Halaman

28 Agt 2013

[IRRC2013 #4] Book Review: Restart


Akhirnya saya bisa menyelesaikan Restart hanya dalam waktu 2 hari. Buat saya, itu adalah rekor tercepat mengingat saya melakukannya di weekday, bukan weekend. Jadi, praktis saya hanya skip membaca ketika tidur, mandi, kerja dan nyetir. Sisanya baca. Bahkan di dalam penuh sesaknya CommuterLine jurusan Tanah Abang - Serpong, saya masih sempat-sempatnya membaca. Tapi, saya tidak menyesal. Restart is a must read book for somebody who likes reading modern-romance story.

Buku ini adalah buku pertama Nina Ardianti (@ninaardianti) yang saya baca. Berawal dari blogwalking, sampailah saya di situs si penulis DISINI. Saya justru membaca semua cerpen di situsnya lebih dahulu -yang sepertinya semuanya tentang Ilham Fauzi. Berlanjut membaca review di Goodreads yang amazingly everybody gave high rating for this book. Maka tergeraklah saya membacanya. Restart itu tipe buku yang kalau sudah mulai, ya tidak bisa berhenti sampai halaman terakhir.

Sudah tidak terhitung banyaknya pembaca yang mengalami delusional terhadap Fedrian Arsjad. Musisi yang sedang naik daun, handsome dan well educated adalah sederet pesona yang menjadikannya the most eligible bachelor (Ini ada gak sih musisi/artis Indonesia cowok yang kayak gini? Kok saya cuma tahu Cinta Laura dan Gita Gutawa ya? :p) Tanpa sengaja dia bertemu Syiana yang sukses membuatnya diam karena kata-kata sarkastisnya. Selanjutnya adalah perjalanan kisah cinta mereka yang seperti layangan, tarik-ulur, kadang juga terlepas, untungnya masih bisa ditangkap lagi :p Sebagai pelengkap, Syiana dan Fedrian dikelilingi tokoh-tokoh lain yang IMHO semuanya sarkastis (membuat saya berpikir, apakah pergaulan saya terlalu biasa saja sampai tidak sadar bahwa Jakarta dipenuhi orang-orang penuh drama? :D).

Overall, I love Restart. Ceritanya mengalir. Karakter tokohnya dikembangkan dengan baik, plus banyak intermezzo tokoh-tokoh lain disana, membuatnya makin menarik. Konfliknya juga oke. Hanya masalah debat sarkastis hampir di semua tokoh yang buat saya agak berlebihan. Atau mungkin itu yang terjadi di lingkungan banker biru-kuning? Haha..kayaknya sih nggak juga ya karena beberapa teman saya disana justru kalem, feminin. Jadi, saya akan menganggapnya sebagai itulah ciri khas Nina. Lebay dan sarkastis itulah yang membedakan buku Nina dengan buku-buku Ika Natassa yang insightful atau Aliazalea yang lebih kalem.

Hal lain yang saya tangkap, this book is framing Jakarta lifestyle. Starbucks. SCBD. Senayan City. Harrier. Grand Indonesia. Oh yeah, gak yakin sih kalau pembaca di pelosok indonesia sana bisa paham apa itu Kate Spade atau Erdinger :p Bahkan, saya yang harusnya sih gak kuper-kuper banget, masih harus googling untuk tahu apa itu Diane James dan Preston Bailey :p But anyway, saya suka selera musiknya Nina. Pembatas antarbab-nya oke banget. Sukses membuat saya memainkan ulang lagu-lagunya Fastball, Melee, Gabrielle, The Script, Jason Mraz sampai One Republic. Yakin deh anak-anak generasi 2000-an belum tentu tahu Out Of My Head by Fastball itu lagunya yang mana :p

Oke, sekarang bagian protes-protesnya. Mari kita buat pointer saja :
  • Saya menghitung lho berapa kali Nina menulis, 'membetulkan bag strap yang turun' atau 'drop dead gorgeous', dan itu lebih dari 3x. Mungkin saya harusnya bisa membawa pulang payung cantik karena terlalu seringnya penggambaran itu :p
  • Terlalu banyak adegan kebetulan. Mulai dari Syiana bertemu Yudha, lalu Syiana bertemu Fedrian. That was too much in real life, isn't it? Teman saya di SCBD bertebaran, tetapi juga tidak sebegitu seringnya ketemu secara tidak sengaja di Grand Lucky atau PP.
  • Saya bertanya-tanya (atau mungkin saya yang missed, i need to check it again), ketika Syiana membuat janji temu dengan Yudha kok bisa-bisanya Fedrian muncul, sepertinya tidak ada penjelasan sebelumnya bahwa Syiana juga akan bertemu Fedrian disitu. Sekali lagi, ketika Bram makan dengan Syiana, tahu-tahu Fedrian juga bisa muncul disana. Padahal ya, katanya Jakarta macet dimana-mana, kok timing-nya bisa pas?
  • Setuju dengan review DISINI dan DISINI bahwa typo di buku ini luar biasa jumlahnya. Guess what? Saya jadi berencana untuk mengecek ke KBBI, artinya acuh apa sih? Kok kayaknya pemahaman saya jadi terbalik-balik. Lalu, artinya Terjam apa juga? Yang ini lupa sih halaman berapa dan kebetulan tidak bawa bukunya, sorry :p
Udah sih itu aja protesnya, daripada penulisnya ngambek gak mau bikin buku lagi, repot kan?! :D

Terakhir, kalau saya boleh memilih karakter mana yang saya paling ingin tahu untuk dibuatkan ceritanya. Saya request kisah cintanya Bram, kakaknya Syiana. Atau kisah cinta Kemal dan Emma. Kalau kisah cintanya Aulia dan Andari, tidak usahlah ya, ujung-ujungnya nanti kebanyakan drama lagi :D

Next, saya baru mau baca Fly To The Sky :p

22 Agt 2013

Menyikapi Pertanyaan Basa-Basi

Akhirnya saya tidak tahan juga untuk mengomentari "pertanyaan basa basi yang jadi basi" versi banyak orang. Apa sih pertanyaan basa-basi?
 
"Oh, masih ngerjain skripsi ya? Tentang apa? Kapan kira-kira selesainya?" Nah, itu deretan pertanyaan basi yang biasanya ditanyakan ke adik-adik mahasiswa tingkat akhir. Terlihatnya luntang-lantung santai berdalih mengerjakan skripsi sementara kuliah pun sudah tidak ada. Yakin deh, gak ada yang lebih membetekan selain diingatkan soal skripsi yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera selesai.
 
Kalau kamu jomblo, bosan kan ya ditanya, "Kok belum punya pacar sih?" atau "Masak sih nggak ada yang tertarik sama kamu, kan sudah mapan?". Yah, tahulah pertanyaan apa yang biasa terlontar ketika kamu sudah dirasa cukup umur tetapi masih juga jadi single. Seringnya, si jomblo akan mengutuk habis-habisan si pemberi pertanyaan dengan alasan selalu mau ikut campur urusan orang.
 
Lain lagi ceritanya kalau sudah menikah. Pertanyaan basinya adalah, "Mana nih kok belum ada momongan? Sengaja menunda ya?" Itu berlaku kalau biasanya baru menikah 1-2 tahun. Kalau sudah >3 tahun belum punya baby juga, pertanyaan usilnya adalah, "Lho, belum ada momongan juga? Kurang usaha kali ya? Kamu kecapekan kerja kali, makanya resign aja." Lebih teganya lagi, kadang ada yang terang-terangan ngomong, "Kalau habis begituan, pantatnya terus diganjal bantal, biar gak keluar lagi."
 
Saya yang mengalami contoh kasus ketiga sering dibuat terperangah dengan komentar orang-orang ini. Saya sendiri sudah melewati 5 kali Lebaran dan melalui pertanyaan yang seringnya bikin bete itu dengan tegarnya. Plus, senyum tidak pernah lepas dari bibir saya. Jadi, walaupun dalam hati pahit, getir, malas menjawab pertanyaan yang itu-itu lagi, dari luar saya tetap happy.
 
Walaupun saya sudah melewati deretan pertanyaan mulai dari contoh kasus satu sampai tiga, saya tidak lantas membenci penanya-penanya itu. Saya mencoba memahami si pemberi pertanyaan dengan selalu berpikir bahwa mereka bertanya karena memang peduli. Mereka ingin tahu kabar saya. Walaupun, somebody said that peduli dengan kepo a.k.a selalu mau tahu urusan orang itu bedanya tipis.
 
Tetapi, lagi-lagi, saya mencoba berpikir positif. Sama seperti kita sebagai korban yang mengharapkan banyak orang care pada kondisi kita dengan tidak menanyakan pertanyaan usil. Kenapa kita tidak membaliknya menjadi seseorang yang memahami bahwa pertanyaan itu memang murni karena mereka peduli, sesuai dengan asas masyarakat Indonesia yang katanya suka menolong tanpa pamrih (katanya pelajaran SD dulu begitu ya :p). Yup, karena ujungnya biasanya mereka akan mengoceh dengan memberikan saran ini-itu, yang kalau mau jujur, sebenarnya sudah pernah kita lakukan, tetapi sayangnya masih gagal juga.
 
Contohnya gampangnya ya saya lagi. Kerabat saya akan menyarankan supaya saya ikut program dokter, itu sudah sering saya lakukan demi dapat momongan. Tante A bilang jangan terlalu capek. Oke, saya pindah kerja yang lebih santai sampai saya berpikir untuk membakar ijazah S2 saya karena pekerjaan saya sekarang bahkan hanya perlu 50% dari kapabilitas yang saya yakin saya miliki. Makan kurma muda, banyak makan sayur, minum kapsul entah apalah, itu juga sudah sering. Cuma bayi tabung saja yang belum dicoba karena saya dan suami masih belum mau menyerah.
 
Intinya, saya cuma ingin mengingatkan baik kepada si penanya-penanya usil maupun kepada si korban penjawab pertanyaan. Saya tahu niat kalian bertanya itu baik, peduli pada kami, tetapi tidak perlu juga kan ditanyakan berulang-ulang. Dan kepada kita yang menjadi korban harus menjawab pertanyaan, ya hormati juga mereka yang bertanya. Tidak perlu kesal dan mengucapkan sumpah serapah, cukup menjawab dengan sopan disertai senyum, kalau perlu minta doa sekalian. Saya yakin dunia lebih indah kalau kita tahu etika bertenggang rasa. Salam damai! ^_^
 

16 Agt 2013

Book Review: Stasiun

Diantara sekian banyak buku yang terpajang di toko buku, judul Stasiun sangat menarik buat saya. Kenapa? Karena stasiun dekat dengan rutinitas saya sehari-hari sebagai pengguna CommuterLine. Ketika membaca sinopsis di sampul belakang pun saya dibuat semakin jatuh hati karena pengalaman Adinda dan Ryan tampak manusiawi bagi kami; Anak Kereta -- AnKer.

Tetapi, jangan terlalu berharap bahwa kisah Adinda dan Ryan akan dirangkai romantis di buku ini. Walaupun dimasukkan dalam kategori novel, tetapi menurut saya belum bisa digolongkan sebagai novel bergenre romance. Sepemahaman saya novel bergenre romance biasanya akan berfokus pada tokoh pria dan wanita, kemudian menceritakan bagaimana perjalanan kisah cinta mereka secara rinci, misalnya mulai dari bertemu, berkonflik sampai akhir dari hubungan itu sendiri. Hal yang semacam itu tidak ada di novel ini.
 
Belakangan saya tahu bahwa penulisnya memang sengaja menulisnya dalam bentuk omnibus, dimana setiap bab dalam buku tersebut sebenarnya bisa dibaca secara terpisah. Saya bukan ahli sastra dan maaf, sudah lupa pelajaran Bahasa Indonesia, jadi saya tidak tahu persis definisi omnibus. Yang saya pahami, omnibus bisa disebut juga kumpulan cerita pendek dengan satu tema yang sama, atau satu penulis yang sama, atau satu tokoh yang sama, atau satu latar yang sama. Beberapa orang biasa menyebut omnibus dengan antologi. Kenapa tidak ada keterangan mengenai omnibus atau antologi di sampul buku, saya kurang tahu dan tidak tahu, "Apakah harus?" Setahu saya beberapa omnibook lainnya juga tidak menuliskan itu di sampul bukunya.
 
Balik ke Stasiun. Tokohnya ada dua orang: Adinda dan Ryan. Latarnya ada satu: Stasiun Bogor. Tema utamanya, menurut saya, adalah menangkap potret kehidupan di stasiun dan kereta yang seringkali terlewatkan dan tidak terpikirkan bahkan oleh saya yang pengguna kereta. Setiap bab berkesan buat saya karena mewakili apa yang saya lihat, dengar, alami dan kadang-kadang renungi ketika saya berkereta. Cynthia Febrina menuliskan dengan sangat baik bagaimana kita seharusnya berempati dengan sesama. Dia memberikan bacaan yang berbeda di tengah menjamurnya (maaf) buku bergenre romance yang ceritanya hanya itu-itu saja. Sebagai pengguna CommuterLine (atau dulu beberapa kali KRL Ekonomi) saya paham betul apa yang ingin disampaikan si penulis. Walaupun beberapa bagian akan terasa 'masa lalu' karena peraturan tarif CommuterLine sekarang sudah berubah dan KRL Ekonomi sudah dihapus.
 
Buat yang tidak tahu atau belum pernah merasakan naik kereta commuter di wilayah Jabodetabek, coba intip foto-foto yang diposting penulisnya DISINI. Itu membantu untuk membayangkan dan memahami situasi yang ingin digambarkan si penulis.
 
Saya sarankan kamu membaca buku ini kalau ingin mendapatkan bacaan dengan tema berbeda, terutama kamu yang ingin kembali mengasah empati yang sudah mulai tumpul. Banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari buku ini.
 
Terakhir, saya berharap Cynthia akan melanjutkan kisah Adinda dan Ryan menjadi full romance novel ^_^

12 Agt 2013

[IRRC2013 #3] Book Review: Orang Ketiga

Kesan pertama saya ketika membaca judulnya adalah saya tidak mau membaca buku ini. Saya tidak suka fokus cerita 'Orang Ketiga' karena tidak sesuai prinsip saya yang pemuja single relationship man and women sesusah apa pun hubungan itu. Tetapi, saya beruntung karena bertemu langsung dengan penulisnya -Yuditha Hardini- dalam kesempatan yang tidak terduga. Saya yang mudah penasaran ini jadi tertarik ingin membaca bukunya :p
 
Sosok Anggi -tokoh utama novel ini- digambarkan sangat mudah jatuh cinta pada lawan jenis. Dia juga plin-plan; tidak jelas mencari apa dalam sebuah hubungan, selain sekedar happy. Kalau saja saya tidak punya teman seperti Anggi, pastilah saya sudah menghujat si tokoh ini habis-habisan.
 
Beruntungnya si Anggi ini punya teman penyeimbang, sahabatnya yang bernama Kayla. Sahabat yang selalu mengingatkannya untuk memakai logika dan bersikap wajar, kalau tidak mau dibilang kecentilan. Beruntungnya lagi, si Anggi juga punya Rudi, sosok kakak yang siap sedia melindunginya. Sialnya, si Anggi juga bertemu Angga yang dicintainya setengah mati walaupun bisanya hanya mengobral janji.
 
Novel ini ditulis  dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Cara penulisan inilah yang paling tidak saya sukai dari novel ini. Saya tidak suka cara penulis membahasakan tokoh utama. Saya merasa terganggu (sekali) dengan penyebutan 'cowok ini' atau 'cewek ini' yang terkesan kasar di telinga saya (eh salah, maksudnya mata kali ya :p). Saya bukan penulis apalagi ahli sastra, tetapi kalau boleh saya menyarankan penggunaan kata yang lebih halus, cukup menggunakan kata 'dia' atau sebut saja nama si tokoh, Anggi atau Angga.
 
Menurut saya, beberapa bagian tampak terlalu dipaksakan misalnya penggunaan tes psikologi untuk memilih pasangan. Buat saya sih agak terlalu jauh dari realita, karena beberapa teman saya yang juga psikolog (ini latar belakang penulis) biasanya cukup membaca tulisan tangan atau analisis karakter dari tanda tangan saja. Tapi tak apa sih, tidak terlalu mengganggu dan saya tetap bisa menikmati.
 
Overall, dengan alur maju yang digunakan, cerita Orang Ketiga tetap bisa dinikmati. Toh, cerita semacam ini sebenarnya bertebaran dalam kehidupan nyata di sekitar kita. Jadi, kalau ingin tahu bagaimana cara berpikir tokoh Anggi yang membuat saya kesal dan gemas, silakan membaca buku ini :D

10 Agt 2013

Kebiasaan yang Bergeser

Kebiasaan saya adalah tidak bisa menahan diri untuk tidak membeli buku baru. Jangan bayangkan saya akan membaca buku yang 'berat' seperti buku motivasi atau biografi atau pengetahuan populer. Saya hanya membaca novel saja. Titik.

Saya penggemar fiksi. Saya lebih senang tenggelam pada segala hal yang tidak nyata, dengan kata lain, saya senang bermimpi. Buat saya, realita hidup itu sudah cukup rumit, jadi saya merasa perlu menghibur diri dengan bermimpi.

Fiksi yang saya pilih pun spesifik. Saya hanya membaca cerita bergenre roman. Mungkin karena semasa kecil saya terlalu sering membaca kisah seperti Cinderella dan Snow White, makanya saya senang bermimpi yang indah-indah.

Lini Metropop yang diusung Gramedia adalah kesukaan saya. Tetapi saya terkejut sendiri ketika kemarin ke toko buku, dari 4 buku yang saya pilih, hanya 1 yang terbitan Gramedia. Sisa 3 buku lainnya campuran dari penerbit lain macam Gagas Media, Penerbit Haru dan Plot Point. Apakah selera saya berubah? Atau ada tren yang bergeser?

Kiblat saya bukan lagi buku yang diterbitkan Gramedia. Saya menemukan judul-judul lain dari penerbit lain dengan sinopsis cerita yang lebih menarik. Buku-buku yang ditulis oleh penulis-penulis baru ini jauh lebih bervariasi. Sebagai pembaca, saya menikmatinya. Saya turut senang ketika lebih banyak penulis bermunculan. Lebih banyak penerbit yang mau berkembang. Hingga akhirnya industri perbukuan nasional (harusnya sih) lebih maju lagi.

Apakah ada mengalami seperti saya? Ada kebiasaan yang berubah.

*sekedar pikiran random hari ini :p

sent from @motskee BlackBerry®

5 Agt 2013

Cari Jodoh ala Andin

"Jangan lupa ya nanti sore BukBer angkatan di SenCy. Ditunggu!"
 
Berbekal tweet dari akun angkatan, berangkatlah gue menuju Senayan City. Kebetulan lokasinya dekat, hanya beberapa blok dari kantor. Gue sengaja berangkat jam 17.30 dari kantor, daripada sampainya terlalu cepat, belum banyak yang datang, malah jadi bengong. Maklum, lulus SMA sudah 9 tahun yang lalu. Waduh, tua juga ya gue :p
 
15 menit sebelum buka puasa gue sudah sampai di SenCy. Dan benar apa kata gue, manusianya baru 5 orang (itu termasuk gue!). Mengingat peserta yang hadir hanya saling kenal basa-basi tapi tidak dekat, jadilah stok bahan obrolan menjadi sangat minim. Menyesal tadi tidak sempat memaksa Lia --my best friend since senior high school-- untuk datang setelah acara berbuka puasa di kantornya selesai.
 
30 menit setelah berbuka puasa, satu per satu teman-teman semasa SMA-ku ini (ehem!) mulai hadir. Banyak yang sudah mulai berubah, secara fisik. Sementara obrolan masih seperti dulu, masih nyinyir disana-sini plus cela-celaan tiada akhir. Gue sendiri asyik menjadi pengamat. Tidak bermaksud mencari jodoh disini karena saya kenal hampir semuanya. Tapi, ya, karena sudah kepepet usia, kalau ada yang berhasil nyangkut, masa ditolak? Hahahaa..
 
Jabrik. Nama aslinya Irvan, tetapi karena dulu potongan rambutnya selalu jabrik, jadilah dia terkenal dengan nama Jabrik. Sekarang, gue takjub. Rambutnya masih jabrik sih, sedikit, tapi dengan gaya casual dan muka ala model cowok Jepang, sudah pasti bikin cewek-cewek melirik. Sayang, baru saja menikah.
 
Timmy. Sebagai presenter terkenal, wajar kalau mukanya yang paling sering gue lihat di TV. Di TV sih tampak ganteng, dan ternyata aslinya jauh lebih ganteng didukung postur tubuh yang tinggi tapi atletis. Tapi, yang ini kabarnya sedang dekat dengan salah satu news anchor yang juga mantan Putri Indonesia. Oke, bye-bye.
 
Oscar. Gue masih ingat, ini anak dulu bandelnya gak ketulungan. Tukang cabut. Tukang berantem. Sekarang, kerja di multinational oil & gas company. Wow! Boleh banget dijadikan incaran, walaupun tidak tahu sih sudah punya pacar atau belum.
 
Satria. Dulu banget sih gue pernah nge-fans sama dia. Gayanya tenang. Pembawaannya kalem. Tapi kalau udah berantem (maklum ya, sekolah gue jagoannya berantem), jago abis. Dia juga bintang basket. Lanjut kuliah ke ITB dan sekarang kerja di Pertamina. Yuk, coba dilihat lebih dekat. Masalahnya, dia mau atau nggak mendekat ke gue juga :p
 
Sudah ah. Capek! Intinya, walaupun dulu mereka luar biasa bandel, tetapi sekarang teman-teman gue ini semuanya sukses. Bangga lihatnya. Semoga ada satu yang jadi jodoh gue. Siapa gue? Oh ya, gue malah belum cerita gue siapa ya? Baiklah, mari berkenalan.
 
Teman-teman gue biasanya memanggil gue Andin. Bukan orang terkenal, baik dulu maupun sekarang. Bukan pelajar teladan tetapi juga bukan anggota pelajar tulalit. Selesai kuliah di UI, kemudian langsung kerja di perusahaan consumer goods. Di usia gue yang (baru) 27 tahun ini, gue sudah jadi Assistant Manager. Sebenarnya gue menikmati hidup gue, sampai nyokap gue terus-menerus memaksa gue menikah atau gue bakal dijodohin. Duh, dikira masih zaman Datuk Maringgih kali ya pakai dijodohin segala. Jangan sampai deh ya! Jadi, wajar kan kalau gue berusaha punya pacar, alhamdulillah kalau berlanjut ke jenjang pernikahan.
 
Gue bukan pemilih, pun urusan cari calon suami. Maunya sih punya pacar (berdoa semoga bisa jadi calon suami) yang sudah punya pekerjaan yang mapan dengan gaji layak untuk hidup di Jakarta (hidup di Jakarta mahal, admit it!). Tidak perlu terlalu ganteng, tapi juga jangan seperti Tukul. Tidak rewel urusan suku dan ras, walaupun tidak mau pria yang berkulit hitam dengan alasan memperbaiki keturunan :p Last but not least, harus yang seiman supaya besok anak gue tidak bingung harus memilih salah satu. Jadi,kalau kira-kira ketemu cowok yang sesuai kriteria yang gue sebutkan tadi, boleh dong dikenalin ke gue. Oke :D

2 Agt 2013

[IRRC2013 #2] Book Review: Dear Friend With Love

Karina Larasati
Cantik. Modis. Punya fashion line sendiri. Sudah menjomblo selama bertahun-tahun. Memendam perasaan pada sahabat terdekatnya selama 8 tahun terakhir: Rama Adrian.

Rama Adrian
Selalu merasa dirinya paling ganteng dan pahlawan di kehidupan yang lalu. Hobi bergonta-ganti pacar. Jatuh cinta pada Cicit. Sudah bersahabat dengan Karin sejak 8 tahun lalu.

Pria dan wanita yang mengaku bersahabat katanya tidak akan murni menjadi sahabar. Salah satu dari keduanya pasti memendam perasaan. Ide cerita yang sungguh klise. Sudah banyak sekali novel yang mengangkat tema seperti ini. Tetapi, justru dari kesederhanaan ide itulah yang membuat saya tertarik untuk membaca dan mencaritahu seperti apa si penulis akan mengemas tema umum ini.

Ini pertama kalinya saya membaca tulisan Nurilla Aryani, jadi sejak awal saya masih menebak-nebak kira-kira bagaimana gaya bercerita sang penulis. Dan saya amazed. Gayanya bercerita jauh dari membosankan. Saya seperti membaca curhatan atau diary baik dari sisi Rama dan Karin. Ya, buku ini memang menggunakan dua point-of-view. Bahasanya juga lugas dan ringan, sama persis dengan obrolan dan becandaan anak-anak Jakarta kalau bertemu dengan teman-teman dekatnya which is look realistic to me. Bukan hanya itu, tempat makan atau kafe yang disebutkan di novel ini juga kebetulan tempat-tempat yang biasa saya kunjungi, seperti misalnya Sabang 16. Jadi, membaca buku ini seperti memutar film di otak saya karena saya bisa membayangkan seperti apa adegan-adegan yang diceritakan. I like it.

Membaca novel ini tidak perlu waktu lama karena selain ceritanya mengalir dan bertempo cepat, bukunya juga tipis, jadi cukup 2 jam non-stop untuk menyelesaikannya. Saya juga suka gambar sampulnya: simpel tetapi lucu. Menarik. Kalau kamu butuh bacaan singkat dengan cerita yang ringan tetapi tidak membosankan untuk sekedar mengisi waktu luang, saya merekomendasikan untuk membaca buku ini. Buku ini belum menjadi favorit saya dan mungkin akan segera terlupakan (oops! sorry :p), tetapi cukup menghibur.

Terakhir, saya suka ending-nya. Kami para wanita memang biasanya realistis dan (akhirnya) menggunakan logika, bukan melulu perasaan, kalau sudah menyangkut pilihan pasangan hidup, bagaimana pun tengil-nya kita sehari-hari. I love it! ^_^

Note: Buku ini adalah salah satu paket LitBox pertama yang saya pesan.

1 Agt 2013

[IRRC2013 #1] Book Review: Mafia Espresso

Senang berbisnis dengan Anda. Hubungi saya bila ada orang lain yang perlu Anda lenyapkan.
(Mafia Espresso halaman 99)
Saya hanya bisa mengulum senyum membaca kalimat tersebut. Harus saya akui, Sophie Pieters -tokoh utama wanita dalam novel ini- seringkali larut dalam pikiran-pikiran konyolnya sendiri. Bahkan Maggie -sahabatnya- kadang bingung menentukan, apakah Sophie memang memiliki daya analisa yang tajam atau daya imajinasi yang terlalu tinggi. Tetapi, tingkah laku Sophie yang konyol itulah yang justru memikat Antonio Azzaro -pria Italia tokoh utama novel ini- untuk mendekatinya.

Saya sebetulnya kurang suka dengan gambar sampulnya yang kurang meng-Indonesia, walaupun akhirnya saya paham bahwa meski ditulis oleh penulis Indonesia, latar dan tokohnya bukan di Indonesia. Novel yang ditulis oleh Francisca Todi ini sukses menghibur saya saat sedang jenuh. Cerita yang mengalir dan dialog yang jenaka menjadi kekuatan tersendiri dari novel ini.

Sayangnya, dengan plot maju, saya merasa alurnya melambat di bagian pertengahan sehingga saya sempat merasa bosan. Menurut saya konflik antar tokohnya kurang terbangun. Flat. Misalnya bagian Tina -kakak Sophie- yang menjadi sulit dihubungi karena harus bekerja keras sampai kelelahan, alasan kenapa dia harus bekerja sekeras itu seperti kurang masuk akal buat saya. Atau bagian Ray -mantan pacar Sophie- yang dikisahkan amat sangat menyebalkan, tidak tampak sebegitu menyebalkannya untuk saya. Entah kenapa saya merasa karakter tokohnya dibuat serba tanggung.

Satu lagi yang amat saya sayangkan; pendeskripsian latar cerita. Tadinya saya berharap, dengan perjanjian antara Sophie dan Antonio, pembaca akan dibawa berkeliling meng-explore tempat-tempat seru di Belanda. Tetapi, hampir tidak ada deskripsi Belanda di buku ini. Kalaupun ada, hanya yang sifatnya sangat umum. Sayang. Padahal saya ingin lebih banyak tahu tentang Belanda karena belum pernah kesana :p

But overall, i enjoy this book. Antonio's habit who were happy to tease Sophie is really entertaining. I think i should read more romantic-comedy novel to keep me laughing. So, i recommend this book if you are looking for light romantic-comedy story :)