Laman

3 Mei 2013

Momen Baru

Sudah 3 minggu saya menjalani rutinitas baru. Aktivitas baru dengan suasana kantor baru, teman-teman baru plus job description baru. Ya, akhirnya saya memutuskan pindah kantor dengan paparan pekerjaan yang sama sekali baru untuk saya. Pekerjaan yang sejujurnya saya sendiri belum tahu bagaimana caranya supaya saya bisa menjadi expert di bidang itu, seperti (harusnya sih..) saya cukup paham bagaimana harus bertarung dengan deadline, spreadsheet, chart, dll.
Kesan Pertama
Hampir di setiap meeting koordinasi, atasan saya bertanya, “Apakah pekerjaan baru saya sudah sesuai dengan harapan?” Dan jawaban saya untuk pertanyaan itu adalah senyum. Sejujurnya, saya tidak mengharapkan atau menetapkan target apa pun ketika memutuskan bergabung (oh yeah, that’s just me). Saya menyiapkan diri saya untuk berbagai kemungkinan, karena IMHO tidak ada perusahaan/pekerjaan yang sempurna. Apalagi pekerjaan/perusahaan yang belum saya kenal. Dan saya tidak gampang percaya apa kata orang sampai saya menjalaninya sendiri.
So far, I’m happy with my new office. Ya, happy ketika (semoga) saya punya atasan yang sama baiknya dengan atasan saya sebelumnya. Happy ketika saya bisa datang dan pulang tepat waktu, dengan kata lain lemburnya jarang. Jadi, saya punya lebih banyak waktu untuk beres-beres rumah (akhirnya saya bisa berusaha sedikit menjadi housewife yang baik). Happy ketika transportasi menuju dan dari kantor ke rumah menjadi lebih mudah, walaupun tidak lebih murah :p Dan yang paling bikin happy adalah ketika menilik muka, saya dianggap anak kelahiran tahun 1986-1988. Hahaa..I’m not that young but i’ll take that as a compliment ^_^
Bagian sedihnya? Ada juga. Saya masih belum punya teman dekat. Struktur organisasi menempatkan saya sebagai single fighter yang belum punya teman satu departemen/divisi. Bergabung dengan orang dari departemen lain pun jadi sulit karena saya tidak sebegitu mudahnya ‘bergaul’. Yes, most of the time I’m just a follower not initiator. My bad. Lainnya, saya masih berjuang memahami job saya, apa yang diharapkan perusahaan, apa yang bisa saya lakukan agar performance saya bagus, dll. Saya bukan penggemar ‘instant moment’, jadi saya mudah-mudahan saya bisa menikmati proses belajarnya secara bertahap.
Rumput Lain Lebih Hijau
Godaan itu biasanya memang datangnya di saat yang tidak tepat. Justru ketika saya baru saja pindah ke kantor baru, tiba-tiba ada perusahaan lain (yang cukup diminati orang-orang di industri saya) yang memberikan offer untuk posisi yang lebih tinggi. Sayang lokasi kantornya lebih jauh dan saya sudah terikat kontrak dengan kantor baru, jadi saya menolak tawaran itu. Galau itu pasti. Sedih tidak terkira. Setengah tidak percaya juga karena ternyata masih ada juga yang tertarik mempekerjakan saya :D
Terlepas dari tawaran yang lebih menggiurkan, saya berprinsip bahwa pindah kerja seharusnya bukan semata-mata karena better benefit. Tetapi, lebih kepada menyelaraskan goals yang ingin dicapai. Untuk saat ini, (semoga) pilihan saya adalah yang terbaik (FYI, ini prosesnya udah minta restu ke suami, orang tua sampai mertua lho. Hahaa..lebay sih :p).
Kultur Baru 
Ini bukan pertama kalinya saya bekerja di perusahaan multinational. Tapi, ini pertama kalinya saya bekerja di perusahaan yang masih kental dengan kultur budaya Jepang.  Dan disini saya belajar menjadi disiplin. Datang tidak pernah terlambat, istirahat siang tidak pernah 'molor' sampai menjaga kerapian dan kebersihan meja kerja. Semuanya serba teratur dan terpola. Waktu bekerja memang efektif untuk bekerja dan bukannya sekedar main-main. Buat beberapa orang, pola ini akan terasa membosankan dan malah membunuh kreativitas. Buat saya? Entahlah. Kita lihat saja nanti.
Selain masalah kedisiplinan, saya belajar 'menghormati' orang yang lebih senior dari saya, baik secara usia maupun jabatan. Saya belajar bagaimana bertutur dan menyampaikan opini yang sopan, dengan  sikap yang sopan. Mungkin saya perlu juga membaca buku tentang etika :p
Doa
Saya tidak silau harta atau posisi. Tetapi dalam hati, saya masih selalu berdoa bahwa apa yang saya jalani akan memberi berkah & rejeki plus karir saya bisa naik lebih cepat. Sudah pasti saya tidak akan bisa mengejar karir suami yang melambung tinggi padahal usia saya hanya terpaut 2 tahun lebih muda dari dia. But at least, saya ingin ada di posisi dimana orang-orang seusia saya seharusnya berada. Amin :)