Laman

1 Feb 2016

Cerita Lalu



Teruntuk D,

Mungkinkah kau ingat juga | Atau kau lupakan semua |
 Masa-masa yang indah dulu saat kita berdua

Sepenggal lirik yang tak sengaja kudengar itu membuatku terpaksa menghembuskan napas lebih kencang. Siapa juga yang tidak jadi gloomy kalau mendengar lagu itu di saat masih harus berjuang diantara tumpukan dokumen di sebuah kafe pada malam hari? Oh, tunggu, biar kutambahkan lagi, aku sedang sendirian dan diluar hujan deras. Sungguh merana bukan nasibku?

Dulu, tidak akan mungkin aku lembur di kafe seperti ini. Kamu pasti akan mengoceh, kamu bilang buat apa lembur di kafe kalau masih bisa lembur di kantor, tidak perlu keluar uang hanya untuk memesan secangkir kopi. Tidak perlu repot memboyong dokumen dan laptop yang diperlukan untuk lembur. Semalam apa pun kamu pasti akan menemaniku. Bukan cuma menemani, tetapi juga membantu memberikan ide-ide cerdas yang kadang tak terpikirkan olehku. Ah, pantas saja aku hanya bisa menjadi Runner Up Crazy Think. Aku kalah. Oh, by the way, biar kuberitahu, tahun ini akulah pemenang Crazy Think. Akhirnya aku diakui menjadi yang paling hebat, setelah tidak ada kamu. Ya, tanpa kamu berarti sainganku hilang.

Aku melirik pelayan kafe di ujung ruangan. Tampaknya dia menikmati sekali lagu Cerita Lalu dari Indra Lesmana. Mungkin karena dia ingin ceritanya berlalu. Atau dia memang menikmati karena tempo dan liriknya cocok dengan cuaca hujan diluar? Entahlah. Yang pasti, aku tidak suka lagunya.

Kusesap hot creme brulee di depanku perlahan, sudah mulai mendingin rupanya. Kamu tentu tahu, D, aku bukan pencinta kopi. Aku baru memaksa minum kopi sejak aku suka pergi berdua denganmu. Tanpa aku sadari, aku mulai mengikuti kebiasaanmu. Pergi ke kafe, minum kopi, lalu menghabiskan waktu minimal 2 jam hanya nongkrong di kafe. Kadang kita hanya diam dan asyik berkutat dengan laptop masing-masing. Kadang kita bercerita ramai tentang segala hal. Tentangmu, tentangku, tentang keluarga, tentang teman, bahkan tentang politik picisan yang kubenci itu. Dan diantara semua cerita itu, tidak pernah sekali pun kau katakan rahasiamu padaku.

Aku kecewa, D. Bertahun bersama dan kau menutup rahasia itu begitu rapat. Kenapa D? Apakah kau pikir aku akan marah kalau tahu? Apakah pikirmu aku tidak akan bisa menerimanya? Ah ya, mungkin akhirnya kau benar, aku tidak bisa menerimanya. Aku langsung memutus semua kontak kita.

Dadaku mendadak sesak, D. Tahukah kamu, D? Setiap kali mengingatmu badanku rasanya lemas. Gabungan antara benci dan rindu. Aku mungkin membencimu. Tapi aku juga tak bisa melepaskanmu.

Aku masih merindumu.

Memang kini semua tak berarti lagi | Namun jangan kau lepas | Dan kau lupakan saja.
 
-Lana-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar