perjalanan ke Taman Sari. Kalau Kraton tadi adalah tempat tinggal Raja, katanya Taman Sari adalah tempat Raja dan keluarganya bersenang-senang. Saya sempat diajak berputar-putar menelusuri lorong bawah tanah yang sambung-menyambung. Dalam bayangan saya, Taman Sari ini jauh lebih megah daripada Kraton, tetapi sudah banyak lahan yang berubah fungsi menjadi rumah penduduk sehingga wajah aslinya sudah tak tampak lagi. Beberapa bagian Taman Sari juga masih dalam proses diremajakan kembali karena sudah banyak yang rusak. Oh ya, kalau berminat membeli lukisan batik karya abdi dalem, saya sarankan beli disini saja karena harganya relatif lebih murah daripada di Kraton. Ini pengalaman saya yang merasa salah beli :p


Malam hari, saya sengaja meluangkan waktu untuk menonton Sendratari Ramayana Ballet di Prambanan. Sekedar informasi, selama bulan Mei - Oktober, pertunjukannya diadakan di ruang terbuka (open air theatre) dengan latar Candi Prambanan. Tata cahaya yang apik jelas menambah hidup suasana. Untuk saya yang cukup familiar dengan cerita wayang Rama - Shinta sempat juga merasa lost di tengah-tengah cerita. Saya baru bisa mengerti setelah membaca ringkasan cerita yang disediakan. Seandainya dibuat penanda pergantian tiap babak/adegan, tentu akan akan lebih mudah dimengerti, terutama bagi wisawatan asing yang dari bisik-bisik sih sering bingung. Namun, secara keseluruhan saya puas. Exotic! ^_^

Kuliner & Oleh-Oleh

Jalan-jalan ke Yogya pasti belum lengkap kalau belum makan gudeg. Salah satu pusat gudeg yang terkenal adalah Gudeg Wijilan di Jl. Wijilan. Disana berderet warung-warung gudeg, tetapi yang (katanya) banyak diminati namanya Gudeg Kendil Wijilan Bu Widodo.

Tanpa sengaja, saya sempat diajak menikmati Nasi Soto Daging di Warung Soto Sapi Monjali. Rupanya warung ini adalah favorit penduduk sekitar untuk sarapan pagi, terbukti dengan ramainya warung ini pada jam 9 pagi. Yang pasti membuat saya terkesan adalah harga untuk satu mangkok nasi soto sapi campur hanya IDR 4.500. Untuk rasa dan porsi yang cukup memuaskan, harga tersebut sangat murah, dibandingkan dengan harga bubur ayam di Jakarta :p Jadi, kalau berminat, silakan dicoba :)

Kalau Anda tertarik membeli batik, maka salah satu tempat yang harus dituju adalah Mirota Batik. Disana kita bisa memilih beragam jenis batik mulai dari yang murah sampai mahal (baca: batik tulis sutra). Selain batik, Mirota juga menjual pernik-pernik kerajinan khas Yogya yang lain. Lokasinya pun cukup mudah dijangkau, sejurus dengan Malioboro atau di depan Pasar Beringharjo. Nah, kalau mau pilihan batik atau makanan atau pernik-pernik lucu yang lebih murah lagi, ya tinggal masuk saja ke Pasar Beringharjo :p

Satu lagi oleh-oleh yang wajib dibeli adalah bakpia. Menurut saya, rasa bakpia di Yogya rata-rata sih enak. Tetapi, yang lebih dikenal memang hanya ada beberapa seperti Bakpia Pathuk 25, 75 atau 77. Paling ramai sih yang 25, tetapi yang 75 atau 77 juga tidak kalah kok, tergantung selera saja.

Supaya lengkap, berikut adalah itinerary yang sempat saya buat. Ada jeda waktu antara hari ke-2 dan ke-3 yang saya isi dengan perjalanan ke Dieng, yang akan saya buat menjadi postingan terpisah. Selain itu, penginapan di Yogya juga tidak saya cantumkan karena kebetulan saya menginap di rumah kerabat :)