Halaman

28 Des 2011

Let's Go

 Saya salah satu penggemar komik klasik Swan yang ditulis Kyoko Ariyoshi. Sejak itu saya juga menjadi salah satu penggemar pertunjukan balet yang sayangnya masih amat jarang di Indonesia. Jadi, di akhir sisa hidup saya, alangkah bahagianya kalau saya bisa menonton pertunjukan balet di 3 tempat berikut.


Bolshoi Theatre di Moscow, Rusia


Gedung ini adalah salah satu yang tertua di dunia, sesuai dengan sejarah baletnya yang mengakar kuat. Bolshoi terkenal dengan karya-karya balet klasik seperti Sleeping Beauty, The Nutcracker sampai Swan Lake.

Lincoln Theatre di New York


Di New York, saya tertarik untuk melihat contemporary ballet atau disebut juga neoclassical ballet, perpaduan antara balet klasik dan modern dance. Aliran ini banyak dipengaruhi oleh George Balanchine (salah satu pendiri New York City Ballet) dengan karyanya yang terkenal yaitu Episodes dan Symphony in Three Movements. Balet modern disebut sebagai aliran yang lebih manusiawi.

Royal Opera House di London


London juga terkenal sebagai salah satu negara pencetak balerina terkenal. Disini juga kita akan melihat pertunjukan balet klasik. Salah satu balerina terkenal dari UK yaitu Margot Fonteyn.

22 Des 2011

I.L.U

Aku dulu memang nakal, bilangnya ada rapat OSIS, padahal aku pacaran di mal sebelah SMA. Maafin aku ya, bu..

Aku dari dulu sampai sekarang masih suka alpa sholat lima waktu. Bahkan sering malas kalau disuruh baca Al-Quran. Maafin aku ya, pak..

Aku tidak pernah tahan kalau tidak mengganggu, sering juga sengaja rebutan DVD atau laptop. Maafin aku ya, dik..

Aku sering bilang kalau papa itu kurang menghargai diri sendiri karena berbusana terlalu sederhana untuk seseorang yang pernah jadi orang penting. Maafin aku ya, pa..

Aku sering bilang kalau mama itu orangnya terlalu perhitungan dan kurang empati sama orang, padahal selalu ada alasan di balik itu. Maafin aku ya, ma..

Aku sering dengan sengaja mengaku tidak enak badan kalau disuruh belajar waktu SD, padahal cuma lagi malas. Maafin aku ya, eyang putri..

Aku selalu memaksa pergi ke toko buku demi dibelikan buku cerita baru, padahal seringkali kondisinya memang tidak memungkinkan. Maafin aku ya, eyang kakung..

Aku selalu susah bangun pagi dan sering malas membuatkan sarapan, makanya kamu selalu menyiapkan sendiri sarapan dan bekal siangmu. Maafin aku ya, my dear hubby..

Hal pertama yang akan saya lakukan kalau waktu hidup saya tidak lama lagi adalah minta maaf, sungkem, kepada orang-orang terdekat saya.

sent from @motskee BlackBerry®

20 Des 2011

LaLaLaLa

Ini bukan pertama kalinya saya pergi karaoke bersama teman kantor. Tapi pertama kalinya saya pergi, total berlima dengan saya, dengan komposisi tim yang ini.

4 orang wanita dan 1 orang pria.
4 orang sama departemen dan 1 beda.
3 orang MT dan 2 orang Analyst.
5 orang dari satu divisi yang sama.

Segala beda menyatu. Mulai dari pemilihan lagu berbahasa Inggris, Indonesia sampai Korea dan Jepang ada semua. Mulai dari lagu berirama sendu, house dangdut, pop sampai mayoritas rock bisa sukses membuat kami loncat-loncat.

Hasilnya ternyata luar biasa gokil. Ajang penyaluran segala rasa akibat project yang masih serba menggantung menjelang tutup tahun ini.

Thank you to all of you, friends. I will remember this day ^_^

sent from @motskee BlackBerry®

15 Des 2011

sahabat



Hari ini adalah kesekian kalinya saya makan siang bersama sahabat baik saya di kantor. Bercerita ini dan itu. Tertawa lepas bersama-sama. Sampai saling menasehati.

Saya dan dia memang sudah mulai dekat sejak kubikel kami masih saling berjauhan. Kini, setelah kubikel kami bersebelahan, rasanya hampir tidak bisa dipisahkan. Senang dan sedih kian tercampur.

Saya cenderung pendiam dan hanya berkata sekadarnya, sementara dia adalah orang yang selalu mampu menghidupkan suasana. Pekerjaan saya berhubungan dengan data dan angka-angka. Sementara dia berhubungan dengan promosi media. Mungkin justru perbedaan itulah yang menyatukan kami.

Senja ini saya merenung. Bersyukur bahwa diantara hidup yang terkadang terasa berat, saya masih punya tempat berbagi. Seorang sahabat yang selalu menguatkan langkah saya. Alhamdulillah.

1 Des 2011

Keong Sakti

Duyung Jelita adalah putri sulung dari Raja Laut Dalam. Selain parasnya yang menawan, hatinya pun sungguh baik. Dia selalu berusaha menolong siapa pun yang membutuhkan keahliannya untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita penghuni bawah laut. Ya, Duyung Jelita adalah seorang dokter di Negeri Laut Dalam.

Hari itu sangat cerah, tetapi malang bagi si Monster kecil, dia kena penyakit flu ikan yang menular. Ia lalu minta diberikan obat oleh Duyung Jelita, karena bila penyakitnya tidak segera sembuh maka dia akan dikucilkan oleh rakyat Negeri Laut Dalam. Menurut Duyung Jelita, salah satu obat paling ampuh adalah Monster harus berenang ke Laut Tropis karena hanya suhu air hangat akibat sinar matahari yang bisa menyembuhkan penyakitnya. Monster akhirnya setuju untuk berenang ke Laut Tropis, tetapi ia minta ditemani Duyung Jelita.

Pada hari yang sudah ditetapkan, Duyung Jelita dan Monster akhirnya berenang ke Laut Tropis. Hanya beberapa menit di Laut Tropis lambat laun penyakit Monster menghilang. Dia sudah sehat lagi. Tepat saat mereka berdua akan kembali ke Negeri Laut Dalam, sirip Duyung Jelita terjaring nelayan. Monster berusaha sekuat tenaga menolong Duyung Jelita, tetapi dia tidak mampu.

Monster berenang tergesa dan segera menghadap Raja Laut Dalam. Seluruh rakyat Negeri Laut Dalam bersedih mendengar berita menghilangnya Duyung Jelita, sang dokter baik hati yang sangat mereka sayangi. Hari berganti hari, tak terasa sudah 4 bulan Negeri Laut Dalam bermuram durja dan merasa kehilangan. Raja pun tak sanggup lagi memimpin karena beliau jatuh sakit memikirkan nasib putri sulungnya.

Tanpa sengaja Keong Sakti berkelana sampai ke Negeri Laut Dalam. Dia kehabisan bekal di perjalanan, makanya dia mampir ke istana Raja Laut Dalam. Walaupun sedang sakit, Raja tetap berusaha menerima tamunya dengan baik. Melihat keadaan raja yang sakit dan kondisi seluruh negeri yang muram, si Keong Sakti pun mulai bertanya, mengapa tidak ada kebahagiaan di negeri itu.

Mendengar penuturan rakyat Negeri Laut Dalam, sang Keong Sakti pun menerawang menggunakan bola saktinya. Dia melihat bahwa di daratan Duyung Jelita pun sedang menangis, meratapi nasibnya yang sering disia-sia oleh nelayan. Dipamerkan ke seluruh daratan, tetapi hanya diberikan ruang terbatas untuk bergerak.

Keong Sakti tersentuh untuk menolong. Dia pun mengucapkan mantra dan dalam sekejap dia berhasil memindahkan Duyung Jelita dari tahanan di daratan, kembali ke Negeri Laut Dalam. Raja dan seluruh rakyat bersukacita menyambut kembalinya Duyung Jelita. Untuk mengenang kebaikan Keong Sakti, maka Raja menganugerahi gelar Ksatria Negeri Laut Dalam kepadanya. Raja juga memberikan tempat tinggal dan harta benda yang berlimpah kepadanya.


22 Nov 2011

Outing ke Pulau Umang

Ini kedua kalinya saya pergi bersama teman-teman kantor. Judulnya sih boleh outing, kenyataannya adalah ajang bermain-main bersama :p Tujuan outing masih di seputar daerah Banten, lebih tepatnya di Desa Sumur, Pandeglang, yaitu Pulau Umang (sebelumnya pernah ke Tanjung Lesung). Setelah menempuh perjalanan selama +/- 7 jam dari Jakarta sampailah kami di pulau yang masih alami ini. Kebetulan pada saat kami datang ternyata banyak juga rombongan dari grup lain, katanya 40 dari 60 kamar yang tersedia semua terisi.


Snorkeling adalah salah satu yang paling berkesan buat saya. Memang, untuk snorkeling kita akan dibawa ke pulau kecil di seberangnya, namanya Pulau Oar. Tetapi pemandangan dalam lautnya memang luar biasa indah. Terumbu karangnya masih bagus, beraneka rupa dan berwarna-warni, jenis ikannya juga banyak. Memang sih awal mulai snorkeling saya sempat merasa gatal-gatal karena ada ubur-ubur kecil (kata teman saya) atau plankton (kata guide-nya). Entah yang mana yang benar, tetapi tidak lama rasanya sudah biasa saja. Selain itu, arus airnya juga unik. Normalnya airnya akan terasa hangat, tetapi tiba-tiba akan terasa ada arus air yang terasa dingin. Katanya sih memang disitu daerah pertemuan antara arus panas dan arus dingin, makanya makhluk hidup bawah lautnya terpelihara dengan baik.

Saya juga amat sangat menikmati bermain-main di pantai. Foto ramai-ramai sambil bermain lari-larian di pasir putih, jelas pengalaman yang menyenangkan. Maklum, sehari-hari di Jakarta ketemunya macet dan layar laptop terus :p Jadi, bermain bersama alam selalu menyenangkan buat saya.

Oh ya, karena ini outing kantor, tentu saja ada Fun Games yang kita pesan khusus. Bukan outbound (disini juga ada fasilitasnya), tetapi lebih ke permainan sederhana. Permainan pertama dan heboh, alias grup saya kalah telak adalah balap karung beregu. Jadi, 5 orang dalam 1 tim masuk ke dalam 1 karung besar dan harus lompat bersama-sama untuk bisa maju. Ya sudahlah, kelompok saya menyerah kalah saja, mau lompat berkali-kali sampai jatuh, karungnya tetap tidak maju-maju :p Permainan kedua adalah lomba bakiak beregu, yang untungnya kali ini kelompok saya menang. Nah, yang ketiga adalah tarik tambang 4 pria vs. 12 wanita. Haha..sudah tahu dong siapa yang pasti menang? :D

Sejujurnya, selain pemandangan pantai dan dunia bawah laut a.k.a snorkeling, hampir tidak ada yang istimewa di Pulau Umang ini. Kamarnya cukup bersih, tetapi beberapa lampu bohlamnya mati dan tidak diganti, jadi suasana jadi agak remang-remang. Beberapa keset di depan kamar mandi juga agak kurang layak. Dan yang paling tidak saya rekomendasikan adalah menu makanan dan rasanya yang amat sangat biasa saja. Untuk resort semahal dan (terkesan) mewah, sebenarnya saya mengharapkan makanannya enak. Tapi, saya maafkan (ya iyalah udah dibayar bo'), mungkin itu kompensasi dari suasana makan malam di pinggir pantai (persis seperti di Jimbaran, Bali).

Yah, jadi demikianlah kisah outing ke Pulau Umang ini. Kalau butuh informasi bisa coba cek websitenya kesini.







18 Nov 2011

13 Nov 2011

Rezeki 11.11.11

Tanggal cantik ini ramai sekali dibicarakan di linimasa. Semua orang tanpa dikomando serentak berkomentar. Ada yang galau, ada yang mencetuskan harapan, ada yang mengeluhkan cuaca hari itu yang cerah cenderung panas, sampai kondisi lalu lintas yang makin kusut.

Awalnya, hari itu terasa sama saja dengan hari-hari lainnya buat saya. Kesibukan saya diisi dengan berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Tetapi, setelah pulang kantor saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Saya memutuskan ikut kuis #11buku yang diselenggarakan @Gramedia di twitter. Saya bukan quiz hunter, tetapi karena kebetulan saya sedang memantau linimasa dan tahu jawabannya makanya saya ikut :p

Pertanyaannya cukup mudah, hanya disuruh menjawab sesuai dengan format yang ditetapkan judul #11buku yang diterbitkan oleh @Gramedia. Yang justru menjadi masalah buat saya adalah sinyal si merah yang kerapkali naik-turun membuat tweet saya sempat ter-pending. Tapi, saya tetap usaha online dari internet rumah demi ikut kuis.

Hasilnya baru diumumkan keesokan harinya dan saya menang. Alhamdulillah, saya sampai terharu. Dan yang paling penting, ternyata 11.11.11 memberikan makna juga untuk saya :)

God is great!

4 Nov 2011

Trip to Dieng

Tulisan ini sebenarnya masih berantai dengan perjalanan liburan saya ke Yogya. Tetapi karena kesibukan ini-itu jadilah tertunda lama sekali :p

Saya berangkat mengawali perjalanan dari Yogya menggunakan mobil sewaan. Jarak Yogya-Dieng sejauh kira-kira 116km ditempuh selama ±4 jam perjalanan dengan kecepatan mobil 80km/jam. Sepanjang itu saya melewati paling tidak 6 kota kecil mulai dari Muntilan, Magelang, Temanggung, Kedu, Parakan dan Wonosobo.

Nah, kalau Anda sudah sampai Wonosobo, sempatkanlah rehat sejenak untuk menikmati Mie Ongklok Sate Wonosobo. Sejujurnya, saya tidak tahu persis toko mana yang mienya paling enak. Indikator saya waktu itu hanya dari ramainya pengunjung dan mobil yang parkir. Jadi, pilihan saya jatuh pada Mie Ongklok Sate Pak Muhadi. Sebenarnya mie ongklok dan sate bisa dijual terpisah, tetapi kurang lengkap kalau tidak dimakan bersamaan :p

Sampai Dieng saya langsung berputar-putar ke beberapa tempat wisata. Tempat pertama yang saya datangi adalah Dieng Plateau Theatre. Disini kita bisa melihat film dokumenter tentang Dieng. Walaupun teaternya amat sangat sederhana (cenderung miris) tetapi pengetahuan yang didapat cukup informatif.

Dari sana saya baru turun sedikit untuk singgah di Museum Kailasa. Disini saya hanya melihat-lihat sekilas karena saya lebih tertarik untuk jalan ke seberangnya menuju komplek Candi Arjuna. Candi pertama yang saya lihat adalah Candi Gatotkaca. Kemudian berjalan ke dalam baru ada candi komplek, yang terdiri dari Candi Srikandi, Candi Sembadra, Candi Puntadewa, Candi Arjuna (yang paling besar) dan Candi Semar. Menuju candi komplek ini sebenarnya ada jalan bercabang lagi menuju Telaga Balaikumbang dan Candi Setiaki. Tetapi saya lewatkan karena saat itu turun hujan. Oh ya, dalam perjalanan dari teater ke museum Kailasa sebenarnya kita bisa mampir ke Candi Bima yang letaknya agak terpisah.

 Hari sudah sore, dingin menusuk dan hujan, jadi saya putuskan untuk langsung masuk ke penginapan. Atas rekomendasi teman saya, Vitya, saya memilih penginapan/homestay Lestari atau Pondok Wisaya Lestari milik Pak Haji Suryanto. Pemiliknya ramah dan penginapannya pun cukup bersih. Walaupun saya memilih kamar mandi dalam yang ada fasilitas hot water, tapi jujur, tidak terlalu membantu karena udaranya dingin sekali. Oh ya, dari Pak Haji juga saya dikenalkan dengan pemandu yang akan membaawa kami melihat sunrise esok paginya.

Pukul 4 pagi esok hari saya sudah bangun dan bersiap-siap. Tetapi karena saya kesana bukan di hari libur, tidak terlalu banyak wisatawan yang akan naik melihat sunrise, makanya kami berangkat pukul 05.00 WIB. Pastikan mobil yang akan Anda gunakan dalam kondisi prima karena jalannya masih berbatu/kerikil, bukan aspal. Atau jika cukup tahan dingin, bisa juga sih menggunakan ojek motor. Sampai di tempat parkir, kita melihat Telaga Cebong dengan jelas. Katanya dinamakan begitu karena bentuknya yang mirip kecebong.

Untuk melihat sunrise dari Gn. Sikunir sebenarnya ada 2 titik pemberhentian. Titik bawah ditempuh dengan trekking 800m. Kalau memang masih sanggup, bisa naik lagi 350m untuk sampai di titik atas. Melihat matahari terbit dari sini sungguh indah, didukung suasana yang cerah berawan. Puas menikmati sunrise sembari menikmati secangkir teh manis hangat, saya lanjut lagi untuk melihat Telaga Warna dari atas. Dan untuk kesekian kalinya saya dibuat takjub dengan keindahannya.


 
Berikut adalah 7 Fakta seputar Dieng yang berhasil saya rangkum :
1. Penghasil kentang no. 1 di Indonesia. Kalau di supermarket ada kentang berlabel Australia, kadang-kadang asalnya ya dari sini juga, jadi jangan tertipu :p
2. Dataran Tinggi berpenghuni terluas ke-2 di dunia, setelah Nepal.
3. Dataran Tinggi Dieng berada pada ketinggian 2100 meter diatas permukaan laut.
4. Gunung Kembar (atau Gn. Kembang ya? :p) pantang didaki. Mohon maaf saya lupa menanyakan alasannya ^_^
5. Suhu terdingin di Dieng adalah bulan Juli – Agustus. Katanya, embun pagi pun bisa mengkristal karena terlalu dinginnya.
6. Buah khas Dieng namanya Carica, biasanya dibuat manisan.
7. Setiap 1 tahun sekali biasanya ada Dieng Culture Festival dimana dimana seluruh kesenian khas Dieng akan ditampilkan, termasuk ruwatan anak rambut gimbal.

Hal konyol yang mungkin saja terjadi :
Satu, Mobil saya kehabisan bensin saat sudah berada di Dieng. Ini memang salah saya (plus si sopir mobil rental) yang tidak mengecek jumlah bensin saat sampai di Wonosobo. Di Dieng hanya ada 1 pom bensin, itupun jadwal pengirimannya tidak teratur, jadi seringkali habis. Tukang jual bensin eceran memang banyak, tetapi kalau tidak beruntung ya bisa saja tiba-tiba semuanya habis (seperti yang saya alami, hiks..). Alhasil, saya memutuskan turun kembali ke Wonosobo untuk isi bensin. Beruntung setengah perjalanan itu ternyata ada penjual bensin eceran yang stoknya masih cukup banyak. Saran : Pastikan isi bensin secukupnya ketika sampai di Wonosobo karena ini adalah kota terakhir sebelum Anda menempuh perjalanan berkelok-kelok menuju Dieng.

 
Dua, Saya tidak membawa air minum saat trekking naik Gn. Sikunir untuk melihat sunrise. Jadi, bisa dipastikan saat mendaki makin tinggi dan atmosfir mulai tipis, saya benar-benar mengalami dehidrasi. Beruntunglah di titik bawah 800m ada yang menjual teh manis hangat. Saran: Jangan sampai lupa membawa air minum saat akan trekking Gn. Sikunir untuk melihat sunrise.

 
Tiga, Alas kaki yang dipakai tidak sesuai untuk trekking jalan berbatu dan agak licin. Untungnya ini bukan pengalaman pribadi saya, tetapi patut diwaspadai. Saya secara tidak sengaja melihat sol sepatu wisatawan lepas, jadi dia bingung bagaimana harus turun ke bawah :p Bisa saja sih tidak pakai alas kaki, tetapi dengan udara yang dingin dan jalan setapak semak/tanah berbatu, saya sih tidak yakin :D Saran : Gunakan alas kaki yang nyaman dan kuat untuk trekking jalan licin, tanah dan berbatu.

 

5 Okt 2011

Gue dan Mara

“Hai! Elo Lana, kan? Yang baru pulang seminar di Dubai?” Aku mengernyit. Siapa yang sepagi ini sudah SKSD (baca: sok kenal sok dekat).

“Gue Mara. Manajer promosi yang baru. Elo pasti heran, kenapa gue bisa tahu elo. Pertama, semua orang sibuk membicarakan elo di monthly review kemarin. Kayaknya elo the best employee disini. Kedua, setelah gue selidiki dan ingat-ingat, ternyata elo teman TK gue dulu. Gue yakin karena jarang banget ada orang yang punya nama Lana Shobha.”

Hah? Gue mimpi apa sih semalam bisa ketemu sama orang yang mengaku teman TK tetapi bawelnya setengah mati. Siapa tadi namanya? Mara? Mara yang bikin marah, mungkin lebih cocok.

“Ehm, ok, Mara siapa ya? Sorry, tapi jujur, gue lupa sama sekali kalau punya teman, TK lagi, yang namanya Mara. Your full name, please.” Gue masih berusaha sopan walaupun mulai merasa terpaksa.

“Tamara Hijiri. Elo pasti gak akan lupa sama gue. Kita pernah satu panggung, nari bareng waktu pentas 17-an. Cuma berdua. Tapi elo adalah satu-satunya, yang gue ingat, penari yang kainnya lepas di panggung. Karena malu, elo langsung berhenti menari, buang bokor bunga diatas panggung terus lari sambil nangis cuma pakai kaos dalam.” Katanya dengan senyum super jahil.

Oh, shoot! Diantara semua kebetulan, kenapa harus ketemu orang ini sih? Orang yang kenal jaman gue masih culun waktu TK. Dan yang pasti, orang yang tahu aib gue yang tidak boleh satu pun di kantor ini tahu. Bisa hancur image gue sebagai cewek smart, mandiri, feminin dan fashionable.

#6 #tamankanakkanak #15harimenulisdiblog

4 Okt 2011

tanpa kamu

8.00 WIB
Biasanya kita berdua sudah ribut saling mempengaruhi menu sarapan. Aku selalu memaksamu makan bubur ayam. "Tak perlu usaha banyak untuk mengunyah," ujarku selalu setiap kali kamu bertanya alasannya. Sementara kamu akan memaksaku mengobrol santai sambil menikmati kopi dan donat di kafe di lobby gedung kantor kita. Kamu bilang bisa sambil 'cuci mata' melihat wanita-wanita cantik, frontliner salah satu bank swasta ternama itu. Aku mencibir. Kamu tertawa terbahak.

11.50 WIB
Biasanya kamu sudah mulai ribut menanyakan tempat tujuan makan siang kita. Aku akan spontan menunjuk warteg di basement 2. Sementara kamu, seperti biasa juga, akan menolak dengan alasan tempatnya kurang 'bergengsi'. Kamu akan selalu menuju restoran di mall sebelah gedung kantor kita. "Dasar gak bisa diajak susah!" makiku, sementara kamu akan tertawa tak acuh.

17.30 WIB
Kalau kamu tidak lembur, biasanya kamu sudah bertandang ke kubikelku. Merecokiku. Mempengaruhiku untuk segera menyelesaikan pekerjaan dan pulang. "Kelamaan di kantor tidak baik untuk kesehatan jiwa," katamu. Lalu, aku akan membalasmu habis-habisan, karena aku tahu pasti, kamu pun seorang pekerja keras. Aku juga tahu, itu hanya usahamu untuk mengajakku makan malam bersama. Dan menujulah kita ke tempat makan malam favorit kita. Roti Bakar Eddy.

22.00 WIB
Biasanya kamu mengantarkanku pulang. "Sudah kemalaman, gak baik kalau pulang sendiri," katamu setiap kali aku berusaha menolak. Sampai suatu malam, kamu menggenggam tanganku dan berbisik, "Aku cinta kamu, Lana." Aku menertawakan leluconmu sampai sakit perut.

---------
Pagi ini adalah hari kesepuluh tanpamu. Entah demi apa, kamu memutuskan mengikuti training di San Francisco. Pergi tanpa sepatah kata pun.

Aku disini. Kehilanganmu. Mungkinkah ini cinta?

#5 #hilang #15harimenulisdiblog
sent from @motskee BlackBerry®

3 Okt 2011

a light kiss

"Arrgh..!!" Aku hanya mampu berteriak kesal dengan suara tertahan di kubikelku. Emosiku memang belum tersalurkan sepenuhnya, tetapi setengahnya pun lumayanlah. Aku mendengus lagi. Bingung harus mulai menyelesaikan masalahku darimana.

Tidak lama teleponku berdering. Kata sekretarismu, kamu memanggilku. Duh, apalagi yang akan kauocehkan padaku. Apakah dibantai berbagai pertanyaan selama 2,5 jam oleh orang-orang Regional Hongkong masih belum cukup? Kepalaku sudah mulai pening membayangkannya.

Tapi aku jalan juga menuju ruanganmu. Dengan langkah gontai. Mempersiapkan mental akan kemungkinan terburuk. Pasrah. Posisi kepala proyek memang membuatku harus bertanggung jawab terhadap segala hasil yang muncul, sukses maupun gagal.

"Duh, Tuhan, tolong aku, beri aku kekuatan." Aku nyaris tertawa ketika sadar ternyata aku masih ingat berdoa dalam hati. Ironis. Disaat tak berdaya baru aku ingat Tuhan, padahal biasanya juga jarang sholat.

Kuketuk pelan pintumu. Rupanya kamu sedang asyik bekerja di depan laptopmu. Kamu hanya melirikku sekilas sambil mengisyaratkan untuk duduk di depanmu. Aku menunggu. Kaku.

Tak lama kamu tersenyum sambil mengucapkan terima kasih atas semua kerja kerasku di proyek yang menguras tenaga itu. Kamu bilang kamu tahu sejak awal kalau itu adalah impossible project, tapi tetap kamu paksakan. Walau masih ada masalah disana-sini, tetapi kamu bilang hasilnya secara keseluruhan sangat baik.

Tiba-tiba kamu berdiri. Memutari meja. Menyentakku bangun dari kursi. Memeluk pinggangku. Mengecup pipiku sambil berbisik, "I so adore you, Lana."

Aku masih membisu. Terpaku. Beku. Itu adalah ciuman pertama dari seseorang yang selalu kupanggil bos.

Note:
Niat saya awalnya ingin sekali ikut #15harimenulisdiblog yang digagas @hurufkecil dan @elnaa_ di twitter. Apa daya kesibukan membuat saya tak sempat (dan malas :p). I'm late but I decided to write it anyway. Just for fun :)

#1 #ciumanpertama #15harimenulisdiblog

sent from @motskee BlackBerry®

18 Mei 2011

Trip to Yogya

Ini bukan pertama kalinya saya ke Yogyakarta. Tapi, kunjungan inilah yang paling berkesan karena saya sendiri yang menentukan mau jalan kemana saja. Saya akan berusaha menuliskan pengalaman yang membuat saya terkesan plus biayanya, tetapi mohon maaf saya tidak berencana berlibur hemat ^_^


Di bandara Adisutjipto, Yogyakarta saya disambut oleh para pemain gamelan dan sinden yang sepertinya sengaja disediakan untuk menyambut pendatang. Selain itu, dipamerkan pula beragam jenis pewarna alami untuk batik.

Oh ya, bandara Yogya juga langsung terhubung dengan stasiun kereta yang bisa membawa kita ke Klaten-Solo. Jalurnya kereta Prambanan Ekspress (Prameks). Atau kalau teman-teman sudah berniat jalan-jalan tetapi belum punya informasi apa pun, jangan kuatir, di bandara ada pusat informasi untuk wisatawan.

Obyek Wisata

Perjalanan pertama saya adalah ke Kraton - Istana Raja Yogyakarta. Disana saya mendengar sejarah Yogyakarta dari Pak Wagiman (abdi dalem merangkap pemandu wisata), mulai dari Sultan Hamengkubuwono I - X. Jujur, tidak semua informasi mampu saya serap karena ternyata segala sudut Kraton amat kaya dengan filosofi. Mulai dari jumlah tiang atau jumlah pohon beringin yang mengelilingi kraton harus 63 buah. Lalu motif lantai dan langit-langit yang berbentuk bintang bersudut 8, menandakan renovasi Kraton tersebut dilakukan oleh Sultan HB VIII. Bahkan, saya baru tahu bahwa Sultan HB IV adalah adik dari Pangeran Diponegoro (pahlawan nasional), tetapi beliau tidak bisa bertahta karena bukan lahir dari rahim permaisuri. Saya juga sempat ditunjukkan foto-foto Sultan HB IV - X, tetapi tidak ada foto Sultan HB I - III karena mereka memang tidak mau difoto. Mereka percaya bahwa foto bisa memendekkan usia.

Setelah berputar-putar di sekitar Kraton dan Alun-Alun, saya melanjutkan perjalanan ke Taman Sari. Kalau Kraton tadi adalah tempat tinggal Raja, katanya Taman Sari adalah tempat Raja dan keluarganya bersenang-senang. Saya sempat diajak berputar-putar menelusuri lorong bawah tanah yang sambung-menyambung. Dalam bayangan saya, Taman Sari ini jauh lebih megah daripada Kraton, tetapi sudah banyak lahan yang berubah fungsi menjadi rumah penduduk sehingga wajah aslinya sudah tak tampak lagi. Beberapa bagian Taman Sari juga masih dalam proses diremajakan kembali karena sudah banyak yang rusak. Oh ya, kalau berminat membeli lukisan batik karya abdi dalem, saya sarankan beli disini saja karena harganya relatif lebih murah daripada di Kraton. Ini pengalaman saya yang merasa salah beli :p


Malam hari, saya sengaja meluangkan waktu untuk menonton Sendratari Ramayana Ballet di Prambanan. Sekedar informasi, selama bulan Mei - Oktober, pertunjukannya diadakan di ruang terbuka (open air theatre) dengan latar Candi Prambanan. Tata cahaya yang apik jelas menambah hidup suasana. Untuk saya yang cukup familiar dengan cerita wayang Rama - Shinta sempat juga merasa lost di tengah-tengah cerita. Saya baru bisa mengerti setelah membaca ringkasan cerita yang disediakan. Seandainya dibuat penanda pergantian tiap babak/adegan, tentu akan akan lebih mudah dimengerti, terutama bagi wisawatan asing yang dari bisik-bisik sih sering bingung. Namun, secara keseluruhan saya puas. Exotic! ^_^

Kuliner & Oleh-Oleh

Jalan-jalan ke Yogya pasti belum lengkap kalau belum makan gudeg. Salah satu pusat gudeg yang terkenal adalah Gudeg Wijilan di Jl. Wijilan. Disana berderet warung-warung gudeg, tetapi yang (katanya) banyak diminati namanya Gudeg Kendil Wijilan Bu Widodo.

Tanpa sengaja, saya sempat diajak menikmati Nasi Soto Daging di Warung Soto Sapi Monjali. Rupanya warung ini adalah favorit penduduk sekitar untuk sarapan pagi, terbukti dengan ramainya warung ini pada jam 9 pagi. Yang pasti membuat saya terkesan adalah harga untuk satu mangkok nasi soto sapi campur hanya IDR 4.500. Untuk rasa dan porsi yang cukup memuaskan, harga tersebut sangat murah, dibandingkan dengan harga bubur ayam di Jakarta :p Jadi, kalau berminat, silakan dicoba :)

Kalau Anda tertarik membeli batik, maka salah satu tempat yang harus dituju adalah Mirota Batik. Disana kita bisa memilih beragam jenis batik mulai dari yang murah sampai mahal (baca: batik tulis sutra). Selain batik, Mirota juga menjual pernik-pernik kerajinan khas Yogya yang lain. Lokasinya pun cukup mudah dijangkau, sejurus dengan Malioboro atau di depan Pasar Beringharjo. Nah, kalau mau pilihan batik atau makanan atau pernik-pernik lucu yang lebih murah lagi, ya tinggal masuk saja ke Pasar Beringharjo :p

Satu lagi oleh-oleh yang wajib dibeli adalah bakpia. Menurut saya, rasa bakpia di Yogya rata-rata sih enak. Tetapi, yang lebih dikenal memang hanya ada beberapa seperti Bakpia Pathuk 25, 75 atau 77. Paling ramai sih yang 25, tetapi yang 75 atau 77 juga tidak kalah kok, tergantung selera saja.

Supaya lengkap, berikut adalah itinerary yang sempat saya buat. Ada jeda waktu antara hari ke-2 dan ke-3 yang saya isi dengan perjalanan ke Dieng, yang akan saya buat menjadi postingan terpisah. Selain itu, penginapan di Yogya juga tidak saya cantumkan karena kebetulan saya menginap di rumah kerabat :)






30 Mar 2011

memilih itu












memilih itu tidak mudah

memilih itu membuat bingung
memilih itu menguras energi berpikir
memilih itu berarti menentukan prioritas

memilih itu menghitung untung dan rugi

memilih itu berarti harus rela berkorban

memilih itu bisa merusak mood

memilih itu memerlukan waktu

memilih itu kadang terpengaruh opini lain


namun pada akhirnya..


memilih itu harus percaya pada kata hati

3 Mar 2011

Jakarta Love Riot 2011


Sabtu malam tanggal 26 Februari 2011 akhirnya jadi juga saya menonton Jakarta Love Riot (JLR) di Gedung Kesenian Jakarta. Ini memang rerun atau mungkin lebih tepatnya remake dari pertunjukan berjudul sama yang pernah dipentaskan 2-4 Juli 2010 lalu. Saya sendiri tidak tahu sampai sejauh mana mereka meng-update adegan JLR kali ini karena tahun lalu saya memang terlewat ^_^
Setelah terlambat 10 menit, akhirnya acara dibuka dengan opening dance ‘Welcome To Our World’ yang cukup memukau. Saya penasaran, apakah sudah pernah ada yang mempertunjukkan tarian dengan kostum dipenuhi LED (eh, ini bukan ya istilahnya? :p) berwarna-warni di Indonesia? Walaupun buat saya, tidak terlalu surprise karena idenya mirip dengan yang ada di film Step Up 3 (final battle). Tapi, saya suka kok, walaupun agak kurang setuju kenapa kata terakhir yang terbentuk adalah ‘BITCH’. Kalau ini memang hanya opening, kenapa tidak memunculkan kata ‘RIOT’, atau ‘LOVE’ mungkin. Yah, tapi ini kan hanya opini saya saja :p
What’s funny though, it’s not Nala or Toto that made a lasting impression. Saya justru lebih tertarik dengan karakter Lolo (Ken Nala Amrytha) yang bawel, Tatik (Takako Leen) yang judes dan Joni Goban (lupa diperankan siapa soalnya bukunya ketinggalan di rumah :p) yang gayanya sangat khas. Entah mengapa saya merasa si Toto ini kurang all out, berperan sebagai orang kampung asal Jawa tapi kurang njawani. Sangat berbeda dengan si Ibu Kartika, diperankan Ira Duaty, yang logat Jawanya terasa sangat kental. Menurut saya, diantara semuanya Sarah Sechan yang berperan sebagai Ibu Hudi masih yang paling menonjol, dengan akting natural, gesture yang kuat, sampai aksen Singlish yang sukses membuat saya tersenyum-senyum. Great!
Beberapa kali melihat tarian @EKIDanceCo saya langsung tahu bahwa hampir seluruh adegan koreografinya digarap oleh Rusdy Rukmarata karena gerakan-gerakan khas EKI sangat jelas kentara. Tetap enak dinikmati apalagi ditarikan oleh penari-penari yang memang berkualitas, seperti Billy dan Sum, yang gerakannnya mampu melukis garis tubuh dengan jelas :p Tetapi, kalau harus menonton pertunjukan EKI lagi saya berharap akan ada improvisasi yang lain :D Ah, tapi saya tetap kagum dengan tarian yang ditampilkan di JLR ini. Hampir semua jenis tarian ada disini, mulai dari balet, tap dance, dangdut sampai tari piring. Saya paling suka koreografi tarian waktu Geng Rempong dan Geng Kampoeng berkelahi. Awesome!
Harga tiket yang dipatok untuk pertunjukan JLR ini menurut saya sudah ekonomis dibandingkan pertunjukan sejenis yang biasanya harganya cukup menguras isi dompet :p Apalagi durasi pertunjukannya >2 jam. Walaupun, saya merasa alur ceritanya agak bertele-tele dan ada 2-3 scenes yang (menurut saya) kurang relevan sehingga bisa dihilangkan saja. Atau mungkin ini dampak dari remake tadi sehingga sebisa mungkin menunjukkan adegan baru? Dan saya agak kecewa dengan perjalanan menuju ending yang agak kurang ‘greget’ atau kurang smooth? Entahlah, dialog antara Ibu Hudi dan Toto di rumah sakit seperti terlalu ‘mudah’.
But overall, I really enjoyed the show! ^_^