Halaman

22 Nov 2011

Outing ke Pulau Umang

Ini kedua kalinya saya pergi bersama teman-teman kantor. Judulnya sih boleh outing, kenyataannya adalah ajang bermain-main bersama :p Tujuan outing masih di seputar daerah Banten, lebih tepatnya di Desa Sumur, Pandeglang, yaitu Pulau Umang (sebelumnya pernah ke Tanjung Lesung). Setelah menempuh perjalanan selama +/- 7 jam dari Jakarta sampailah kami di pulau yang masih alami ini. Kebetulan pada saat kami datang ternyata banyak juga rombongan dari grup lain, katanya 40 dari 60 kamar yang tersedia semua terisi.


Snorkeling adalah salah satu yang paling berkesan buat saya. Memang, untuk snorkeling kita akan dibawa ke pulau kecil di seberangnya, namanya Pulau Oar. Tetapi pemandangan dalam lautnya memang luar biasa indah. Terumbu karangnya masih bagus, beraneka rupa dan berwarna-warni, jenis ikannya juga banyak. Memang sih awal mulai snorkeling saya sempat merasa gatal-gatal karena ada ubur-ubur kecil (kata teman saya) atau plankton (kata guide-nya). Entah yang mana yang benar, tetapi tidak lama rasanya sudah biasa saja. Selain itu, arus airnya juga unik. Normalnya airnya akan terasa hangat, tetapi tiba-tiba akan terasa ada arus air yang terasa dingin. Katanya sih memang disitu daerah pertemuan antara arus panas dan arus dingin, makanya makhluk hidup bawah lautnya terpelihara dengan baik.

Saya juga amat sangat menikmati bermain-main di pantai. Foto ramai-ramai sambil bermain lari-larian di pasir putih, jelas pengalaman yang menyenangkan. Maklum, sehari-hari di Jakarta ketemunya macet dan layar laptop terus :p Jadi, bermain bersama alam selalu menyenangkan buat saya.

Oh ya, karena ini outing kantor, tentu saja ada Fun Games yang kita pesan khusus. Bukan outbound (disini juga ada fasilitasnya), tetapi lebih ke permainan sederhana. Permainan pertama dan heboh, alias grup saya kalah telak adalah balap karung beregu. Jadi, 5 orang dalam 1 tim masuk ke dalam 1 karung besar dan harus lompat bersama-sama untuk bisa maju. Ya sudahlah, kelompok saya menyerah kalah saja, mau lompat berkali-kali sampai jatuh, karungnya tetap tidak maju-maju :p Permainan kedua adalah lomba bakiak beregu, yang untungnya kali ini kelompok saya menang. Nah, yang ketiga adalah tarik tambang 4 pria vs. 12 wanita. Haha..sudah tahu dong siapa yang pasti menang? :D

Sejujurnya, selain pemandangan pantai dan dunia bawah laut a.k.a snorkeling, hampir tidak ada yang istimewa di Pulau Umang ini. Kamarnya cukup bersih, tetapi beberapa lampu bohlamnya mati dan tidak diganti, jadi suasana jadi agak remang-remang. Beberapa keset di depan kamar mandi juga agak kurang layak. Dan yang paling tidak saya rekomendasikan adalah menu makanan dan rasanya yang amat sangat biasa saja. Untuk resort semahal dan (terkesan) mewah, sebenarnya saya mengharapkan makanannya enak. Tapi, saya maafkan (ya iyalah udah dibayar bo'), mungkin itu kompensasi dari suasana makan malam di pinggir pantai (persis seperti di Jimbaran, Bali).

Yah, jadi demikianlah kisah outing ke Pulau Umang ini. Kalau butuh informasi bisa coba cek websitenya kesini.







18 Nov 2011

13 Nov 2011

Rezeki 11.11.11

Tanggal cantik ini ramai sekali dibicarakan di linimasa. Semua orang tanpa dikomando serentak berkomentar. Ada yang galau, ada yang mencetuskan harapan, ada yang mengeluhkan cuaca hari itu yang cerah cenderung panas, sampai kondisi lalu lintas yang makin kusut.

Awalnya, hari itu terasa sama saja dengan hari-hari lainnya buat saya. Kesibukan saya diisi dengan berangkat dan pulang kerja seperti biasa. Tetapi, setelah pulang kantor saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Saya memutuskan ikut kuis #11buku yang diselenggarakan @Gramedia di twitter. Saya bukan quiz hunter, tetapi karena kebetulan saya sedang memantau linimasa dan tahu jawabannya makanya saya ikut :p

Pertanyaannya cukup mudah, hanya disuruh menjawab sesuai dengan format yang ditetapkan judul #11buku yang diterbitkan oleh @Gramedia. Yang justru menjadi masalah buat saya adalah sinyal si merah yang kerapkali naik-turun membuat tweet saya sempat ter-pending. Tapi, saya tetap usaha online dari internet rumah demi ikut kuis.

Hasilnya baru diumumkan keesokan harinya dan saya menang. Alhamdulillah, saya sampai terharu. Dan yang paling penting, ternyata 11.11.11 memberikan makna juga untuk saya :)

God is great!

4 Nov 2011

Trip to Dieng

Tulisan ini sebenarnya masih berantai dengan perjalanan liburan saya ke Yogya. Tetapi karena kesibukan ini-itu jadilah tertunda lama sekali :p

Saya berangkat mengawali perjalanan dari Yogya menggunakan mobil sewaan. Jarak Yogya-Dieng sejauh kira-kira 116km ditempuh selama ±4 jam perjalanan dengan kecepatan mobil 80km/jam. Sepanjang itu saya melewati paling tidak 6 kota kecil mulai dari Muntilan, Magelang, Temanggung, Kedu, Parakan dan Wonosobo.

Nah, kalau Anda sudah sampai Wonosobo, sempatkanlah rehat sejenak untuk menikmati Mie Ongklok Sate Wonosobo. Sejujurnya, saya tidak tahu persis toko mana yang mienya paling enak. Indikator saya waktu itu hanya dari ramainya pengunjung dan mobil yang parkir. Jadi, pilihan saya jatuh pada Mie Ongklok Sate Pak Muhadi. Sebenarnya mie ongklok dan sate bisa dijual terpisah, tetapi kurang lengkap kalau tidak dimakan bersamaan :p

Sampai Dieng saya langsung berputar-putar ke beberapa tempat wisata. Tempat pertama yang saya datangi adalah Dieng Plateau Theatre. Disini kita bisa melihat film dokumenter tentang Dieng. Walaupun teaternya amat sangat sederhana (cenderung miris) tetapi pengetahuan yang didapat cukup informatif.

Dari sana saya baru turun sedikit untuk singgah di Museum Kailasa. Disini saya hanya melihat-lihat sekilas karena saya lebih tertarik untuk jalan ke seberangnya menuju komplek Candi Arjuna. Candi pertama yang saya lihat adalah Candi Gatotkaca. Kemudian berjalan ke dalam baru ada candi komplek, yang terdiri dari Candi Srikandi, Candi Sembadra, Candi Puntadewa, Candi Arjuna (yang paling besar) dan Candi Semar. Menuju candi komplek ini sebenarnya ada jalan bercabang lagi menuju Telaga Balaikumbang dan Candi Setiaki. Tetapi saya lewatkan karena saat itu turun hujan. Oh ya, dalam perjalanan dari teater ke museum Kailasa sebenarnya kita bisa mampir ke Candi Bima yang letaknya agak terpisah.

 Hari sudah sore, dingin menusuk dan hujan, jadi saya putuskan untuk langsung masuk ke penginapan. Atas rekomendasi teman saya, Vitya, saya memilih penginapan/homestay Lestari atau Pondok Wisaya Lestari milik Pak Haji Suryanto. Pemiliknya ramah dan penginapannya pun cukup bersih. Walaupun saya memilih kamar mandi dalam yang ada fasilitas hot water, tapi jujur, tidak terlalu membantu karena udaranya dingin sekali. Oh ya, dari Pak Haji juga saya dikenalkan dengan pemandu yang akan membaawa kami melihat sunrise esok paginya.

Pukul 4 pagi esok hari saya sudah bangun dan bersiap-siap. Tetapi karena saya kesana bukan di hari libur, tidak terlalu banyak wisatawan yang akan naik melihat sunrise, makanya kami berangkat pukul 05.00 WIB. Pastikan mobil yang akan Anda gunakan dalam kondisi prima karena jalannya masih berbatu/kerikil, bukan aspal. Atau jika cukup tahan dingin, bisa juga sih menggunakan ojek motor. Sampai di tempat parkir, kita melihat Telaga Cebong dengan jelas. Katanya dinamakan begitu karena bentuknya yang mirip kecebong.

Untuk melihat sunrise dari Gn. Sikunir sebenarnya ada 2 titik pemberhentian. Titik bawah ditempuh dengan trekking 800m. Kalau memang masih sanggup, bisa naik lagi 350m untuk sampai di titik atas. Melihat matahari terbit dari sini sungguh indah, didukung suasana yang cerah berawan. Puas menikmati sunrise sembari menikmati secangkir teh manis hangat, saya lanjut lagi untuk melihat Telaga Warna dari atas. Dan untuk kesekian kalinya saya dibuat takjub dengan keindahannya.


 
Berikut adalah 7 Fakta seputar Dieng yang berhasil saya rangkum :
1. Penghasil kentang no. 1 di Indonesia. Kalau di supermarket ada kentang berlabel Australia, kadang-kadang asalnya ya dari sini juga, jadi jangan tertipu :p
2. Dataran Tinggi berpenghuni terluas ke-2 di dunia, setelah Nepal.
3. Dataran Tinggi Dieng berada pada ketinggian 2100 meter diatas permukaan laut.
4. Gunung Kembar (atau Gn. Kembang ya? :p) pantang didaki. Mohon maaf saya lupa menanyakan alasannya ^_^
5. Suhu terdingin di Dieng adalah bulan Juli – Agustus. Katanya, embun pagi pun bisa mengkristal karena terlalu dinginnya.
6. Buah khas Dieng namanya Carica, biasanya dibuat manisan.
7. Setiap 1 tahun sekali biasanya ada Dieng Culture Festival dimana dimana seluruh kesenian khas Dieng akan ditampilkan, termasuk ruwatan anak rambut gimbal.

Hal konyol yang mungkin saja terjadi :
Satu, Mobil saya kehabisan bensin saat sudah berada di Dieng. Ini memang salah saya (plus si sopir mobil rental) yang tidak mengecek jumlah bensin saat sampai di Wonosobo. Di Dieng hanya ada 1 pom bensin, itupun jadwal pengirimannya tidak teratur, jadi seringkali habis. Tukang jual bensin eceran memang banyak, tetapi kalau tidak beruntung ya bisa saja tiba-tiba semuanya habis (seperti yang saya alami, hiks..). Alhasil, saya memutuskan turun kembali ke Wonosobo untuk isi bensin. Beruntung setengah perjalanan itu ternyata ada penjual bensin eceran yang stoknya masih cukup banyak. Saran : Pastikan isi bensin secukupnya ketika sampai di Wonosobo karena ini adalah kota terakhir sebelum Anda menempuh perjalanan berkelok-kelok menuju Dieng.

 
Dua, Saya tidak membawa air minum saat trekking naik Gn. Sikunir untuk melihat sunrise. Jadi, bisa dipastikan saat mendaki makin tinggi dan atmosfir mulai tipis, saya benar-benar mengalami dehidrasi. Beruntunglah di titik bawah 800m ada yang menjual teh manis hangat. Saran: Jangan sampai lupa membawa air minum saat akan trekking Gn. Sikunir untuk melihat sunrise.

 
Tiga, Alas kaki yang dipakai tidak sesuai untuk trekking jalan berbatu dan agak licin. Untungnya ini bukan pengalaman pribadi saya, tetapi patut diwaspadai. Saya secara tidak sengaja melihat sol sepatu wisatawan lepas, jadi dia bingung bagaimana harus turun ke bawah :p Bisa saja sih tidak pakai alas kaki, tetapi dengan udara yang dingin dan jalan setapak semak/tanah berbatu, saya sih tidak yakin :D Saran : Gunakan alas kaki yang nyaman dan kuat untuk trekking jalan licin, tanah dan berbatu.