Halaman

29 Sep 2010

keinginan


Saya masih ingat, sekitar awal tahun 2005, saya begitu menginginkan punya IPod Nano. Ya, IPod, alat penyimpan dan pemutar lagu, video, foto, radio dan masih banyak lagi kegunaan produk hasil kreasi Apple ini. Tapi, pada masa itu saya hanya bisa memandang kagum atau mungkin juga iri kepada teman yang dengan asyiknya menikmati lantunan lagu dari IPod miliknya.

Dalam benak saya waktu itu, betapa cool-nya bisa jalan-jalan atau sekedar nongkrong di kafe dengan earphone menempel di telinga sambil melakukan aktivitas lainnya. Mau yang lebih jujur? Ditilik dari harganya yang memang tidak murah, kalau bisa bergaya menenteng IPod Nano pastilah seseorang yang cukup berada.

Ah, saya bukannya tidak mampu membelinya. Sebenarnya kalau saya mau menguras isi tabungan atau sekedar merengek manja pada orang tua, saya yakin dalam waktu beberapa bulan pasti barang itu akan saya dapatkan. Tapi, entah kenapa sisi rasional saya lebih kuat pada masa itu. Menurut saya, tidak terlalu ada manfaatnya buat saya karena segala fungsinya masih dapat dilakukan oleh ponsel milik saya pada zaman itu.

Beberapa tahun berselang, saya masih tetap ingin punya IPod Nano, walaupun keinginan sudah agak memudar. Saya tetap memandang iri pada siapa pun yang memiliki alat itu. Seiring berjalannya waktu, saya mulai mandiri dan seharusnya mampu membeli sendiri alat itu dari gaji saya. Tetapi, lagi-lagi saya mengurungkan niat dan masih dengan alasan yang sama. Saya masih menganggapnya tidak terlalu penting walaupun saya ingin memilikinya.

Lalu, beberapa hari yang lalu papa mertua menghadiahkan IPod Nano berwarna silver pada saya. Alhamdulillah setelah hampir 5 tahun menunggu, saya bisa juga memiliki benda yang sangat saya idamkan bahkan secara gratis. Selama beberapa hari saya memang asyik bermain dengan alat itu.

Kemudian saya menyadari, ada yang salah. Saya memang ingin punya IPod Nano dan sangat senang ketika akhirnya berhasil memilikinya. Tetapi, rasa puas yang saya rasakan ternyata tidak sebegitu besarnya, tidak sampai mengaduk-aduk emosi. Tiba-tiba saja semuanya terasa hambar, datar.

Saya mulai merenung, dimana letak kesalahannya. Akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan, bahwa ketika satu keinginan terpenuhi maka keinginan itu akan berlanjut dan bahkan naik tingkat ke keinginan lain yang lebih tinggi. Tidak salah, bahkan sangat manusiawi. Selaras dengan sifat dasar manusia yang tidak pernah puas.

Ketika akhirnya saya punya IPod Nano, saya baru sadar kalau saat ini saya ingin punya iPad. Lalu saya tersenyum getir. Perasaan saya berulang seperti 5 tahun lalu. Dan saya yakin, sifat saya masih belum berubah juga, selalu menomorsatukan sisi rasional dan mengesampingkan emosional.

13 Sep 2010

Think


I need to think
Rethinking
The memories that I never leave behind
The future that remain a mystery
Everything
Which leads me into a destiny



Pictures taken from here