Laman

25 Okt 2012

Perih

Pendar lampu kota berkilauan. Berebut menerangi sekitar, melawan pekatnya malam. Berusaha menerangi jiwa yang mungkin kelam.

Sekali ini kamu memberikan perih. Hingga aku diam-diam merintih. Membuat sukmaku seperti ingin terbang. Melanglang.

Tahukah kamu? Aku merana. Ribuan detik telah berlalu. Tapi perihnya tetap tak mau pergi. Entah bagaimana lagi agar aku bisa bertahan.

Aku masih tak mampu berkata. Merasakan pedih. Menyerap lara. Menghisap marah. Mengawangkan sikap. Memimpikan langkah.

Tahukah kamu? Aku tidak membencimu yang telah memberikan pedih di hati. Aku juga tidak memendam dendam. Tapi aku tak bisa bilang, aku sudah memaafkan.

sent from @motskee BlackBerry®

7 Okt 2012

Antologi Rasa Trip - preparation


Photo taken from ikanatassa.tumblr.com
Seharusnya saya bukan tipe orang spontan. Tetapi entah kenapa, beberapa bulan lalu ketika Ika Natassa mengumumkan lewat akun twitternya @ikanatassa bahwa dia akan menggelar Antologi Rasa Trip, tanpa pikir panjang saya langsung mendaftar. Bahkan suami saya pun tercengang karena dianggapnya saya hanya bercanda. Maklumlah..walaupun saya termasuk senang jalan-jalan (ups..trip ke Lombok pun belum pernah diposting disini, hiks..), saya tidak pernah pergi sendiri. Saya selalu pergi dengan suami, bahkan dengan teman pun jarang :p

Sejujurnya, ketika awal mendaftar pun, saya sudah ikhlas seandainya uang saya hilang, seandainya pada hari-H saya mendadak tidak bisa pergi. Menurut pengalaman sebelumnya juga, saya tidak pernah merancang bepergian >5 bulan sebelumnya. Alasannya karena saya tidak bisa menebak jadwal saya (dan biasanya jadwal suami yang sibuk itu). Itu juga alasannya kenapa saya tidak pernah berhasil ikut sale tiket Air Asia dan memilih menjadi flashpacker.

Tetapi, saya memang super niat. Saya bahkan rela merogoh kocek demi membeli used camera SLR. Useless, kalau kata suami saya (lagi) mengingat saya hanya senang suatu barang di awal saja, lalu ditinggalkan begitu saja. Haha..dan sepertinya memang benar, camera-nya jadi agak kurang bermanfaat di tangan saya. Saya amatir yang memulai belajar pun malas sangat :p Kalau harus memilih, diving atau fotografi, pasti saya pilih diving walaupun belum punya sertifikat resmi :D

Dua bulan menjelang hari-H, saya sempat bertanya ke suami saya, "Imigrasi di Soekarno-Hatta itu bagaimana caranya?" Ini bukan pertama kalinya saya pergi ke luar negeri, tetapi saya memang super-duper-cuek, follower yang tidak pernah memperhatikan sekeliling kalau memang saya anggap tidak penting :p Saat itu juga, suami saya memutuskan untuk ikut terbang dengan flight number yang sama dengan saya, walaupun harganya sudah selangit :p Karena saya bilang ikut grup dan seharusnya sudah punya roommate, jadilah dia memutuskan mencari budget hotel lain yang harganya masih reasonable. Maklum, F1 itu peak season di Singapore.

Jadi, akhirnya saya tidak jadi pergi sendiri, tapi tetap pergi ditemani suami. And i thank God..saya jadi bisa agak jalan-jalan ketika free time tanpa takut harus tersasar ^_^ So, kalau mau tahu disana saya kemana saja, akan saya buat postingan berbeda.

3 Okt 2012

We Meet Again



Dundas Square (photo taken from google images)

Hari Jumat memang hari istimewa dibanding enam hari lainnya. Hari baik dimana para pria muslim akan berbondong-bondong melakukan sholat Jumat, termasuk mereka yang biasanya alpa sholat wajib. Hari sibuk dimana semua deadline mingguan biasanya harus selesai. Hari hura-hura karena begitu jam kerja berakhir biasanya semua orang serentak menuju pusat perbelanjaan untuk sekedar melepas jenuh yang tertumpuk.
Setelah meeting marathon sejak pukul 9 pagi sampai 5 sore, sekarang Vari bercampur dengan ratusan orang lainnya di padatnya lalu lintas Jakarta. Berlari-lari melalui koridor panjang halte Trans Jakarta dengan high heels 7cm yang tadi lupa ditukar dengan flat shoes. Berdesakan membaur dengan beragam aroma yang menguar. Berhimpitan sampai tak jarang antar kulit pun nyaris tak ada sekat.
Empat puluh lima menit kemudian, masih dengan napas yang belum sepenuhnya teratur, senyum ringan sudah tersungging di bibir Vari. Rupanya hawa sejuk pusat perbelanjaan di kawasan Senayan ini sukses memberikan sedikit ketenangan setelah merasakan pengapnya angkutan umum. Masih ada beberapa menit untuk mengatur ulang penampilan sebelum bertemu dengan teman-teman ceriwisnya.
Vari masih berkutat dengan potongan pizza di piringnya ketika dilihatnya ada seorang pria mengamati mereka dari meja seberang. Vari balas menatap. Lalu tiba-tiba pria itu berdiri dan berjalan menghampiri mejanya. Vari panik.
Tanpa disangka ternyata pria itu justru menyapa salah satu temannya. Vari menunduk, tersenyum tipis. Dia salah sangka. Ternyata sedari tadi pria itu mengamati temannya, bukan dia. Dan setelah melalui proses perkenalan singkat, pria itu menunjuk ke meja seberang yang tadi ditempatinya, menjelaskan kalau dia kemari juga bersama teman-teman kantornya. Sekali lagi, Vari ikut mengamati satu per satu wajah teman si pria di meja seberang.
Tanpa sadar, sedari tadi Vari menatap lekat seorang pria yang wajahnya tampak tak asing. Si pria tersenyum. Membius. Vari membalas senyum itu sambil terus berusaha mengingat. Itu, dia. Ya, dia yang dulu sempat membuatnya gundah. Dia yang sekarang pun tetap menariknya ke medan magnetnya. Dia si pria di bandara itu. Ah, betapa lucunya teka-teki waktu dan tempat ini tercipta.

---------------

Vari baru keluar dari kamar mandi. Berjalan sambil menunduk, membenahi bajunya yang agak terlipat. Saat dirasanya ada sebuah colekan kecil di lengan kirinya. Spontan dia menoleh.
“Hai, kita ketemu lagi,” sapanya sambil mengulurkan tangan, mengajak berjabat tangan.
“Hai,” Vari menjawab tergagap sambil membalas jabat tangannya.
“Gue Iben. May I know your name?” katanya masih dengan senyum yang tak pernah lepas sedikit pun dari mulutnya.
“Oh. Gue Vari,” jawabnya singkat. Terpana.
“Oke, Vari. Gue bisa pastikan, ini bukan terakhir kalinya kita ketemu. Can we exchange phone numbers?” tanyanya sambil mengulurkan smartphone miliknya, berharap Vari akan menuliskan nomornya sendiri.
Vari seperti terhipnotis. Tanpa pikir panjang, diketiknya nomor teleponnya pada smartphone milik Iben.
Beberapa detik kemudian, terdengar nada Sweet Escape dari No Doubt. “Sudah gue missed call. Mudah-mudahan elo bersedia menyimpan nomor gue, supaya kalau kapan-kapan gue telepon ga disangka orang iseng. Ok, selamat melanjutkan makan malam. See you soon!” Katanya ringan sambil melangkah meninggalkan Vari yang masih terdiam. Mencerna.
Masih dengan setengah sadar, Vari kembali ke meja. Mendadak tidak bisa fokus mendengarkan celoteh sahabat-sahabatnya. Masih tidak habis pikir, kenapa dia bisa sebegitu mudahnya memberikan nomor telepon pada orang yang tidak dikenal. Masih mengingat rasa hangat tangan Iben ketika berjabat tangan. Memutar ulang senyum Iben yang berhasil direkamnya dalam ingatan. Ada rasa hangat menjalari hatinya.