Laman

15 Feb 2016

Rasa



Dear D,

Sudah lebih dari seminggu aku tidak menulis surat padamu. Apakah ada rindu yang terselip disana? Apakah ada tanya di benakmu mengapa aku tak menulis lagi untukmu? Kalau kau pikir aku lelah dan menyerah, kau salah. Cintaku masih sekuat benteng yang terbuat dari batu cryptonite milik Superman.

Aku keluar kota kemarin. Aku perlu menenangkan diri sejenak dan jadilah aku menyingkir ke daerah yang sepi. Entahlah itu namanya sepi atau belum maju, karena resort yang kupilih hanya bisa diakses naik perahu. Itu pun setelah 3 jam perjalanan dari bandara. Belum ada listrik, jadi harus pakai generator untuk membuat penerangan sederhana. Kalau listrik saja belum ada, tidak heran juga kalau disana tidak ada sinyal bukan?

Tapi dengan begitu, aku jadi punya waktu untuk berkaca. Memutar balik semua hal yang pernah terjadi di hidupku, serta merangkai rencana apa yang akan kulakukan besok. Lalu aku sampai pada ujungnya, bahwa aku akan mencoba sekali lagi memperjuangkanmu. Semoga aku tidak terlambat, D. Aku mendadak ketakutan, D. Aku tahu pasti, rasa hati bisa berubah seiring waktu. Jadi, kumohon, D, jagalah rasamu sampai aku menujumu.

Tuhan Maha Baik. Dia langsung mendengar doaku. Tebak aku bertemu siapa? Aku ketemu sepupumu, Matthew, di Changi. Kami sama-sama sedang menunggu connecting flight. Kami bercerita banyak sampai akhirnya topik tentangmu muncul juga. Niat baik biasanya selalu direstui Tuhan, D. Matthew memberiku hint di belahan dunia mana kamu tinggal. Jangan marahi dia ya, D. Itu semua karena aku memaksanya dan dia tidak tega.

Jadi, tunggu aku, D.

Aku masih merindumu.

-Lana-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar