Laman

15 Jun 2015

Adegan favorit di Kismet


Dia mengangkat tangan satunya, hingga kulihat payung lipatku ada di pegangannya. 
[Kismet, halaman 174]

Adegan favorit saya pada novel Kismet karya Nina Addison yang saya beli melalui Gramediana ini ada di halaman 174. Adegannya adalah ketika Alisya menjatuhkan payung tanpa sengaja, dan membuat Raka bersikeras bahwa mereka harus bicara mengenai hal ini. Adegan ini menggambarkan benang merah rangkaian peristiwa yang menghubungkan para tokoh di Kismet baik di masa lalu maupun masa depan. Siapa yang menyangka bahwa menjatuhkan payung adalah bagian dari rahasia kosmik yang memberi letupan kejutan di sana-sini dalam hidup seseorang.

Sebenarnya hal semacam ini juga sering kita alami pada kehidupan kita sehari-hari. Seandainya kita mau mencermati maka pasti ada saja kejadian ‘tanpa sengaja’ yang menjadi ‘benang merah’ terciptanya suatu hubungan. Misalnya, terlepas dari karakter kami yang bertolak belakang, saya bisa bersahabat erat dengan si A karena kebetulan kubikel kami letaknya bersebelahan di kantor. Atau, saya akhirnya bisa berpasangan dengan pasangan saya karena tanpa sengaja ketemu lagi melalui media sosial setelah lima tahun terpisah tanpa kabar berita. Dan masih banyak lagi contoh kejadian-kejadian tanpa sengaja yang sebenarnya saling berhubungan antara satu dan lainnya. Dan itulah yang namanya ‘Kismet’.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kuis #KismetGoodieBag
 

12 Jun 2015

[IRRC 2015] Book Review: Jodoh Untuk Naina

Pic Source: Wattpad
Judul: Jodoh Untuk Naina (novel)
Penulis: Nima Mumtaz
Penerbit: Elex Media Komputindo
Label: Le Mariage
Tahun terbit: 2015
Tebal: 252 halaman

Rating: 4 dari 5 (sistem sesuai Goodreads)

Cuplikan Bab 1
Kepalaku tertunduk. Tak berani menatap Abah. Tidak juga berani memotong perkataan beliau walaupun ingin. Hatiku tergetar dengan kebimbangan. Apa yang harus kulakukan?
"Jadi, bagaimana pendapatmu, Naina?" Suara Abah yang dalam dan berat mengalihkan perhatianku sejenak. Akhirnya Abah menanyakan pendapatku juga setelah beberapa lama. Meski begitu, tetap saja aku bingung, bagaimana aku harus menjawab?

Opini Saya

Begitulah kira-kira beberapa kalimat pembuka pada novel Jodoh Untuk Naina yang ditulis oleh Nima Mumtaz. Sesuai dengan judul dan blurb yang tertera pada sampul belakang, buku ini memang menceritakan kisah Naina dan Rizal yang dipersatukan melalui perjodohan. Buku ini menceritakan perjalanan hubungan mereka mulai dari pertemuan, perjodohan, menikah, perkenalan sampai ujian kepercayaan terhadap pasangan.

Tokoh utama dari novel ini adalah Naina Humairah dan Rizal Ayyashi, tetapi muncul juga tokoh-tokoh pendukung lain yang memiliki peran penting untuk memperkaya plot cerita. Ada Abah yang bijaksana, Kak Muthi -kakak pertama Naina- yang selalu jadi tempat curhat dan Bang Salman -kakak kedua Naina- yang suka bercanda tetapi selalu menjadi pelindung nomor satu. Kalau saya harus memilih karakter favorit, saya pilih Bang Salman. Alasannya, karakternya mirip dengan saya yang suka menggoda dan terkesan tidak serius, tapi jangan coba mengusik hal-hal yang dianggap penting karena bisa menjadi overprotektif.

Cerita dalam novel ini mengalir hingga tanpa terasa sukses membuat saya lupa beraktivitas yang lain demi menyelesaikan membaca sampai akhir. Rahasia mengenai masa lalu Rizal selalu membuat saya bertanya-tanya di setiap bab, apa sih yang sebenarnya terjadi di masa lalu. Dan bagaimana akhirnya Naina berhasil mengetahui rahasia itu?

Salah satu adegan favorit saya ada di Bab 12 (Kabut Bernama Kesedihan) dimana Naina mulai berselisih dengan Rizal dan berkeras minta dipulangkan ke rumah Abah. Saya suka prinsip yang dipegang teguh Rizal dan Naina saat itu dimana tidak ada seorang pun dari mereka yang menceritakan apa yang menjadi sumber perselisihan kepada keluarga atau pihak lain. Mereka memilih menenangkan diri daripada bercerita saat dilanda emosi.

Saya pertama kali membaca cuplikan cerita ini dari Wattpad dan menganggap tema perjodohan sebenarnya bukanlah tema baru, tetapi saya agak kaget karena novel ini berbalut nuansa Islami yang kental. Bahkan untuk saya yang seorang muslim tetap saja banyak pelajaran baru yang saya dapat. Nuansanya jadi agak berbeda dengan dua novel Nima Mumtaz sebelumnya yaitu Cinta Masa Lalu dan Akulah Arjuna, yang berbalut kehidupan modern di perkotaan.

Terakhir, saya akan merekomendasikan buku ini kepada siapa saja, baik yang belum menikah atau sudah menikah, yang ingin membaca kisah perjodohan dengan nuansa Islami tanpa kesan menggurui. Novel ini tidak akan membuatmu tertawa terbahak-bahak atau menangis tersedu-sedu, tapi saya yakin akan membuat perasaanmu hangat dan terharu saat membacanya.

Pic Source: milik pribadi
 Opini Lain

"Ceritanya mengalir dengan indah. Membawa pembacanya untuk ikut hanyut dalam cinta Rizal dan Naina. Cerita ini menyajikan tentang bagaimana dua orang yang justru 'berkenalan' setelah menikah, tentang bagaimana proses tumbuh kembangnya perasaan itu, serta tentang bagaimana kuatnya ikatan mereka sekalipun sedang dihadang cobaan. Mbak Nima Mumtaz kini memberikan kita cerita yang menghangatkan hati serta mampu membuat kita tersenyum saat membaca cerita ini."

Jenny Thalia Faurine, penulis novel "Playboy's Tale", "Unplanned Love", dan "Wedding Rush"

4 Jun 2015

Dara: Checkin' Off The List



Aku berjengit ketika jendela kaca mobilku diketuk. Mama sudah berdiri di samping pintu mobil dengan wajah khawatir. Aku tersenyum tipis dan segera membuka pintu.
“Kamu sakit, Nak? Kenapa sedari tadi kamu tidak juga masuk? Kamu sudah sepuluh menit lho diam begitu di mobil.” Mama bertanya sambil memegang dahiku. “Kamu lemas ya? Darah rendahmu kumat?” Aku masih diam tak menjawab ketika mama menggamit lenganku, berniat memapahku masuk rumah.
“Nggak, Ma. Dara baik-baik saja. Tadi cuma sekedar melepas penat saja. Jangan khawatir begitu dong. Yuk, kita masuk.” Aku merangkul sayang bahu mama sambil tersenyum. Usia mama memang sudah tidak muda lagi, tapi pesona kecantikannya tidak pernah pudar. Aku sayang sekali padanya. Walaupun beliau juga sering membuatku kesal karena desakannya supaya segera menikah, dia tetap orang yang paling kusegani. Tempatku mengadu ketika aku terjatuh dan merasa tak punya daya untuk bangun.
Aku memerhatikan tangannya yang dengan telaten menyiapkan teh manis hangat untukku. Tidak pernah kuminta, tetapi selalu beliau siapkan setiap aku berangkat dan pulang kerja. “Kamu harus banyak minum manis, Dara. Kamu ingat kan kalau punya darah rendah? Jangan sampai kamu pingsan saat sedang beraktivitas dan membuat panik orang di sekitarmu.”
“Iya, Ma. Dara tidak sedang lemas kok. Tadi hanya kebetulan saja sedang tanggung mendengarkan lagu yang diputar di mobil. Jadi ya diam dulu sampai lagunya habis.” Aku berusaha mencari alasan agar tidak membuatnya khawatir lagi.
Mama melirikku gelisah. Aku menangkap sinyal itu. Beliau pasti ingin menanyakan kabar pertemuanku dengan Harsa siang tadi. Aku sengaja diam saja, pura-pura tidak tahu sambil terus menikmati tehku.
“Mbak, tadi bagaimana?” Akhirnya mama bertanya juga.
“Bagaimana apanya?” Aku menahan senyumku dan masih berlagak tak mengerti.
“Tadi siang jadi ketemu dengan anaknya Bu Tris kan?” tanyanya penasaran.
“Jadi,” jawabku singkat sambil terus mengulum senyum yang dibalas dengan cibiran kesal mama.
“Cerita dong, gimana tadi? Anaknya Bu Tris ganteng ya, Mbak? Mama sudah pernah ketemu sekali waktu anaknya itu sedang menjemput Bu Tris di acara pengajian dua minggu lalu. Sopan dan ramah sekali. Mama mau deh punya mantu kayak gitu,” kata mama sambil menerawang yang justru membuatku terbelalak.
“Duh, Mama mimpinya tinggi amat. Belum tentu Dara cocok sama dia. Belum tentu juga dianya mau sama Dara.” Aku berusaha menurunkan harapan mama. Bukannya apa-apa, kalau yang ini sampai gagal juga, pasti beliau sedih sekali.
“Makanya kamu jadi orang yang lebih sabar dong. Tidak baik kalau wanita itu terlalu ambisius dan keras kepala seperti kamu. Apalagi kalau sedang marah, kamu bisa teriak-teriak histeris begitu. Bikin takut yang mau dekat sama kamu. Wanita itu sudah kodratnya lebih sabar dan lemah lembut. Harus tetap pintar dan mandiri, tetapi halus sikap dan tutur bahasanya.”
“Iya, Ma. Dara janji mau belajar lebih sabar dan gak judes lagi.”
“Benar ya, Nak. Kata-kata mama didengarkan, jangan cuma masuk kuping kanan terus keluar kiri. Umurmu sudah tidak muda. Sudah seharusnya menjadi lebih sabar dan anggun.” Mata mama menatapku tajam. Aku hanya bisa mengangguk pasrah.
“Iya, Mama sayang. Sudah ya. Dara ke kamar dulu. Terima kasih tehnya, Mama sayang.” Aku beranjak dari kursi sambil mencium pipi mama lembut.
Baru setengah jalan menuju kamar, kudengar mama berteriak memanggilku. “Lho, Dara, kok kabur sih? Itu tadi belum jadi cerita gimana ketemuannya?.” Aku tersenyum dan menyahut cepat, “Besok aja ya, Ma, ceritanya, Dara capek banget tadi habis meeting.” Tidak kudengar lagi sahutan mama. Aku yakin beliau masih menggerutu tetapi tidak berusaha menahanku lebih lama.
Mataku masih menatap nyalang ke langit-langit kamar. Resah berguling ke kanan dan kiri demi memikirkan tawaran Harsa. Tidak tampak seperti tawaran karena dia sepertinya tidak peduli dengan pendapatku dan malah memaksaku mengikuti maunya. Sebenarnya aku takut. Bagaimana kalau proses pendekatan ini tidak berhasil?
Pendekatan dalam waktu 30 hari itu terbilang singkat mengingat biasanya aku hanya bisa pacaran dengan orang yang sudah lama kenal denganku. Orang baru biasanya akan langsung menyingkir, tidak tahan dengan sikapku yang galak. Hanya orang yang sudah kenal dekat denganku saja yang paham bahwa aku tidak sekeras apa yang kutampilkan. Itu hanya samaran supaya aku tidak dianggap lemah. Aku hanya tidak ingin Harsa kaget. Aku sebenarnya ingin memulainya pelan-pelan. Pikirku masih melanglang ketika sebuah pesan singkat melalui WhatsApp mengusikku.
Sebagai langkah awal proses pendekatan, sebaiknya kita berusaha saling bertemu setiap hari. Dan itu dimulai dengan lunch bareng besok siang. Kebetulan besok aku ada meeting di dekat kantormu. Kita cari makan di SCBD saja. How? –Harsa-
Aku tidak segera membalas pesan itu. Berbagai pertanyaan berputar di kepalaku, memangnya dia tahu kantorku? Seingatku tadi kami bahkan belum sempat bercerita tentang pekerjaan masing-masing, apalagi sampai tahu alamat kantor.
Aku bergegas keluar kamar. Beruntung mama belum tidur dan masih menonton di ruang keluarga bersama papa. Aku langsung menghempaskan diri di sofa. “Ma, Mama cerita apa saja sama Bu Tris?”
Mama mengernyit mendengar pertanyaanku, “Cerita yang biasa saja, bilang kalau mama punya putri yang belum menikah. Kebetulan Bu Tris juga sedang mencari calon untuk anaknya, jadi ya kami coba tawarkan ke kalian apa mau kenalan? Sudah. Begitu saja.”
“Mama bilang pekerjaan dan kantorku ada dimana?” tanyaku.
“Tidak secara spesifik sih. Hanya bilang kalau kamu sudah kerja dan berkantor di Sudirman. Kenapa sayang?”
“Mama yakin Cuma bilang begitu saja?” kejarku masih belum puas.
“Iya, begitu saja. Memang kamu maunya Mama bilang apa? Bukannya kamu tidak suka kalau Mama cerita terlalu banyak tentang kamu?” jelasnya.
“Iya, sih. Ya sudah. Selamat istirahat, Ma, Pa. Dara balik ke kamar ya,” kataku singkat.
Di kamar aku masih termenung sampai sebuah pesan masuk lagi ke ponselku.
‘Kamu sudah baca pesanku tapi tidak dijawab? Please kabari aku secepatnya, supaya aku bisa atur jadwal besok siang. Have a nice dream, Dara.’
===============

Catatan hari ke-4:
Sesuai dengan topik #NulisRandom2015 maka cerita ini saya buat benar-benar tanpa kerangka atau penokohan. Ini adalah cerita fiksi dimana saya membebaskan imajinasi saya dan membiarkan alurnya mengalir tanpa pola. Proses pembuatannya pun cepat, kadang tanpa saya edit lagi. Jadi, mohon masukan dan kritiknya kalau memang ada kesalahan atau ceritanya terasa aneh. Please enjoy ^^

3 Jun 2015

#FFRabu - Belanja

 

“Minggu depan mau ada nonton bareng. Aku perlu kaos bola. Lebih bagus mana, kaos tim Belanda atau Inggris?” Dia bertanya sambil menunjukkan gambar dari salah satu toko online langganannya.
Aku meringis, “Ehm, dua-duanya oke. Terserah kamu saja mau pilih yang mana.”
“Atau aku beli saja dua-duanya?” sambungnya dengan mimik bingung.
“Lho, kenapa harus dua? Salah satu saja sepertinya cukup.” Aku langsung menyuarakan keberatanku.
“Memangnya kenapa kalau beli dua?” tanyanya dengan raut bingung.
“Ya, tidak apa. Tapi, sayang uangnya, bisa dipakai beli yang lain.”
“Beli apalagi?”
Aku tersenyum manis, “ Aku mau beli Lime Crime Velvetine Matte Lipstick.”
Lalu suasana hening.

=========

20150603 || Jumlah kata: 100 || Topik: Bola

2 Jun 2015

Harsa: To Fall In Love




Nama panggilannya Dara. Dia manis. Dia bukan model, jadi jangan bayangkan perawakan tinggi semampai dengan rambut hitam dan cantik luar biasa yang membuat kami, para Adam, akan segera menengok jika dia ada di sekitar. Dia sungguh sangat biasa. Tingginya hanya rata-rata wanita Indonesia, berat proporsional, rambut highlight dark brown dengan potongan bob sebahu, wajahnya hanya dipulas bedak dan lipstick tipis dengan penampilan casual. Sama sekali tidak mencolok.
Aku sudah mengamatinya sejak lima menit lalu. Sengaja tidak masuk ke dalam kafe tapi memandangnya dari samping jendela luar. Dia lumayan tenang, asyik sendiri dengan tablet di pangkuannya. Tidak mengetik atau bermain game, tebakanku, mungkin mengecek email saja. Dia tidak menghubungi ponselku, padahal aku sudah terlambat 15 menit. Apakah dia tipe wanita yang tidak perhatian dengan kekasihnya nanti? Aku mendengus. Itu yang harus aku cari tahu.
Baru beberapa menit dan kami sudah mulai tegang hanya karena menu pilihanku. Gosh! Masa dia tersinggung hanya karena aku memilih menu yang sama dengannya? Dan apa katanya, mengetes seleranya? Huh, dasar wanita! Buat apa aku mengetes seleranya makannya. Tidak penting.
“Kamu berapa bersaudara?” Pertanyaan bodoh macam apa itu. Otakku yang memiliki IQ diatas rata-rata ini mendadak tidak mau diajak berpikir kreatif. Aku memang ingin mengobrol dengannya, tetapi yang tercetus justru pertanyaan tidak berbobot itu.
Alisnya sedikit naik mendengar pertanyaanku, “Aku hanya berdua. Aku punya adik perempuan.” Oh, jadi dia anak sulung, pantas saja sikapnya setengah bossy. “Beda berapa tahun dengan adikmu?” Kepalang tanggung, kuteruskan saja proses perkenalan ini pelan-pelan.
“Kami beda lima tahun. Dia baru lulus, baru akan mulai bekerja minggu depan.” Intonasinya tegas saat menjawab pertanyaanku. Matanya tajam dan menatap tepat ke mataku. Menarik. Aku suka wanita yang berani macam dia. Mungkin, dia memang bisa menjadi penyeimbangku.
“Enak?” tanyanya. Aku menghabiskan kunyahan di mulutku sebelum menjawab, “Yup. Oke saja.” Dara menyipitkan matanya, “Enak karena kamu memang lapar? Atau taste-nya menurutmu enak?” Kejarnya lagi.
Aku terkekeh. “Aku sudah bilang tadi, aku bukan pemilih soal makanan. Rasanya memang enak, paling tidak cocok dengan lidahku. Tapi, ya, aku memang lapar juga. Apakah jawabanku cukup memuaskanmu, nona?” Kalau hubunganku bertahan lama dengannya, sepertinya aku harus mulai membiasakan diri dengan pertanyaan-pertanyaan Dara yang seolah tak pernah habis.
“Yah, setidaknya pilihan tempat dan menu makanku masih bisa dinikmati. Semoga kamu tidak kecewa,” katanya sambil menunduk ke piring makannya.
“Dara, sejak tadi, tidak sepatah kata pun aku menyatakan ketidaksetujuan atau kekecewaan pada pilihanmu. Kenapa kamu begitu memusingkan reaksiku?” cecarku.
Kudengar dia mendesah, “Cuma takut kamu kecewa. Ini pertemuan pertama kita.”
Aku terkikik dalam hati. Dia kuat, tapi juga rapuh. “Kamu begitu inginnya memberikan kesan yang baik padaku, ya? Kenapa? Dikejar target menikah?” Sial! Aku langsung mengutuki kebodohanku yang bertanya terlalu to the point.
Kulihat Dara tergagap. Wajahnya tegang dengan percik marah di matanya. Salah omong bisa menyebabkan ketidakjelasan pada masa depanmu. Itu tagline yang cocok untukku sekarang. Sok sekali aku menghakiminya seperti itu. Bahkan sebelum kisah kami dimulai.
Sorry! That’s rude. Aku gak maksud menyinggung,” kataku merasa bersalah.
Dia masih diam. Bahasa tubuhnya mencerminkan kalau Dara berusaha keras menahan diri. Ada senyum tipis yang dipaksakan ketika dia menjawab lugas, “Kalau ya, memangnya kenapa? Bukannya kamu juga sama? Itu sebabnya kamu ada disini bukan?”
“Ya. Kita sama, dikejar target menikah oleh orang tua. Kupikir kita harus berdiskusi soal itu sekarang,” kataku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, selagi gayung bersambut.
“Apa yang harus didiskusikan? Bukannya kita sekedar berkenalan saja sekarang, menuruti titah para ibu suri.” Dahinya mengernyit lagi. Lama-lama aku suka melihat ekspresinya yang serba serius begitu.
“Aku sudah capek dikejar pertanyaan ‘kapan nikah’ oleh banyak orang. Aku sudah mulai malas dengan usaha perjodohan yang dilakukan ibuku. Well, jadi, sekali ini aku ingin berniat serius. Kita buat perjanjian.”
“Perjanjian apa?” tanya Dara dengan muka bingung.
“Kita tetapkan batas waktu untuk usaha pendekatan. Pernah menonton film ’30 Hari Mencari Cinta’? Nah, kita buat saja ’30 Hari Pendekatan’ versi kita.” Dia masih tidak bereaksi sementara aku menanti was-was.
Lalu terdengarlah rentetan kata-katanya, “Kamu pikir kita sedang main-main? Harsa, dengar ya, aku sama kesalnya denganmu ketika semua orang merecokiku pasal menikah. Tapi, aku tidak pernah bermain-main urusan hati. Meskipun dengan berat hati, aku tetap datang ke sini demi menghormati mamaku dan ibumu. Dan sekarang kamu menawarkan perjanjian seperti main-main?”
Dalam hati aku menertawakan situasi ini. Seorang Harsa yang disegani di kantor karena kepintaran dan posisinya, kini dimarahi oleh seorang wanita yang bahkan baru dikenalnya beberapa menit. Aku mengatur napas. Sementara otakku bekerja keras merangkai kata dalam bahasa paling halus untuk menenangkan si putri marah. Ah, belum-belum aku sudah memberikannya julukan.
“Dara, calm down.” Aku mengelus lembut punggung tangannya yang langsung ditariknya. Dia mendadak bisu. Gelisah. Tapi tidak menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari tempat duduknya. Thank God! Berarti dia masih bersedia mendengarkan alasanku.
“Kita berdua sama-sama dikejar keluarga untuk segera menikah. Kita berdua sama-sama menghormati titah ibu suri, katamu, makanya kita bersedia untuk ke sini dan berkenalan. Aku ingin serius, kuharap kamu juga. Kalau dari pertemuan pertama saja kita sudah langsung say ‘No’, mungkin sampai balik ke zaman Flinstones kita masih belum menikah juga. Makanya, mari kita sama-sama berusaha selama 30 hari untuk PDKT. Apa pun yang terjadi setelah itu, kita putuskan nanti, yang penting kita sama-sama berusaha, dengan sungguh-sungguh, saling mengenal.” Aku terengah-engah setelah berbicara panjang lebar. Ini ternyata lebih melelahkan daripada menjadi pembicara seminar sehari.
Makhluk manis di depanku tampak sedang berpikir serius. Alis mengkerut dengan bibir yang mengerucut membuatnya tampak menggemaskan. Auranya kuat sekali. Kutub magnetku seperti ditarik paksa mendekat padanya. Please say ‘Yes’ untuk tawaranku, dan kupastikan kamu jatuh cinta padaku. Tekadku.
=================

Catatan hari ke-2:
Saya tidak pernah menulis dari POV laki-laki. Kenapa? Karena saya perempuan dan saya tidak paham dengan pola berpikir pria. Saya tidak berani ambil risiko salah, sampai hari ini. Saya ingin mencoba berbicara dari sudut pandang laki-laki. Kalau tidak sesuai, mohon masukannya. At least, saya mencoba keluar dari zona nyaman :p